EtIndonesia. Bertahun-tahun pengamatan menunjukkan bahwa dalam lomba maraton, para pemenangnya justru lebih banyak berasal dari kelompok pelari yang mengikuti dari belakang, bukan pelari yang sejak awal memimpin di depan. Hasil ini memang tampak membingungkan, tetapi jika dipikirkan lebih dalam, hal itu tidak mengherankan.
Dalam maraton, yang dibutuhkan bukan hanya kecepatan, tetapi daya tahan jangka panjang.Pelari yang memimpin di depan harus mengeluarkan energi lebih besar, memikul tekanan mental lebih berat, dan memiliki pandangan yang lebih terbatas. Selain itu, strategi mereka mudah ditebak oleh lawan.
Sebaliknya, pelari yang mengikuti dari belakang lebih tenang, memiliki sudut pandang lebih luas, strateginya tersembunyi, dan tanpa disadari bisa menghemat tenaga. Ketika waktu yang tepat tiba, mereka dapat meledak dengan satu serangan dan menyalip pemimpin lomba dalam sekali hentakan.
Dunia Bisnis dan Maraton — Jauh Tapi Serupa
Sekilas tidak ada hubungan antara dunia bisnis dan maraton, tetapi keduanya memiliki kemiripan yang mencengangkan.
Perusahaan IBM (International Business Machines) memiliki strategi pemasaran unik: mereka tidak terburu-buru membuat produk baru. Sebaliknya, mereka menunggu perusahaan lain meluncurkan produk baru terlebih dahulu.
Setelah itu, mereka mengirim tim untuk mengumpulkan pendapat dan keluhan pengguna tentang produk pesaing. Berdasarkan umpan balik tersebut, IBM membuat versi produk mereka sendiri — yang biasanya lebih baik, lebih nyaman, dan lebih disukai pasar.
IBM sendiri berkata: “Kami sengaja tertinggal dua hingga tiga tahun dalam teknologi. Biarkan perusahaan lain mencoba pasar dan menjalani fase ‘uji coba’. Setelah pasar matang, barulah kami meluncurkan produk yang lebih sempurna. Dengan cara ini, kami menghindari jalan buntu dan mengurangi pemborosan biaya, tenaga, dan waktu.”
Inilah strategi “pelari yang mengikuti dari belakang” dalam dunia bisnis.
Toyota Juga Menang Dengan Cara yang Sama
Toyota pun meraih kesuksesannya melalui strategi serupa.
Ketika Nissan memutar otak, menghabiskan tenaga, biaya besar, dan waktu panjang untuk mengembangkan mobil keluarga “SANI”, Toyota justru merasa ini adalah peluang emas.
Promosi besar-besaran Nissan telah membangkitkan minat publik terhadap mobil. Toyota lalu mempelajari kekuatan dan kelemahan SANI dengan sangat teliti.
Dengan modal riset yang lebih kecil dan memanfaatkan semua informasi yang sudah terbuka, Toyota meluncurkan model “Corolla” — dan langsung laris manis, bahkan meledak di pasar. Toyota pun meraih keuntungan besar.
Hakikat dari Strategi “Mengikuti dari Belakang”
Kisah IBM dan Toyota menunjukkan satu kebenaran penting:
Tampak lambat di awal bukan berarti tidak bisa menang di akhir. Jika pelari belakang mengamati, mengumpulkan kekuatan, dan memanfaatkan kelebihan lawan, dia bisa melaju dan merebut kemenangan pada saat terakhir.
Dalam strategi besar, ada pepatah: “Ahli strategi menata situasi, bukan sekadar memindahkan bidak.”
Seorang pengusaha yang visioner tidak seharusnya terjebak pada kemenangan kecil yang sementara. Dia perlu melihat jauh, memikirkan keberlangsungan perusahaan, dan tidak memaksakan diri menjadi “pelari depan” ketika kondisi belum memungkinkan.
Saat perusahaan belum punya kekuatan penuh, menempati posisi kedua sementara, menyembunyikan kemampuan, dan mengumpulkan tenaga justru merupakan strategi yang cerdas.
Menjadi “pelari yang mengikuti dari belakang” bukan berarti kalah — itu bisa jadi langkah untuk menang lebih besar di masa depan. (jhn/yn)


