Putra Mahkota Arab Saudi Janjikan Investasi Rp16.700 Triliun di AS Saat Bertemu Trump

Kunjungan ini berlangsung setelah presiden Trump menyatakan rencana untuk menyetujui penjualan jet siluman F-35 ke Arab Saudi

EtIndonesia— Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menyatakan dalam pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 18 November bahwa ia akan meningkatkan kemitraan investasi dengan Amerika Serikat dari sebelumnya Rp9.600 triliun (setara USD 600 miliar) menjadi Rp16.000 triliun (USD 1 triliun).

Putra mahkota mengatakan kepada wartawan bahwa pengumuman resmi terkait komitmen investasi baru itu akan disampaikan hari ini dan besok. Investasi tersebut akan difokuskan pada apa yang ia sebut sebagai “peluang nyata” di bidang seperti kecerdasan buatan dan teknologi magnet.

Trump menyambut baik komitmen tersebut. “Saya senang Anda menyampaikannya. Saya tidak ingin menjadi orang yang mengumumkannya duluan, tapi itu kabar yang sangat baik,” ujarnya.

Bin Salman menjawab sambil tersenyum, “Anda terus meningkatkannya, Tuan Presiden, setiap kali peluangnya semakin besar.”

Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama putra mahkota ke Gedung Putih dalam tujuh tahun. Trump menyambut kedatangannya dengan upacara resmi di South Lawn, termasuk atraksi terbang enam jet tempur AS—tiga F-35 dan tiga F-15.

Setelah upacara, Trump mengajak putra mahkota menyusuri “Presidential Walk of Fame” yang baru ia buat di sepanjang West Wing Colonnade.

Keduanya dijadwalkan membahas berbagai isu bilateral dan regional dalam pertemuan di Oval Office, yang kemudian dilanjutkan dengan makan siang resmi di Cabinet Room. Pada malam hari, presiden dan ibu negara menggelar jamuan makan malam kenegaraan di East Room.

Kementerian Luar Negeri Saudi dalam unggahan di X pada 17 November menyatakan bahwa putra mahkota, yang dikenal luas sebagai MBS, akan bertemu Trump untuk membahas hubungan bilateral, memperkuat kerja sama di berbagai sektor, serta isu-isu yang menjadi perhatian bersama.

Kunjungan kerja itu dilakukan sehari setelah Trump menyatakan niatnya untuk menyetujui penjualan jet tempur siluman F-35 Lightning II ke Arab Saudi, yang akan secara signifikan meningkatkan kemampuan militer kerajaan tersebut.

Berbicara di Oval Office, Trump mengatakan, “Saya berencana menyetujuinya. Mereka adalah sekutu yang hebat … kami akan menjual F-35.”

Dalam diskusi panel bersama Carnegie Endowment for International Peace pada 17 November, mantan Duta Besar AS untuk Arab Saudi Michael Ratney menilai pembelian F-35 dapat berbenturan dengan tujuan jangka panjang Riyadh yang ingin membangun industri pertahanan domestik.

Ratney mengatakan bahwa Saudi mungkin lebih menginginkan kemitraan keamanan jangka panjang dengan Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa Trump bisa saja menawarkan pakta keamanan melalui perintah eksekutif, sebagaimana ia lakukan dengan Qatar, namun memperingatkan bahwa pakta semacam itu—yang tidak setara dengan perjanjian yang diratifikasi Senat—dapat goyah setelah Trump meninggalkan jabatan.

“Saya kira pada dasarnya mereka menginginkan sesuatu yang jangka panjang dan dapat diprediksi,” kata Ratney.

Belum jelas apakah Trump akan mengaitkan penjualan tersebut dengan kesediaan Saudi bergabung dalam Abraham Accords—perjanjian normalisasi yang ditandatangani pada 2020 antara Israel dan beberapa negara Arab.

Pekan lalu, Trump mengatakan ia yakin Arab Saudi dapat bergabung “dalam waktu relatif dekat” seiring upaya Washington memperkuat gencatan senjata Gaza dan mendorong stabilitas kawasan.

Riyadh secara terbuka menegaskan bahwa normalisasi dengan Israel bergantung pada “kemajuan konkret” menuju pembentukan negara Palestina, sebuah syarat yang ditolak oleh pemerintahan Israel saat ini.

Duta Besar Saudi untuk AS, Reema Bandar Al-Saud, menyebut kunjungan putra mahkota itu dalam unggahan di X pada 17 November sebagai “babak baru dan penuh harapan dalam hubungan Saudi–AS … yang terus meningkatkan kesejahteraan rakyat kedua negara, memperkuat masa depan bersama, dan berkontribusi positif bagi stabilitas global.”

Kunjungan tersebut berlangsung setelah Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi rancangan AS pada 16 November yang mendukung rencana gencatan senjata Gaza dari Trump. Arab Saudi sebelumnya telah menyatakan dukungannya terhadap resolusi itu.

Usai bertemu Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan pejabat AS lainnya, Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman Al Saud mengatakan pekan lalu, “Kami meninjau hubungan Saudi–AS dan mencari cara untuk memperkuat kerja sama strategis.”

Arab Saudi tetap menjadi mitra dagang utama AS di Timur Tengah, dengan nilai investasi Saudi sebesar sekitar Rp152 triliun pada 2023, menurut Gedung Putih.

Pada 2024, perdagangan barang Saudi–AS mencapai sekitar Rp414,4 triliun, dengan ekspor AS senilai Rp211,2 triliun, impor Rp203,2 triliun, dan surplus perdagangan sebesar Rp7 triliun, menurut data Gedung Putih.

Kunjungan ini juga menjadi yang pertama sejak pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi pada 2018 di Istanbul.

Khashoggi, penduduk AS dan kolumnis Washington Post yang mengkritik kebijakan putra mahkota, dibunuh dan dimutilasi oleh tim operasi yang dikaitkan dengan MBS pada Oktober 2018 di konsulat Saudi di Istanbul.

Laporan Kantor Direktur Intelijen Nasional AS pada Februari 2021 menyatakan, “Kami menilai bahwa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menyetujui operasi di Istanbul, Turki, untuk menangkap atau membunuh jurnalis Saudi Jamal Khashoggi.”

Riyadh membantah keterlibatan putra mahkota, namun MBS mengakui bertanggung jawab sebagai pemimpin de facto kerajaan. (***)


INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine