Tes diagnostik dapat memberikan gambaran tentang kesehatan sistem imun
Conan Milner
Sebagian besar kesehatan Anda bergantung pada kekuatan sistem kekebalan tubuh—sebuah pasukan pertahanan internal yang canggih melindungi Anda dari penyakit dan membantu penyembuhan luka. Namun, tidak semua orang memiliki kekebalan yang sama kuat.
Setiap orang pasti pernah jatuh sakit, tetapi ada yang jarang sekali terserang flu, sementara yang lain tampak mudah tertular berbagai penyakit.
Apa yang membuat seseorang memiliki kekebalan tubuh yang baik? Selain tidur yang cukup, pola makan bergizi, dan kesehatan usus, beberapa jenis sel kekebalan khusus berperan penting dalam menjaga pertahanan tubuh.
Dokter pengobatan fungsional Dr. Mitch Ghen membandingkan sel-sel kekebalan tubuh ini dengan berbagai cabang militer yang bekerja sama menghadapi “pertempuran mikroskopis” demi menjaga kesehatan.
“Sistem imun Anda adalah pasukan bersenjata—ada angkatan laut, pasukan elit, dan angkatan udara. Semua cabang ini melindungi Anda dari musuh asing,” kata Dr. Ghen kepada The Epoch Times.
Biasanya, dokter mulai memeriksa fungsi kekebalan tubuh dengan tes diagnostik paling umum, yaitu Complete Blood Count (CBC) atau hitung darah lengkap. Tes ini menilai jumlah sel darah merah dan trombosit, namun bagian terpenting untuk menilai kekebalan adalah jumlah sel darah putih (leukosit).
Kadar normal sel darah putih biasanya berkisar antara 4.500–11.000 per mikroliter darah.
Jika lebih tinggi, berarti tubuh sedang melawan infeksi dan memperkuat pertahanannya. Jika lebih rendah, bisa menandakan sistem imun sedang lemah dan kekurangan “prajurit” untuk menghadapi infeksi.
Namun, Dr. Ghen menegaskan bahwa angka sel darah putih saja tidak cukup untuk memahami kondisi imun secara menyeluruh.
“Mengukur jumlah sel darah putih itu seperti mengatakan, ‘Ini seluruh pasukan Anda—angkatan udara, angkatan laut, dan pasukan khusus—semuanya dijadikan satu angka.’ Padahal tubuh manusia sangat kompleks, dan sistem imun terdiri dari banyak komponen berbeda,” jelasnya.
Tes hitung darah juga bisa menunjukkan pembagian dari “cabang militer” tersebut, seperti neutrofil yang melindungi dari ancaman akut (cedera mendadak dan infeksi), dan limfosit yang melawan ancaman kronis (seperti kanker dan virus yang menetap di tubuh).
Tes lanjutan mungkin diperlukan untuk menganalisis imunoglobulin (antibodi)—protein yang dibuat tubuh untuk melawan virus dan bakteri tertentu.
Hasil-hasil ini membantu menentukan bagian mana dari sistem imun yang baik atau lemah, namun belum menjelaskan penyebabnya. Salah satu penyebab mendasar, menurut Dr. Ghen, adalah kekurangan nutrisi.
Adam El-Hosseiny, COO Access Medical Laboratories di Florida, menjelaskan bahwa dokter holistik biasanya memesan tes panel nutrisi untuk menilai kadar zat gizi penting yang memengaruhi imunitas.
Misalnya, jika kadar vitamin D rendah, hal itu bisa menjelaskan mengapa seseorang mudah sakit. Penelitian menunjukkan vitamin D berperan besar dalam menurunkan risiko berbagai infeksi. Kekurangan vitamin D telah dikaitkan dengan meningkatnya risiko hepatitis, influenza, COVID-19, dan AIDS.
Nutrisi lain yang penting bagi sistem imun termasuk seng (zinc), zat besi (iron), magnesium, asam folat, dan vitamin C. Semua ini dibutuhkan untuk pembentukan dan fungsi sel-sel imun. Jika kekurangan, sistem kekebalan tubuh pun menurun.
Contohnya magnesium: mineral ini penting dalam berbagai fungsi imun, termasuk membantu pembentukan sel T helper, sel B, dan respon makrofag. Kadar magnesium yang cukup juga dibutuhkan untuk pembentukan antibodi (imunoglobulin). Sebaliknya, kekurangan magnesium kronis dapat menyebabkan peradangan kronis, tanda bahwa sistem imun sedang bermasalah.
Peradangan (Inflamasi)
Kekebalan tubuh sangat erat kaitannya dengan peradangan, yaitu kondisi di mana jaringan tubuh menjadi merah, panas, dan bengkak. Peradangan membantu melawan infeksi, tetapi bila berlebihan justru dapat merusak jaringan tubuh.
Salah satu tes yang sering dilakukan dokter adalah C-Reactive Protein (CRP), untuk mengukur tingkat peradangan. CRP merupakan protein yang digunakan tubuh untuk melawan infeksi, namun kadar yang tinggi menunjukkan adanya peradangan aktif. CRP meningkat saat tubuh terluka atau terinfeksi, dan menurun ketika kondisi mulai membaik.
Menurut Dr. Lela Iduna, praktisi pengobatan fungsional, peradangan kronis merupakan tanda bahwa sistem imun sedang “tertekan”.
“Peradangan adalah akar dari hampir semua penyakit—dari flu biasa hingga kanker,” katanya. “Alzheimer, demensia, autisme, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes—semuanya berhubungan dengan peradangan dan gangguan sistem imun.”
Sistem imun yang sehat seharusnya menjaga keseimbangan antara reaksi melawan ancaman dan pemulihan tubuh.
“Sedikit ‘api’ itu baik,” ujar Iduna. “Tapi kita harus bisa mengendalikannya. Saat peradangan keluar kendali, di situlah gejala penyakit mulai muncul.”
Untuk memahami keseimbangan peradangan seseorang, Dr. Iduna juga sering memeriksa ferritin, protein penyimpan zat besi.
“Jika kadar ferritin tinggi, itu menandakan ada peradangan di dalam tubuh. Bukan sekadar zat besinya tinggi, tapi ada sesuatu yang tidak seimbang secara fisiologis,” jelasnya.
Penyebabnya bisa bermacam-macam—mulai dari stres, kerusakan jaringan, hingga kondisi medis lainnya.
Dampak Stres Terhadap Kekebalan Tubuh
Salah satu pemicu utama peradangan berlebih adalah stres. Banyak penelitian menunjukkan bahwa stres kronis dapat melemahkan sistem imun, memperlambat penyembuhan luka, dan meningkatkan risiko infeksi.
Itulah sebabnya Dr. Ghen sering melakukan tes kadar hormon stres, seperti kortisol, DHEA (dehydroepiandrosterone), dan melatonin.
“Dari situ saya bisa menjelaskan kepada pasien: ‘Lihat, di sinilah masalahnya—terlalu banyak stres, dan stres inilah yang sedang merusak tubuh Anda,’” ujarnya.
Namun, hidup bebas stres bukan berarti sistem imun akan selalu kuat. Seperti halnya peradangan, stres juga memiliki sisi positif bila dalam kadar yang tepat.
“Tanpa stres, Anda mungkin tidak akan bangun pagi untuk bekerja. Tanpa stres, tubuh Anda tidak akan menghasilkan zat-zat yang membantu penyembuhan atau melawan infeksi,” kata Dr. Ghen.
Kesimpulannya, kunci dari sistem imun yang sehat adalah keseimbangan—antara stres dan ketenangan, antara peradangan dan pemulihan, serta antara kebutuhan nutrisi dan gaya hidup sehat.


