EtIndonesia. Pada masa Perang Dunia II, pasukan Nazi Jerman menyerbu kampung halaman Zaback — sebuah kota kecil miskin di Polandia bagian selatan. Mereka membakar, membantai, dan mengusir penduduk Yahudi setempat. Jalanan penuh pengungsi kurus kering, dan tubuh-tubuh tak bernyawa akibat kelaparan tergeletak di mana-mana.
Zaback adalah seorang pedagang Yahudi yang baru saja menikah dan memiliki anak. Demi ibu tua dan keluarga kecil yang dia cintai, dia terpaksa tetap keluar rumah setiap hari untuk berdagang, meski risikonya sangat besar. Namun suatu hari, nasib buruk menghampirinya. Dalam perjalanan pulang, dia ditangkap tentara Nazi — hanya karena dia menatap mereka dengan tatapan jijik.
Zaback kemudian dikirim ke sebuah kamp konsentrasi yang memaksa para tahanan membangun rel kereta di dalam hutan lebat. Sejak tiba di sana, pikirannya tak pernah tenang. Dia terus memikirkan ibu, istri, dan anaknya di rumah. Dia tahu dia harus keluar dari tempat itu secepat mungkin — dia harus melarikan diri.
Dia bertanya pada para tahanan yang lebih lama tinggal di sana. Namun mereka hanya menertawakannya.
“Dari tempat seperti ini,” kata mereka, “tak pernah ada yang keluar hidup.”
Hutan itu penuh nyamuk besar yang membawa penyakit. Setiap hari mereka menggigit para tahanan tanpa ampun. Penyakit, kelaparan, dan kerja paksa yang kejam membuat para tahanan tewas satu per satu. Setiap kali seseorang mati, tentara Nazi memerintahkan beberapa tahanan lain untuk membuka baju mayat tersebut agar bisa dipakai oleh tahanan lain. Setelah itu, tubuh korban dilempar ke sebuah lubang besar di dalam hutan — lubang khusus untuk menumpuk mayat.
Di dalam lubang itu, ratusan mayat sudah berserakan, menggunung secara acak. Bagi para tahanan, itu adalah neraka. Simbol keputusasaan dan akhir kehidupan.
Para tahanan berkata kepada Zaback: “Tak ada yang bisa keluar hidup-hidup dari sini. Satu-satunya tempat kita berakhir… adalah lubang itu.”
Suatu hari, dua orang tahanan dari sel Zaback meninggal. Tentara memerintahkan empat orang untuk mengangkut kedua mayat tersebut, dan Zaback termasuk di antaranya. Mereka dibawa dengan truk ke tepi lubang mayat.
Ketika mereka melemparkan kedua tubuh itu, seorang tahanan yang dulu menertawakan mimpinya berbisik putus asa: “Kamu lihat itu? Itulah akhir nasib kita. Berhenti bermimpi dan patuh saja. Setidaknya kamu bisa hidup beberapa hari lebih lama.”
Kembali ke barak, Zaback berbaring dan kembali memikirkan ibu dan keluarganya. Gambaran mereka seperti bara api yang memberi kekuatan dan keberanian. Dia tahu dia harus keluar dari tempat itu. Tapi bagaimana?
Tiba-tiba dia teringat lubang mayat itu — tempat yang hanya membawa putus asa bagi semua orang.
Namun dalam hatinya muncul sebuah ide…
Beberapa hari kemudian, kesempatan itu datang.
Tepat saat hari mulai gelap dan para tahanan akan berhenti bekerja, lokasi mereka tampak tak jauh dari lubang mayat tersebut.
Zaback memanfaatkan momen itu. Dengan nekat, dia merayap masuk ke dalam lubang melepaskan semua pakaiannya, lalu bersembunyi di bawah tumpukan mayat, berpura-pura mati.
Dia menahan bau busuk yang menusuk hidung, gigitan nyamuk, dan rasa takut yang luar biasa — tetapi ia tidak bergerak sedikit pun.
Tentara Nazi mencari dirinya ke mana-mana, namun tidak pernah menyangka seseorang akan bersembunyi di neraka itu.
Saat malam semakin larut dan keadaan hening, Zaback memastikan tidak ada orang di sekitar. Dia keluar dari lubang, mengenakan kembali pakaiannya, dan berlari sepanjang malam. Dia berlari sejauh 70 kilometer tanpa berhenti, sampai akhirnya dia tiba kembali di rumahnya.
Beberapa waktu kemudian, wabah penyakit mematikan melanda kamp konsentrasi itu. Dalam hitungan hari, seluruh tahanan dan para tentara pun tewas. Hanya Zaback yang selamat — satu-satunya orang yang pernah keluar hidup-hidup dari tempat itu.
Bertahun-tahun kemudian, Zaback berkata kepada orang-orang: “Tidak ada keputusasaan yang benar-benar mutlak. Kadang, justru di dalam situasi paling gelaplah tersimpan peluang untuk hidup — tergantung apakah kita memilih untuk bersikap positif dan terus berusaha.” (jhn/yn)


