EtIndonesia. Ada seorang lelaki tua yang membeli sebidang tanah tandus—rumput liar tumbuh di mana-mana, tidak ada seorang pun yang meminatinya.
Setiap pagi pukul enam, lelaki tua itu mulai bekerja: mencabut rumput, menggemburkan tanah, menabur benih, menyiram air, memberi pupuk, dan menangkap hama. Dia bekerja tanpa henti hingga matahari tenggelam — benar-benar hidup dengan ritme berangkat saat matahari terbit, pulang saat matahari terbenam.
Setelah setengah tahun bekerja keras, tanah gersang itu berubah total. Tempat yang dulu penuh rumput liar kini dipenuhi bunga-bunga dan pohon-pohon yang indah dan berwarna-warni.
Taman bunga itu menarik banyak orang. Orang-orang datang, memuji, dan tak henti-henti mengagumi keindahannya.
Suatu hari, seorang pengunjung berkata kepada lelaki tua itu: “Pak, kebun Anda sungguh menakjubkan! Saya sangat iri. Sepertinya Tuhan benar-benar memberkati Anda.”
Lelaki tua itu tersenyum dan menjawab dengan tenang: “Mungkin memang begitu, Tuhan memberkati saya. Tapi apakah Anda tahu bahwa setiap pagi jam enam saya sudah bekerja, dan baru berhenti ketika hari sudah gelap?”
Renungan untuk Dunia Kerja
Ketika melihat orang lain naik panggung, menerima penghargaan, atau bercerita tentang perjalanan sukses mereka, jangan hanya iri; sadari juga harga yang telah mereka bayar.
Di balik setiap keberhasilan, ada kerja keras yang panjang, ada keringat, pengorbanan, dan ketekunan.
Kesuksesan bukan terjadi dalam sehari. Kuncinya ada pada persiapan sehari-hari, usaha yang konsisten, dan kerja yang tidak terlihat oleh orang lain.
Karena buah manis selalu tumbuh dari tanah yang dibajak dengan sabar. (jhn/yn)


