Kisah Inspiratif — Beternak Ikan di Padang Gurun


EtIndonesia.
Gurun Negev di Israel mungkin tidak setenar Gurun Mu Us di Tiongkok atau Gurun Sahara di Afrika, namun wilayahnya luas, tandus, dan hampir tidak ada makhluk hidup yang dapat bertahan di sana. Semua orang tahu bahwa Israel adalah negara kecil yang selalu dikelilingi konflik, terutama dengan Palestina karena perebutan tanah. Meski demikian, Israel justru memiliki pertanian dan peternakan yang sangat maju. Dan yang lebih mengejutkan, meskipun danau serta sungai mereka sangat sedikit, negara kecil ini menjadi salah satu negara pengekspor produk perikanan!

Apakah ikan-ikan itu jatuh dari langit?

Ternyata tidak. Orang Israel yang terkenal kreatif menggunakan padang gurun yang “mati” sebagai tempat budidaya ikan dan udang. Hal ini begitu mencengangkan hingga UNEP (United Nations Environment Programme) menuliskan dalam laporan Global Desert Outlook bahwa gurun ternyata menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa besar.

Pelopor Gila yang Mendirikan Peternakan Ikan di Gurun

Tokoh pertama yang memelopori budidaya ikan di gurun adalah Alef. Dia mendirikan perusahaan perikanan yang dinamai sesuai namanya—Perusahaan Perikanan Alef. Berbasis di padang gurun, usahanya berkembang pesat dan dalam waktu sekitar sepuluh tahun menjadi perusahaan budidaya air terbesar di Israel. Dia bahkan mendirikan lembaga penelitian budidaya ikan gurun, satu-satunya di dunia.

Apa yang membuat Alef terpikir melakukan hal “gila” seperti beternak ikan di gurun?

Sebuah “Petaka” yang Mengubah Hidup

Sebelum terjun ke gurun, Alef sebenarnya sudah bekerja di kampungnya sebagai peternak ikan. Namun karena kondisi terbatas, usahanya tak pernah bisa besar. Ditambah lagi, perang dengan Palestina kerap meledak tiba-tiba, dan kolam-kolam ikannya sering ikut rusak.

Suatu hari, Alef pergi berwisata ke Gurun Negev dan tersesat. Dia terombang-ambing di tengah gurun selama tiga hari tanpa makanan dan air. Dehidrasi menjadi ancaman terbesar. Dalam keadaan putus asa, dia berharap menemukan sedikit air.

Keberuntungan datang. Di hadapannya muncul sebuah danau kecil di tengah gurun—airnya jernih, walau rasanya sangat pahit dan asin. Demi bertahan hidup, dia tetap meminumnya.

Pengalaman hidup-mati itu menjadi titik balik.

Dia berpikir: “Jika di gurun tandus ini ada danau tersembunyi, bukankah mungkin masih ada yang lain? Dan kalau ada air, bukankah bisa dipakai untuk beternak ikan?”

Dia mengutarakan idenya, tapi keluarganya menganggapd dia linglung akibat teror di gurun.

“Kalau gurun bisa dipakai untuk ternak ikan,” kata mereka, “mengapa dari dulu tidak ada orang melakukannya?”

Mimpi yang Ditertawakan Semua Orang

Alef mulai mencari semua informasi tentang beternak ikan di gurun. Hasilnya: nol besar. Di seluruh dunia, belum ada satu pun orang yang pernah melakukan budidaya ikan di gurun.

Dia kemudian pergi ke Fakultas Perikanan Universitas Ibrani untuk meminta pendapat.

Jawaban para profesor: “Kami hanya meneliti budidaya normal. Budidaya ikan di gurun? Kami belum pernah memikirkannya.”

Kecewa, tetapi tidak menyerah, Alef terus memikirkan satu hal: “Air tetaplah air. Jika laut yang asin bisa menjadi rumah jutaan ikan, mengapa danau gurun tidak?”

Dia kembali ke danau itu untuk meneliti. Namun dia tidak menemukan seekor ikan pun. Setelah diuji, ternyata airnya memiliki kadar garam tinggi, dan rasanya sangat pahit.

Ini justru membuatnya yakin: kondisi ini mirip dengan laut—tempat ikan hidup dengan sangat baik.

Eksperimen Gila: Membawa Bibit Ikan ke Gurun

Dia akhirnya nekat membeli bibit ikan dan membawanya ke salah satu genangan air di gurun. Dia melepas bibit itu dan kembali berbulan-bulan kemudian.

Hasilnya membuatnya tertegun: Ikan-ikan itu tumbuh lebih besar dan lebih gemuk daripada ikan yang dia pelihara di kolam rumahnya.

Alef pun mengajukan izin untuk memanfaatkan wilayah gurun tersebut. Karena tanah gurun tidak dianggap bernilai oleh siapa pun, dia mendapatkannya secara gratis.

Kesuksesan Besar dari Tempat Paling Mustahil

Bisnis Alef berkembang pesat. Ikan-ikannya diberi label produk hijau gurun—alami, tanpa polusi, dan sehat. Produk tersebut melesat di pasar dan selalu kekurangan pasokan.

Berkat reputasi itu, dia mendaftarkan merek dagang bertema gurun, yang membuat harga ikannya melonjak 20% lebih tinggi dibanding produk biasa.

Dalam waktu singkat, banyak orang Israel mengikuti jejaknya.

“Beternak ikan di gurun” menjadi tren nasional.

Pesan Alef yang Menggetarkan Dunia

Ketika ditanya bagaimana dia bisa berhasil, Alef berkata: “Bagi sebagian orang, gurun hanyalah gadis buruk rupa yang tidak pernah dianggap. Di mata mereka, gurun adalah tempat yang mustahil memberi hasil. Tapi selama kamu berani membayangkan, kamu bisa melakukannya. Selama kamu mau bertindak, segalanya menjadi mungkin.” (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine