EtIndonesia. Sebuah laporan investigatif terbaru dari The Epoch Times mengungkapkan bahwa Biro Kesepuluh—unit paling misterius dalam Kementerian Keamanan Negara (MSS) Tiongkok—telah mengalami perubahan fungsi besar: dari divisi intelijen teknologi menjadi pusat operasi global yang secara khusus memantau diaspora Tionghoa dan para pembangkang di luar negeri. Diperkirakan sekitar 40.000 agen telah ditempatkan di berbagai negara, bergerak melalui identitas diplomatik, media, pebisnis, akademisi, hingga wisatawan.
Para pakar menilai bahwa informasi ini sangat penting bagi negara-negara Barat dan bagi warga Tionghoa di luar negeri, serta menjadi peringatan untuk lebih waspada terhadap kemungkinan keberadaan agen–agen Partai Komunis Tiongkok (PKT) di sekitar mereka.
Transformasi Biro Kesepuluh: dari Intel Teknologi ke Mesin Pengawasan Global
Dalam laporan eksklusif tersebut dijelaskan bahwa Biro Kesepuluh awalnya beroperasi sebagai “Biro Intelijen Teknologi,” fokus pada pengumpulan data ekonomi dan teknologi dari Barat. Namun setelah Tragedi Tiananmen 1989, mandat biro ini berubah secara drastis: mengawasi personel Tiongkok di lembaga luar negeri, mahasiswa Tiongkok di negara lain, serta memantau dan menyusup ke organisasi anti-komunis di berbagai belahan dunia.
Menurut laporan itu, jaringan Biro Kesepuluh kini tersebar di komunitas Tionghoa global, dengan total sekitar 40.000 agen yang bekerja dengan kedok beragam: diplomat, jurnalis, akademisi, pengusaha, hingga warga biasa yang bepergian.
“Kementerian Keamanan Negara menjadikan operasi luar negeri sebagai medan pertempuran terpenting. Terutama Biro Kesepuluh—tugas utamanya memang berpusat pada aktivitas di luar negeri, terutama pengawasan,” kata seorang mantan agen rahasia Kementerian Keamanan Publik Tiongkok, Eric.
Dua Jalur Penetrasi: ‘Soft Power’ dan Aksi Tersembunyi
Dalam aktivitas untuk menekan, mengintimidasi, atau merusak gerakan pembangkang di luar negeri, Biro Kesepuluh bekerja paralel dengan Departemen Pekerjaan Penyatuan (United Front Work Department). Namun metode keduanya berbeda.
United Front memakai cara “lunak”:
— kegiatan budaya
— perkumpulan komunitas
— jaringan bisnis
— diplomasi sosial
Sebaliknya, Biro Kesepuluh bergerak dalam bayang-bayang: memata-matai, mencatat, menekan, dan ketika diperlukan melakukan operasi rahasia.
Eric mengungkapkan: “Selain pemantauan, mereka juga mengambil langkah aktif lain, termasuk pencurian informasi, serangan siber, tekanan pribadi, provokasi, dan upaya memecah belah di dunia maya. Semua itu dilakukan demi satu tujuan: mengawasi dan menghancurkan aktivitas anti-PKT di luar negeri.”
Aksi Ekstrem: Dari Peretasan hingga Penculikan Lintas Batas
Laporan itu juga menyebut bahwa Biro Kesepuluh memiliki kewenangan ekstrem: melakukan penculikan lintas negara, suatu tindakan yang jelas melanggar hukum internasional dan hukum domestik negara setempat.
Contoh operasi yang diungkap:
- Menekan keluarga pembangkang yang masih berada di Tiongkok.
- Menyerang grup WeChat para mahasiswa di Kanada yang merencanakan aksi protes, melalui peretasan oleh unit siber.
- Menggunakan informan internal untuk menyampaikan rencana kegiatan lawan sebelum berlangsung.
Mempengaruhi Kebijakan Luar Negeri Negara Lain
Selain operasi penyusupan dan intimidasi, Biro Kesepuluh juga dapat memengaruhi kebijakan diplomatik Tiongkok. Ketika mereka melaporkan bahwa sebuah kelompok pengasingan di suatu negara berencana melakukan aksi anti-komunis, Beijing dapat segera menyesuaikan pendekatan diplomatiknya—baik berupa tekanan politik maupun iming-iming ekonomi agar negara tersebut membatasi aktivitas kelompok itu.
Peringatan bagi Komunitas Tionghoa dan Negara Barat
Para analis menilai bahwa temuan ini sangat penting bagi negara-negara demokratis dan seluruh komunitas Tionghoa di luar negeri.
Li Hengqing, ekonom dari Washington Institute for Information and Strategy, mengatakan: “Yang paling penting setelah terbongkarnya informasi ini adalah agar warga Tionghoa di luar negeri mulai waspada. Perhatikan lingkungan sekitar: apakah ada seseorang yang bekerja untuk rezim komunis sebagai agen atau perantara.”
‘Organisasi dengan Jiwa Jahat’
Yuan Hongbing, pakar hukum asal Tiongkok yang kini berada di Australia, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa PKT “adalah organisasi politik seperti mafia yang memiliki jiwa jahat” dan menjadi musuh dunia bebas serta umat manusia.
Ia menambahkan bahwa rezim komunis Tiongkok sedang berada dalam krisis besar. Karena itu, ia memperingatkan:
“Para agen dan mata-mata yang masih mengikuti PKT—jika tidak segera memutus hubungan, maka akhir mereka akan menjadi yang paling tragis.” (jhon)


