EtIndonesia. Seiring meningkatnya perhatian publik terhadap isu pengambilan organ secara paksa oleh rezim Tiongkok, makin banyak orang tua di berbagai daerah menolak keras program pengambilan sampel darah di sekolah. Dalam situasi sensitif ini, sebuah sekolah dasar di Guangzhou kedapatan mengambil darah murid tanpa izin orang tua, dan hal tersebut langsung memicu ledakan kemarahan di media sosial.
Kasus ini terjadi di sebuah SD di Distrik Haizhu, Guangzhou. Dalam beberapa hari terakhir, insiden itu terus menjadi topik hangat dan menuai kritik luas dari publik.
Menurut laporan berbagai media Tiongkok, peristiwa itu terjadi pada 6 November 2025. Sekolah secara diam-diam mengambil sampel darah dari murid tanpa memberi tahu orang tua terlebih dahulu. Berdasarkan cerita para murid, wali kelas mengatakan kepada mereka bahwa ini adalah “misi rahasia”, dan mengancam bahwa bila mereka memberi tahu orang tua, mereka akan dikurangi poin “bunga merah” (reward kelas).
Setelah kasus ini terungkap, para orang tua mendatangi sekolah untuk menuntut penjelasan. Namun wali kelas terkait mematikan ponselnya dan tak bisa dihubungi.
Pihak sekolah kemudian mengklaim bahwa pemeriksaan itu merupakan “instruksi terpadu dari dinas pendidikan setempat”, dan mengatakan kejadian ini mungkin akibat “kelalaian sebagian wali kelas yang tidak segera memberi tahu orang tua”.
Namun penjelasan tersebut tidak dipercaya banyak warganet, yang justru menduga sekolah sengaja menutupi informasi demi menyelesaikan tugas dari otoritas di atasnya.
Otoritas Pendidikan Janji Menyelidiki, tapi Hasilnya Tak Pernah Dipublikasikan

Dinas pendidikan setempat merespons dengan mengatakan bahwa pemeriksaan darah pada anak di bawah umur harus mendapatkan persetujuan wali, dan berjanji akan menyelidiki insiden ini.
Namun hingga kini hasil investigasi tidak pernah diumumkan, sementara diskusi publik terkait isu ini banyak yang disensor di internet.
Di tengah meningkatnya kesadaran tentang isu pengambilan organ, program “pemeriksaan darah gratis” di sekolah-sekolah semakin sering ditolak. Beberapa laporan menunjukkan bahwa saat hari pemeriksaan tiba, sejumlah sekolah mendapati murid-murid justru ramai-ramai izin tidak masuk.
Orang Tua Meluap Emosi: “Siapa pun yang ambil darah anak saya, saya habisi!”

Meski pemeriksaan kesehatan berkala di sekolah secara resmi diwajibkan pemerintah, pada masa lalu banyak sekolah tidak terlalu serius menjalankannya. Namun beberapa tahun terakhir, bersamaan dengan kampanye penyuluhan “donor organ”, program pengambilan darah massal di sekolah malah semakin sering dilakukan—bahkan semakin ekstrem.
Ada orang tua yang mengungkapkan bahwa anaknya diambil dua tabung darah penuh, padahal pemeriksaan dasar biasanya hanya memerlukan sedikit sampel.
Kondisi ini memicu kecurigaan luas di masyarakat.
Di antara spekulasi publik:
• apakah pemeriksaan itu sebenarnya bertujuan untuk pencocokan organ,
• apakah ini bagian dari upaya elit politik Tiongkok untuk mengejar ambisi “hidup sampai usia 150 tahun”,
• atau bahkan apakah darah anak-anak digunakan untuk membuat produk kesehatan berharga tinggi bagi kalangan pejabat dan orang kaya.
Meskipun belum ada bukti resmi terkait tuduhan-tuduhan itu, fakta bahwa sekolah mengambil darah tanpa izin, ditambah sikap menutupi dan sensor internet, membuat publik semakin curiga dan marah. (jhon)


