EtIndonesia. Seorang turis wanita asal Tiongkok berusia 25 tahun ditemukan tewas dalam kondisi setengah telanjang di sebuah hostel di kawasan Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Bali.
Kasus ini berkembang menjadi dugaan keracunan massal, di mana lebih dari 20 tamu hostel jatuh sakit dan sedikitnya 10 orang dilarikan ke rumah sakit. Seiring penyelidikan berlangsung, semakin banyak detail mengejutkan yang terungkap.
Tewas di Hostel Murah, Berawal dari Muntah Hebat dan Pingsan
Peristiwa terjadi di Clandestino Hostel, kawasan Canggu, Bali. Menurut laporan Daily Mail pada 18 November, pada malam 31 Agustus, wisatawan Tiongkok bernama Zhuoga Deqing (卓德清, 25 tahun) tiba-tiba mengalami muntah hebat dan kemudian pingsan di hostel yang tarifnya hanya 9 dolar AS per malam.
Menurut kepolisian Bali, awalnya ia sempat dibawa staf hostel untuk mendapatkan perawatan. Namun karena biaya rumah sakit dinilai terlalu mahal, korban menolak menjalani pemeriksaan lanjutan dan hanya membeli obat di apotek. Ia kemudian kembali ke hostel untuk beristirahat—dan ditemukan meninggal sendirian beberapa jam kemudian.
Ditemukan Setengah Telanjang, Muka Tengkurap di Lantai
Esok pagi, staf hostel yang menyadari korban belum check-out mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban. Setelah membuka kamar dengan kunci cadangan, mereka terkejut melihat korban tergeletak telungkup di lantai, hanya mengenakan kemeja biru yang terbuka. Ia sudah tidak bernapas, tidak ada denyut jantung, dan di samping tempat tidur terdapat ember berisi muntahan dalam jumlah besar.
Tim forensik memperkirakan korban telah meninggal 2 sampai 12 jam sebelum ditemukan.
Lebih dari 20 Orang Keracunan, Satu Kematian, Banyak yang Kritis
Teman sekamar korban, Leila Li, juga dirawat di ICU selama lima hari. Ia baru mengetahui kematian Deqing setelah dirinya pulih. Leila kini menuntut agar hostel itu segera ditutup dan dilakukan penyelidikan menyeluruh.
“Mereka mencoba menutupi kejadian ini. Saya hanya ingin memperingatkan orang lain agar tidak ada lagi korban,”
— Leila Li
Menurut Leila, ia tiba di hostel pada 31 Agustus dan sempat makan malam bersama para tamu lain, termasuk korban. Tak lama kemudian, tamu-tamu mulai tumbang satu per satu:
- ada yang muntah hebat
- ada yang tak sadarkan diri di lorong
- ada yang jatuh sakit bersamaan
“Lebih dari 20 orang keracunan. Setidaknya 10 dalam kondisi kritis. Satu orang meninggal. Sampai sekarang masih ada tamu yang menginap di sana lalu jatuh sakit,” katanya.
Ia juga menceritakan bahwa korban sudah sangat lemah saat dijemput ambulans. Deqing diduga sudah berjam-jam muntah tanpa henti, sementara tamu lain panik mencari pertolongan.
Autopsi: Syok Hipovolemik, Diduga Keracunan Parah
Hasil autopsi menunjukkan korban kemungkinan meninggal akibat gastroenteritis akut, dehidrasi berat, dan ketidakseimbangan elektrolit, yang berujung pada syok hipovolemik. Meski sumber keracunan belum dipastikan, ahli forensik menyatakan bahwa kematian seharusnya bisa dicegah bila korban mendapat perawatan medis tepat waktu.
Leila mengaku dokter yang menanganinya mendiagnosis keracunan pestisida dan keracunan makanan. Ia juga menyebut bahwa kamar di sebelahnya sempat disemprot fogging anti-bedbug (desinfeksi hama) pada malam sebelum kejadian.
Penyelidikan Berlanjut, Hostel Masih Beroperasi
Hingga kini, polisi masih menyelidiki sumber keracunan:
apakah berasal dari makanan, racun serangga, lingkungan, atau faktor lain yang belum teridentifikasi.
Meski demikian, Clandestino Hostel masih beroperasi seperti biasa.
Para korban selamat dan teman-teman korban bersumpah akan menuntut penutupan hostel tersebut.
“Kalau tidak segera ditutup, akan ada korban berikutnya. Satu nyawa sudah hilang—jangan sampai ada lagi,” ujar salah satu korban selamat. (jhon)


