Lowongan di Toko Buah: Tak Disangka Seorang Remaja Justru Jadi Miliarder dalam 10 Tahun

EtIndonesia. Sebuah toko buah kecil memasang pengumuman lowongan. Karena gajinya terlalu rendah, tidak ada yang berminat—kecuali seorang remaja. Tak ada yang menyangka, setelah mulai bekerja, remaja itu menggunakan berbagai strategi kreatif yang membuat sang pemilik gerai kebanjiran uang. Dan 10 tahun kemudian, bocah itu berubah menjadi seorang miliarder!

Pemilik Toko Buah Membuka Lowongan — Sang Bocah Tak Sengaja Mendapatkan Kesempatan

Sekitar belasan tahun lalu di sebuah kota di Taiwan, ada sebuah lapak buah kecil. Pemiliknya sudah lanjut usia dan tidak lagi kuat berdiri lama untuk melayani pembeli, sehingga dia memasang pengumuman mencari pekerja.

Beberapa hari kemudian, seorang pria muda datang dan bertanya berapa upah yang bisa dia dapatkan. 

Si pemilik tertawa dan menjawab: “Toko sekecil ini mana sanggup bayar gaji bulanan. Semua tergantung usahamu. Berapa banyak buah yang bisa kamu jual dalam sehari—kamu dapat sepersepuluhnya. Dibayar harian.”

Pemuda itu mendengar penjelasan tersebut, memandang pemilik toko yang sudah tua itu dari atas sampai bawah, lalu mengerutkan kening : “Tidak bisa. Ini sama sekali tidak ada kepastian.”

Dia pun pergi tanpa berpikir dua kali.

Beberapa hari kemudian datang lagi seorang anak muda lain yang mengajukan pertanyaan serupa. 

Setelah mendengar sistem upah yang sama, dia balik bertanya: “Kalau begitu, berapa omzet kedai ini dalam sebulan?”

Sang pemilik menjawab bahwa pendapatan sangat bergantung pada musim buah: bulan bagus bisa tembus 50 ribu dolar Taiwan, bulan buruk bahkan hanya 10 ribu.

Pemuda itu langsung menggeleng: “Dengan pendapatan seperti ini, seumur hidup pun tak mungkin meraih kekayaan. Hanya orang bodoh yang mau jualan buah!”

Dia pun pergi, sama seperti pendahulunya.

Seorang Remaja Muncul — Meminta Kenaikan Komisi Hanya di Hari Besar

Beberapa hari berlalu, datanglah seorang bocah laki-laki.

Dia menanyakan sistem gaji, dan sang pemilik kembali menjelaskan bahwa upah dibayar harian dan berdasarkan komisi.

Anak itu mendengar penjelasan tersebut, tersenyum, lalu bertanya: “Kalau hari libur atau akhir pekan, boleh tidak komisinya dinaikkan? Misalnya dua puluh persen?  Jika penjualan tembus 100 ribu sehari, saya dapat 30 persen?”

Sang pemilik tertawa besar dan menepuk kepala bocah itu : “Pintar sekali! Kamu tahu hari libur ramai pembeli. Baiklah, kita pakai perhitunganmu— Tapi omzet lebih dari 10 ribu sehari pun tidak gampang, apalagi 100 ribu!”

Dan demikianlah remaja itu resmi bekerja.

Trik-trik Aneh Sang Bocah — Pemilik Hidup Enak

Sejak hari pertama, bocah itu mulai mengubah banyak hal:

  • Dia mencuci semua buah dengan air bersih sebelum dipajang.
  • Dia selalu mengubah-ubah posisi tampilan buah agar terlihat segar setiap saat.
  • Pada hari libur atau akhir pekan, dia memasang poster promosi: “Belanja 1.000—gratis buah 100 dolar, pilih sendiri!”

Hasilnya mencengangkan. Di bulan pertama saja, bocah itu menerima lebih dari 30 ribu—setara rata-rata seribu dolar sehari.

Pemilik toko memang membayar komisi besar, tetapi dia sangat puas: Sambil duduk santai di kursi goyang, dia melihat bocah itu lari ke sana ke mari dan menghasilkan lebih banyak uang dibandingkan sebelumnya.

Beberapa tahun kemudian, bocah itu menabung cukup banyak untuk membeli seluruh kedai. Dengan kreativitasnya, dia menciptakan berbagai strategi pemasaran baru, membuka toko kedua, lalu toko ketiga.

Saat dewasa, dia sudah menjadi seorang pengusaha kaya raya—belum genap usia 30 tetapi telah hidup dalam kemakmuran.

“Bos hanya bisa memberimu kesempatan—bukan kekayaan.”

Studi menunjukkan bahwa lebih dari 70% pekerja di dunia tidak puas dengan gaji mereka. Bahkan ketika tahu bisnis perusahaan sedang menurun, mereka tetap menuntut kenaikan gaji.

Kelompok ini mirip dengan pelamar pertama:  mereka hanya ingin jaminan, terlepas dari kontribusi mereka pada perusahaan.

Kelompok lainnya seperti pemuda kedua— begitu merasa bos tidak dermawan atau industri tidak menjanjikan, mereka langsung “lompat kapal,” terus-menerus mengganti pekerjaan, dan seumur hidup menyalahkan bos lama.

Pada kenyataannya, tidak ada satu pun bos yang bisa “menganugerahkan” kekayaan. Bos hanya bisa memberi kesempatan.

Jika kamu memanfaatkan kesempatan itu dengan baik, menghasilkan uang bagi perusahaan, barulah kamu bisa ikut naik bersama pertumbuhan perusahaan.

Tidak peduli apakah kamu menjual buah atau komputer, bekerja di industri panas atau industri sepi— selama kamu memahami prinsip ini, kamu bisa menjadi seperti bocah itu yang akhirnya mewarisi kekayaan yang sebelumnya ada di tangan bosnya. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine