EtIndonesia. Kabut asap (smog) di India kembali memburuk. Pada Rabu, 19 November, Indeks Kualitas Udara (AQI) di ibu kota New Delhi mencapai 239, yang termasuk kategori “sangat tidak sehat”. Beberapa wilayah bahkan mencatat angka 400, yaitu level “berbahaya”. Para dokter memperingatkan bahwa polusi ekstrem semacam ini dapat memperpendek usia harapan hidup masyarakat.
Apa yang terlihat seperti kabut pagi ternyata bukan fenomena alam, melainkan lapisan smog pekat yang menyelimuti New Delhi. Warga setiap hari harus berhadapan dengan debu konstruksi, asap kendaraan, dan asap pembakaran yang terus-menerus menambah polusi udara.
Hakim, warga New Delhi: “Polusi di sini sangat parah. Mata menjadi merah, sulit bernapas, dan sering batuk. Dahak yang keluar penuh debu. Benar-benar menyiksa.”
New Delhi termasuk dalam 10 kota paling tercemar di dunia. Menurut data terbaru perusahaan pemantau kualitas udara global IQAir, hingga pukul 19.30 waktu setempat, kadar polutan tercatat 338, dengan PM10 sebagai polutan utama—angka yang sudah masuk kategori “berbahaya”.
Para ahli memperingatkan bahwa kondisi ini bisa memicu berbagai masalah serius seperti iritasi kulit, gangguan mata dan hidung, hingga risiko stroke.
Anant Mohan, Asisten Profesor di AIIMS New Delhi: “Orang yang sebelumnya sehat mulai jatuh sakit, sementara pasien dengan penyakit bawaan kondisinya memburuk. Banyak yang harus dirawat di rumah sakit dan beberapa berada dalam kondisi mengancam nyawa. Kami melihat ini terjadi setiap hari.”
Pakar lain juga menambahkan bahwa jika kasus penyakit paru-paru dan jantung terus meningkat, maka usia harapan hidup masyarakat akan semakin menurun. (jhon)
Sumber : NTDTV.com


