Festival belanja “Double 11” di Tiongkok yang berlangsung lebih dari satu bulan akhirnya berakhir. Namun, banyak pelaku e-commerce menyebut tahun ini sebagai yang paling panjang sekaligus paling suram. Penjualan lesu, ditambah pemberlakuan pajak pertambahan nilai (PPN), tingginya tingkat pengembalian barang, dan maraknya denda platform, telah memicu gelombang kebangkrutan baru setelah perayaan belanja tersebut selesai.
EtIndonesia. Tahun ini, berbagai platform belanja memulai kampanye Double 11 sejak awal Oktober, jauh lebih awal dari biasanya. Namun karena minat belanja konsumen tidak meningkat, banyak platform kembali memperpanjang periode promo, membuatnya menjadi Double 11 terpanjang dalam sejarah.
Banyak penjual online yang mengikuti program promo resmi dari platform berharap penjualan akan melonjak, tetapi kenyataannya volume penjualan tetap datar. Biaya promosi yang dibayarkan kepada platform pun menjadi sia-sia. Video yang beredar di media sosial menunjukkan bahwa volume paket di perusahaan ekspedisi dan logistik anjlok drastis, jauh di bawah tahun-tahun sebelumnya.
Seorang penjual e-commerce asal Zhejiang, Tuan Zhang, mengeluhkan bahwa promosi Double 11 justru membuatnya merugi:
“Saya ikut program Double 11, tapi rugi. Akhirnya saya batalkan. Platform kasih diskon 15% pun tidak ada pengaruh. Harga sudah murah, tapi pesanan tidak naik. Setelah perang harga seperti ini, tidak ada yang dapat untung. Makin lama makin kecil skalanya. Setelah Double 11, ada beberapa toko yang mulai menaikkan harga, lalu semua ikut naik.”
Di Hangzhou, pemilik ratusan toko online, Tuan Chen, mengalami situasi yang lebih berat. Biasanya Double 11 membawa lonjakan pesanan, tetapi tahun ini jumlah pesanan sama seperti hari biasa. Banyak karyawan kehilangan bonus dan memilih berhenti, memaksa Chen menutup sebagian tokonya.
“Double 11 tahun ini lebih buruk dari tahun lalu. Harga sudah dipangkas, semua promo sudah jalan, tapi tetap tidak ada peningkatan. Saya hanya jual pakaian wanita, bulan ini saja sudah ada lebih dari 20 ribu pesanan yang dikembalikan, tingkat retur lebih dari 60%. Banyak orang tidak sanggup bertahan. Perang harga makin gila. Aturan e-commerce berubah cepat, pajak e-commerce naik, biaya operasional naik. Semakin besar perusahaan, semakin besar tekanan. Sangat mudah tumbang.”
Usai Double 11, Gelombang Kebangkrutan Baru Terjadi
Pelaku e-commerce menilai bahwa kebijakan platform yang semakin tidak bersahabat menjadi penyebab terbesar kehancuran ini. Denda yang dianggap semena-mena, aturan “refund tanpa syarat”, dan sistem “refund tanpa pengembalian barang” menyebabkan kerugian besar. Selain itu, sejak kuartal ketiga tahun ini, pemerintah mulai menerapkan PPN, sehingga penjual terpaksa menaikkan harga, namun konsumen tidak mampu membeli karena ekonomi lesu.
Seorang penjual dari Shandong, Tuan Li, mengungkapkan: “Jangan masuk e-commerce sekarang. Aturan makin banyak. Setiap aturan baru muncul, pasti ada banyak penjual yang tersapu. Dendanya sangat parah. Dana toko bisa dibekukan. Saya tidak sanggup lagi. Banyak yang sudah tutup toko.”
Penjual dari Hebei, Tuan Wang, juga menyoroti masalah struktural yang semakin parah: “90% masalah datang dari platform. Hampir semua penjual tidak lagi sanggup bertahan. Dua tahun ini perang harga terlalu brutal. Siapa yang tidak punya rantai pasok stabil atau tidak berada di kawasan produksi langsung tersingkir. Yang hanya mengambil barang dari internet, sudah habis semua.” (jhon)
Sumber : NTDTV.com


