EtIndonesia. Di tengah luasnya alam semesta, galaksi berfungsi sebagai “buaian bintang”. Struktur raksasa yang terdiri dari miliaran bintang, gas, debu, dan materi gelap ini bukan hanya jendela untuk mengamati langit malam, tetapi juga kunci utama memahami evolusi kosmos.
Namun baru-baru ini, sebuah galaksi katai bernama NGC 6789, yang terletak di dalam wilayah “Kekosongan Lokal” (Local Void), menghadirkan sebuah teka-teki besar: tanpa memiliki cadangan gas antarbintang yang cukup, galaksi ini ternyata masih mampu melahirkan bintang baru secara aktif.
Fenomena yang tampaknya “mustahil” ini menantang pemahaman dasar kita tentang pembentukan bintang dan mungkin mengungkap rahasia tersembunyi alam semesta.
Bagaimana Bintang Seharusnya Terbentuk?
Menurut mekanisme konvensional, kelahiran bintang berawal dari awan gas dan debu di dalam galaksi. Awan ini sebagian besar terdiri dari:
- Hidrogen (±75%),
- Helium (±25%),
- serta jejak unsur berat seperti karbon dan oksigen.
Pada wilayah yang sangat dingin dan rapat, partikel gas saling tarik-menarik karena gravitasi. Tekanan dan suhu naik drastis hingga memicu reaksi fusi nuklir: atom hidrogen bergabung menjadi helium, melepaskan energi besar, serta menyalakan sebuah bintang baru.
Namun seluruh proses ini sangat bergantung pada ketersediaan gas antarbintang—bahan bakar utama yang biasanya tersisa sejak era Big Bang dan kemudian ditarik masuk ke galaksi oleh gravitasi.
NGC 6789: Galaksi Kecil di Tengah Kekosongan yang Seharusnya Mati, Tapi Justru Hidup
NGC 6789 terletak sekitar 12 juta tahun cahaya dari Bumi, di arah konstelasi Draco. Yang membuatnya unik adalah lokasinya yang berada jauh di dalam Local Void, sebuah rongga kosmik berdiameter sekitar 150 juta tahun cahaya yang hampir tidak memiliki galaksi lain dan sangat miskin gas antargalaksi.
Dalam kondisi seperti itu, galaksi katai seharusnya “kelaparan” dan berhenti membentuk bintang. Namun kenyataannya berbeda:
Dalam 600 juta tahun terakhir, massa bintang baru yang lahir di NGC 6789 mencapai sekitar 4% dari total massanya — setara dengan fase starburst kecil.
Pengamatan mendalam menggunakan Teleskop Binokular 2 Meter (TTT3) di Spanyol menunjukkan hal mengejutkan:
- Tidak ada tanda-tanda galaksi ini pernah bergabung dengan galaksi lain
- Tidak ada struktur terganggu
- Tidak ada galaksi pendamping
Artinya, tidak ada sumber gas eksternal yang masuk untuk memicu pembentukan bintang.
Lalu pertanyaannya: Dari mana galaksi kecil di tengah kekosongan ini mendapatkan “bahan bakar” bintangnya?
Dua Hipotesis, Tapi Tidak Ada yang Memuaskan
Para ilmuwan memberikan dua kemungkinan:
1. Gas sisa pembentukan galaksi
Gas purba mungkin tersisa di bagian dalam galaksi dan perlahan menumpuk hingga akhirnya memicu kelahiran bintang baru.
2. NGC 6789 menangkap gas dari tepi kekosongan
Mungkin ada mekanisme tersembunyi yang memungkinkan galaksi ini menarik gas antik dari tepian Local Void, lalu dengan cepat mengubahnya menjadi bintang.
Namun kedua penjelasan ini masih bermasalah.
Local Void memiliki kepadatan gas sangat rendah, sehingga gas seharusnya sulit sekali terkonsentrasi dan jatuh ke dalam sebuah galaksi kecil.
Fenomena ini menabrak model klasik pembentukan bintang:
biasanya galaksi katai yang terisolasi akan menghabiskan gasnya sejak dini dan “mati”, tetapi NGC 6789 justru melakukan kebalikannya.
Lebih ekstrem lagi, beberapa galaksi kecil lain yang ditemukan James Webb Space Telescope (JWST) dalam kondisi serupa juga menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan aktif.
Ini mengisyaratkan bahwa dinamika di dalam kekosongan kosmik jauh lebih kompleks dan misterius daripada yang selama ini kita kira.
Apa Makna Penemuan Ini?
Misteri NGC 6789 memberi kita petunjuk bahwa:
- Kekosongan kosmik mungkin memainkan peran penting dalam evolusi galaksi
- Ada kemungkinan keterlibatan fenomena yang belum kita pahami, seperti interaksi materi gelap atau aliran gas primordial tersembunyi
- Teori pembentukan bintang pada galaksi kecil perlu ditinjau ulang
Di masa depan, pengamatan resolusi tinggi dari James Webb Space Telescope (JWST) diharapkan dapat memberikan jawaban lebih jelas dan mungkin membuka bab baru dalam studi struktur ruang hampa dan dinamika galaksi. (jhon)


