Sebuah studi terbaru menemukan bahwa meningkatnya penggunaan media sosial pada awal masa remaja berkaitan dengan penurunan performa pada fungsi kognitif tertentu.
George Citroner
Hanya dengan tambahan satu jam lebih penggunaan media sosial setiap hari, nilai membaca dan memori anak-anak usia remaja awal dapat menurun, menurut sebuah studi terbaru yang melacak lebih dari 6.500 anak seiring meningkatnya waktu layar mereka.
Berdasarkan data dari studi Adolescent Brain Cognitive Development, para peneliti mengukur kemampuan kognitif anak usia 9 hingga 13 tahun menggunakan tes standar untuk membaca, memori, dan kosakata. Hasilnya menunjukkan bahwa bahkan peningkatan kecil dalam penggunaan media sosial berkaitan dengan penurunan performa yang dapat diukur.
Peningkatan Kecil, Dampak Terukur
Studi yang baru terbit di jurnal JAMA ini membagi peserta ke dalam tiga kelompok berdasarkan kebiasaan penggunaan media sosial: sekitar 58 persen tidak menggunakan atau menggunakan sangat sedikit, 37 persen memiliki penggunaan yang meningkat rendah, dan hampir 6 persen menunjukkan peningkatan tinggi.
Dibandingkan dengan remaja yang menggunakan media sosial sekitar 20 menit per hari, mereka yang menggunakannya sekitar 80 menit per hari membaca lebih sedikit kata dengan benar dan lebih sering salah saat diminta mencocokkan kata yang didengar dengan gambar yang sesuai. Mereka juga mencatat nilai lebih buruk pada tes memori. Kelompok dengan peningkatan tinggi—sekitar tambahan tiga jam per hari—mencatat skor hingga empat poin lebih rendah.
“Analisis ini menemukan bahwa baik peningkatan rendah maupun tinggi dalam penggunaan media sosial selama awal masa remaja berhubungan signifikan dengan penurunan performa pada aspek-aspek tertentu dari fungsi kognitif,” tulis para penulis studi.
Meski perbedaan skor tampak kecil, dampaknya dapat dirasakan dalam dunia akademik, para peneliti mencatat—mulai dari waktu pengerjaan tugas yang lebih lama hingga risiko tertinggal di mata pelajaran kumulatif seperti matematika dan membaca.
Dampak di Dunia Nyata
Perbedaan kognitif antara anak yang menggunakan media sosial dalam waktu lama dan mereka yang tidak, kemungkinan memiliki dampak penting pada skala populasi, jelas Sheri Madigan, psikolog klinis dari University of Calgary, dalam editorial pendamping penelitian tersebut.
“Perbedaan halus dalam kemampuan kognitif pada tingkat kelompok dapat berujung pada siswa yang membutuhkan waktu lebih lama menyelesaikan tugas; tertinggal dalam pelajaran matematika atau membaca; atau bahkan kehilangan minat akademik sepenuhnya,” tulis mereka.
Temuan ini muncul ketika sejumlah sekolah mempertimbangkan pelarangan ponsel selama jam belajar, sehingga memberikan bukti baru mengenai bagaimana media sosial dapat memengaruhi proses belajar.
Namun para ahli mengingatkan bahwa hasil ini tidak dapat langsung diartikan sebagai hubungan sebab-akibat.
Sulit memastikan bahwa media sosial adalah satu-satunya penyebab perubahan tersebut, kata Dr. Nona Kocher, psikiater di Miami yang tidak terlibat dalam studi itu, kepada The Epoch Times.
“Studi ini menunjukkan hubungan, bukan bukti sebab-akibat,” ujarnya. “Anak yang menghabiskan lebih banyak waktu online mungkin juga tidur lebih sedikit, jarang membaca, atau lebih sering melakukan multitasking—semua ini dapat memengaruhi memori dan konsentrasi.”
Lingkungan rumah, beban sekolah, dan karakter anak juga dapat berpengaruh, tambahnya. “Jadi, media sosial mungkin bagian dari penyebab, tetapi kemungkinan hanya satu bagian dari teka-teki besar.”
Peneliti juga mencatat sejumlah keterbatasan, termasuk ketergantungan pada laporan penggunaan media sosial oleh anak sendiri dan desain studi observasional yang tidak dapat membuktikan sebab-akibat.
Layar ‘Membajak’ Waktu Anak
Dr. Rahul Bansal, psikiater anak dan remaja serta pendiri MindWeal Health, mengatakan bahwa masalah utamanya adalah aktivitas yang tergantikan, bukan kerusakan langsung.
“Saya tidak berpikir media sosial mengubah struktur otak anak atau bertindak seperti racun, tetapi jelas mengambil alih waktu mereka,” katanya. Setiap jam yang dihabiskan untuk menggulir layar adalah satu jam yang tidak dihabiskan untuk membaca, belajar, atau mencoba hal baru, tambahnya.
“Otak tumbuh ketika ditantang—dan media sosial menggantikan tantangan itu dengan stimulasi tanpa henti,” ujar Bansal. Media sosial juga mendorong kebiasaan buruk, seperti tidur larut malam, yang pada akhirnya menurunkan fokus di kelas. “Ketika tidur dan rasa ingin tahu menurun, kemampuan belajar pasti terpukul.”
Bansal menyarankan agar orang tua tidak langsung melarang media sosial, melainkan “membimbing” penggunaannya. Ia merekomendasikan membuat batasan yang jelas dan menjadikan waktu layar sebagai “hadiah” setelah anak menyelesaikan tanggung jawab hariannya.
“Jauhkan perangkat dari kamar tidur, ciptakan waktu tenang sebelum tidur, dan ketahui platform apa saja yang mereka gunakan,” katanya. “Jika digunakan dengan bijak, media sosial bisa membantu anak terhubung—tanpa mencuri fokus atau tidur mereka.”
Penelitian sebelumnya oleh penulis studi, Dr. Jason Nagata dari University of California, San Francisco, lebih banyak menyoroti dampak mental seperti depresi dan kecemasan terkait penggunaan media sosial.
Penggunaan berlebihan dapat meningkatkan kecemasan atau depresi pada sebagian remaja, terutama ketika mereka membandingkan diri dengan orang lain atau terjebak dalam “loop umpan balik” online, jelas Dr. Kocher. Studi terbaru ini memperluas pemahaman hingga ke aspek kognitif, yang sebelumnya masih jarang diteliti.
George Citroner melaporkan berita kesehatan dan kedokteran, termasuk topik kanker, penyakit menular, dan kondisi neurodegeneratif. Ia menerima penghargaan Media Orthopaedic Reporting Excellence (MORE) Award pada 2020 untuk laporan mengenai risiko osteoporosis pada pria.


