EtIndonesia. Gubernur Alaska, Mike Dunleavy, tengah gencar mendorong pengembangan proyek tambang milik perusahaan Graphite One. Baru-baru ini, perusahaan tersebut mengumumkan penemuan unsur tanah jarang—termasuk neodimium—di tambang Graphite Creek, tambang grafit terbesar di Amerika Serikat. Penemuan ini dinilai berpotensi mematahkan dominasi Tiongkok dalam pasokan global mineral tanah jarang.
Perusahaan Graphite One menyampaikan dalam pernyataan resminya bahwa mereka telah menemukan kandungan unsur tanah jarang di tambang Graphite Creek yang terletak di utara kota Nome, Alaska.
Menurut U.S. Geological Survey (USGS), kawasan tersebut merupakan tambang grafit alami terbesar yang diketahui di Amerika Serikat, sekaligus salah satu tambang grafit terbesar di dunia.
Presiden Graphite One, Anthony Huston, mengatakan dalam pernyataan perusahaan: “Tambang Graphite Creek mengandung dua jenis material yang dilindungi oleh Bab III Undang-Undang Produksi Pertahanan: grafit dan unsur tanah jarang. Penemuan ini semakin menegaskan nilai strategis tambang tersebut bagi generasi mendatang.”
Proyek Graphite One memperoleh dukungan langsung dari pemerintah federal. Melalui Undang-Undang Produksi Pertahanan, Departemen Pertahanan AS mengalokasikan dana 37,5 juta dolar untuk pengembangan proyek tersebut.
Selain itu, studi kelayakan tambang Graphite Creek juga dipercepat sedikitnya 12 bulan lebih awal, menandakan bahwa Amerika Serikat bergerak cepat dalam melaksanakan agenda “Dominasi Energi Amerika” dari Presiden Donald Trump—yang bertujuan menandingi monopoli Tiongkok atas mineral penting.
Dalam pernyataannya, perusahaan Graphite One juga menjelaskan bahwa mereka tengah membangun rantai pasok grafit berbasis Amerika Serikat, mulai dari pengiriman grafit dari Nome, pembangunan fasilitas pemrosesan grafit dan material baterai di Warren, Ohio, hingga pembangunan fasilitas daur ulang untuk memproses kembali grafit dan material lain. (jhon)
Sumber : NTDTV.com


