EtIndonesia. Pada delegasi tinggi dari United States Army (Angkatan Darat AS), yang dipimpin oleh Menteri Angkatan Darat AS Michael E. Driscoll dan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal James C. McConville (Catatan: beberapa laporan mencatat Jenderal Randy A. George sebagai pejabat tinggi militer AS yang terlibat) tiba di ibu kota Ukraina.
Kunjungan ini dilakukan untuk bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan pejabat militer Kyiv, sambil membawa sebuah rencana perdamaian baru hasil diskusi antara AS dan Rusia.
Pada saat yang sama, Kyiv menghadapi ancaman nyata: intelijen Ukraina memperingatkan kemungkinan serangan gabungan besar-besaran dari Rusia dalam kurun “48 jam ke depan”.
Rencana Perdamaian 28 Poin
Menurut laporan pertama dari media AS, terutama Axios, pemerintah AS — dalam koordinasi dengan Rusia — telah menyusun kerangka perdamaian yang terdiri dari 28 poin. Kerangka tersebut mencakup empat blok besar: perdamaian di Ukraina, jaminan keamanan Ukraina, keamanan Eropa secara keseluruhan, dan masa depan hubungan AS-Rusia serta hubungan AS-Ukraina.
Beberapa poin penting yang dilaporkan mencakup:
· Jaminan keamanan bagi Ukraina, namun bersyarat.
· Pengaturan ulang hubungan AS–Rusia yang memberi perhatian terhadap kepentingan keamanan Moskow.
· Pengaturan status keamanan Eropa, termasuk kemungkinan pembatasan aliansi militer atau kehadiran militer asing di wilayah Ukraina.
· Tuntutan agar Ukraina melepas atau merestrukturisasi sebagian senjata dan mencabut beberapa posisi strategis, termasuk wilayah yang diduduki Rusia.
Rusia sendiri menegaskan bahwa proposal tersebut “berdasarkan prinsip yang dibahas di Alaska pada Agustus lalu” antara Presiden Donald J. Trump dan Presiden Vladimir Putin.
Sementara itu, Ukraina — melalui pejabat di kabinet Zelenskyy — menyatakan bahwa Kyiv tidak terlibat langsung dalam penyusunan rancangan 28 poin tersebut, dan menyoroti ketiadaan kejelasan bagaimana isu wilayah yang kini diduduki Rusia akan diselesaikan. Beberapa media, seperti Politico dan Financial Times, juga melaporkan bahwa AS mempertimbangkan syarat agar Ukraina melepaskan sebagian wilayah dan senjata tertentu agar perang dapat dihentikan.
Kunjungan Militer AS ke Kyiv & Pertemuan Diplomatik
Delegasi militer AS tiba di Kyiv pada 19 Oktober 2025 sebagai bagian dari misi intelijen dan diplomatik yang lebih luas untuk mendukung proses perdamaian — sekaligus mengirim sinyal kepada Rusia agar merespon upaya mediasi AS secara lebih konstruktif. Menurut sumber, Driscoll dijadwalkan bertemu pejabat Rusia dalam kunjungan mendatang sebagai bagian dari rangkaian pembicaraan. (Tanggal pastinya belum diumumkan secara resmi.)
Dalam waktu yang bersamaan, Presiden Zelenskyy dijadwalkan menuju Turki untuk bertemu Presiden Recep Tayyip Erdogan dan utusan AS. Namun, Zelenskyy menolak bertemu dengan utusan AS terkait rencana perdamaian tersebut — ini menandakan penolakan secara terbuka dari Ukraina terhadap kerangka yang dirancang tanpa keterlibatan penuh Kyiv. Ukraina juga membawa alternatif rencana bersama mitra Eropa — yang menurut pejabat AS dianggap tidak akan disetujui Rusia.
Ancaman Serangan Rusia & Tanda-Tanda Eskalasi
Sejak akhir 2023 hingga 2025, Rusia terus meningkatkan serangan drone dan rudal ke Ukraina, termasuk target infrastruktur energi dan wilayah barat yang sebelumnya kurang terpapar. Contoh terkini: pada 19 November 2025 (lebih lanjut dari tanggal 19 Oktober yang disampaikan), Rusia melancarkan serangan masif di wilayah barat Ukraina, dengan korban tewas sedikitnya 25 orang dan lebih dari 90 luka-luka.
Laporan intelijen Ukraina menyebut bahwa Rusia telah memindahkan bombardir strategis jenis Tu‑95MS dari kawasan Timur Jauh menuju pangkalan dekat Eropa, serta menyiagakan kapal peluncur rudal hipersonik — sinyal bahwa Rusia bersiap untuk melancarkan “gelombang serangan” ke Ukraina dalam 48 jam ke depan.
Lebih lanjut, pada 18 November 2025, AS menyetujui penjualan suku cadang sistem pertahanan udara Patriot PAC‑3 senilai US$105 juta kepada Ukraina – sebagai upaya memperkuat pertahanan udara Ukraina di tengah meningkatnya ancaman.
Analisis dan Implikasi
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan tiga tren yang saling terkait:
1. Upaya diplomatik AS untuk merumuskan solusi perdamaian yang lebih luas — tidak hanya bagi Ukraina tetapi juga keamanan Eropa dan relasi AS–Rusia.
2. Ketidakpuasan Ukraina terhadap kerangka yang dianggap “dibuat tanpa mereka” dan cenderung mengakomodasi tuntutan Rusia.
3. Eskalasi militer Rusia yang agresif – dengan serangan di wilayah barat Ukraina dan pengembangan kemampuan strategis – yang memberikan tekanan tambahan bagi Kyiv dan mitra Barat.
Bagi Ukraina, menerima kerangka 28 poin berarti harus membuat konsesi besar — termasuk kemungkinan kehilangan wilayah atau pembatasan militer — yang dikhawatirkan sebagai “kapitulasi”. Rusia, di sisi lain, tampak belum siap untuk menerima solusi yang tidak mencerminkan tuntutannya: menarik Ukraina dari keanggotaan NATO, pengakuan wilayah yang diduduki, atau pembatasan militer Ukraina.
Pertanyaan Utama
Apakah Ukraina akan menerima rencana 28 poin tersebut? Jawabannya saat ini tampak “tidak” — Kyiv sudah menolak bertemu utusan AS terkait kerangka itu dan membawa alternatif sendiri.
Apakah Presiden Putin sungguh ingin menghentikan perang? Analisis intelijen menunjukkan bahwa Kremlin, meskipun berada di tekanan finansial (contoh: perusahaan LNG Rusia menurunkan harga 30-40 % akibat penurunan permintaan) — tetap memilih mempertahankan perang karena khawatir tekanan domestik jika berhenti terlalu cepat. (***)


