EtIndonesia. Yang En-Dian adalah pelukis Taiwan yang terkenal menggunakan mulut dan kakinya untuk melukis. Dia lahir tanpa kedua tangan dan mengalami deformasi serius pada bagian dada. Orangtuanya tega membuangnya di sebuah lapak daging di Kaohsiung. Dia kemudian diselamatkan dan diadopsi oleh pasangan pendiri Panti Asuhan Liugui, yang memberinya nama “En-Dian”.
Presiden Chiang Ching-kuo pernah mendorongnya untuk “menggunakan kaki menggantikan tangan.”
Setelah lulus dengan prestasi gemilang, En-Dian belajar melukis menggunakan kaki kiri, kemudian berguru mempelajari seni lukis tradisional Tiongkok.
Keteguhan yang Melampaui Kekurangan Fisik

Bagi banyak orang, En-Dian dikenal sebagai “pelukis tanpa tangan”. Namun, di balik itu ada perjuangan yang jauh lebih besar:
- Saat anak-anak lain belajar berjalan dengan bantuan orangtua,
dia belajar sendiri, merambat dinding, jatuh, lalu bangkit lagi tanpa mengeluh. - Saat orang lain menulis dengan tangan, dia memerlukan waktu berlipat untuk menulis dengan kaki—tetapi dia tidak pernah menyerah.
- Semua aktivitas sehari-hari—memakai pakaian, makan, mandi—dia lakukan sendiri.
Dia memang pernah ingin menyerah, tetapi setiap kali dia menggigit rasa sakit itu dan bertahan.
Hingga ketika dia mulai memperoleh penghasilan dari lukisannya, dia mendonasikannya kembali kepada panti asuhan tempat dia dibesarkan— sebuah bentuk rasa terima kasih yang menyentuh hati.
Pelajaran Besar dari Yang En-Dian
Setelah membaca kisahnya, kita baru sadar betapa luar biasanya tekad dan semangatnya.
Kita yang memiliki tangan dan kaki lengkap, sering kali mudah ingin menyerah ketika menghadapi kesulitan kecil.
Namun En-Dian berbeda. Dia mencoba, belajar, dan terus berjuang sejak kecil.
Ketika kelak kita menghadapi masalah, ingatlah kisahnya: Jika dia yang tak memiliki tangan saja tidak menyerah, lalu, kenapa TIDAK dengan kita? (jhn/yn)


