Tidak Pernah Percaya pada “Nasib”

EtIndonesia. Penulis Amerika Albert Hubbard pernah menceritakan sebuah kisah seperti ini:

Setelah bertahun-tahun bekerja keras, Tuan Wilson akhirnya menjadi seorang pengusaha terhormat.

Suatu hari, ketika dia keluar dari gedung kantornya, dia mendengar suara tok tok tok di belakangnya — suara tongkat seorang tunanetra yang mengetuk lantai. Wilson pun berhenti.

Orang buta itu menyadari ada seseorang di depannya dan segera berkata: “Pak, saya seorang tunanetra yang malang. Tolong bantu saya membeli pemantik api ini. Harganya 1 dolar. Saya mengandalkannya untuk mencari nafkah.”

Wilson menghela napas, mengambil pemantik itu, dan berkata : “Aku tidak membutuhkannya, tapi aku bersedia membantumu.”

Dia mengeluarkan selembar uang dan menyerahkannya.

Orang buta itu meraba uangnya — ternyata itu uang 100 dolar. Dia hampir menangis karena bahagia:  “Terima kasih… Tuhan memberkati Anda!”

Wilson hendak pergi, tetapi orang buta itu terus bergumam: “Saya tidak terlahir buta. Delapan belas tahun lalu, saat kecelakaan di pabrik Bolton… semuanya berubah. Itu sangat mengerikan.”

Mendengar itu, Wilson seperti disambar petir

Dia berbalik dan berkata terkejut: “Ledakan pabrik kimia itu?!”

“Ya,” jawab si buta.

 Melihat minat Wilson, dia semakin bersemangat menceritakan kisahnya untuk mendapat iba.

“Banyak orang mati waktu itu. Saya juga jatuh ke hidup miskin ini. Anda tidak tahu betapa mengerikannya waktu itu. Ledakan keras seperti halilintar, lalu api menyala di mana-mana. Semua orang berebut keluar. Saya sudah sampai pintu, tapi ada seorang pria besar berteriak:
‘Saya masih muda, biarkan saya keluar dulu!’ Lalu dia mendorong saya sampai jatuh. Dia menginjak tubuh saya dan lari. Saat sadar, mata saya sudah tak bisa melihat apa pun…”

Orang buta itu masih ingin melanjutkan ceritanya, tetapi Wilson memotongnya dengan suara dingin: “Kamu berbohong. Kejadiannya tidak seperti itu.”

Orang buta itu terkejut.

Wilson berkata lagi: “Saya juga ada di dalam pabrik itu. Kamulah yang menginjak tubuh saya untuk melarikan diri. Kata-kata yang kamu ucapkan waktu itu… saya tidak akan pernah melupakannya seumur hidup.”

Orang buta itu terpaku, lalu tiba-tiba menarik kerah Wilson dan berteriak: “Tidak adil! Aku keluar hidup-hidup tapi menjadi buta, sementara kamu tertinggal di dalam tapi sekarang hidupmu sukses!”

Wilson melepaskan pegangan itu dengan keras. Dia mengangkat tongkatnya — tongkat khusus untuk tunanetra — dan berkata dengan nada meremehkan: “Aku juga buta.  Tapi aku… tidak pernah percaya pada nasib.”

Makna dari Kisah Ini

Hidup penuh ketidakpastian. Setiap orang akan mengalami kesulitan — besar atau kecil. Tetapi cara menghadapi kesulitan itulah yang membedakan satu orang dari yang lain.

Menjadi penyandang disabilitas, terutama kehilangan penglihatan, adalah pukulan besar bagi siapa pun. Tidak mudah mencari jalan hidup baru. Kita tidak tahu bagaimana Wilson melewati masa-masa tergelapnya — bagaimana dia bertahan, bekerja, jatuh bangun, hingga akhirnya sukses.

Yang pasti, keberhasilannya membawa satu kenyataan:

Dia mampu memaafkan pria yang dulu menginjak tubuhnya demi menyelamatkan diri. Tapi dia tidak mampu memaafkan sikap pasrah dan menyerah pada nasib.

Selama seseorang menganggap dirinya korban takdir, selama dia meyakini bahwa hidupnya sudah ditentukan untuk gagal, maka selamanya dia tidak akan bangkit.

Namun jika hati seseorang menolak menyerah, jika dia terus berjuang meski berkali-kali terjatuh, maka akan muncul kekuatan yang mendorongnya terus maju — kekuatan yang membuatnya berhenti menyalahkan dunia.

Dan meski perjuangan itu tidak selalu berakhir seperti yang kita harapkan, prosesnya sendiri sudah merupakan kemenangan.

Sebab dalam setiap langkah penuh perjuangan itu, ada cahaya keindahan hidup yang tidak bisa dipadamkan oleh siapa pun.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine