EtIndonesia. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, secara resmi menetapkan Kartel de Los Soles dari Venezuela sebagai organisasi teroris asing, meningkatkan tekanan yang sudah berlangsung terhadap negara Amerika Selatan tersebut. Rubio mengajukan penetapan ini pada 16 November, dan Federal Register mempublikasikan pemberitahuan resminya pada 24 November 2025.
Kartel de Los Soles—yang namanya diambil dari lambang matahari pada epaulet jenderal militer Venezuela—adalah kelompok kriminal yang menurut AS tertanam dalam rezim Venezuela, termasuk Presiden Nicolás Maduro. Penetapan ini dilakukan di tengah konsentrasi pasukan AS di Laut Karibia sejak Agustus dan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal narkoba di perairan Amerika Latin sejak September.
Pemerintahan AS menuding Maduro memimpin jaringan perdagangan narkoba skala luas, tuduhan yang dibantah keras oleh Presiden Venezuela. Rubio kembali menegaskan tuduhan ini dalam pernyataannya pada 16 November, saat mengumumkan rencana pelabelan Kartel de Los Soles sebagai organisasi teroris asing.
“Berasal dari Venezuela, Kartel de Los Soles dipimpin oleh Nicolás Maduro dan sejumlah pejabat tinggi rezim Maduro yang telah merusak militer, intelijen, legislatif, dan yudikatif Venezuela,” ujar Rubio.
“Maduro maupun kroninya tidak mewakili pemerintahan sah Venezuela. Kartel de Los Soles, bersama organisasi teroris asing lain seperti Tren de Aragua dan Kartel Sinaloa, bertanggung jawab atas kekerasan teroris di seluruh belahan benua kami serta penyelundupan narkoba ke AS dan Eropa.”
Apa Itu Kartel de Los Soles?
Kartel de Los Soles menjadi kelompok kriminal berbasis Amerika Latin ke-14 yang ditetapkan AS sebagai organisasi teroris asing sejak awal masa jabatan kedua Presiden Trump.
Menanggapi hal ini, Menteri Luar Negeri Venezuela, Yván Gil Pinto, menolak keras, menyebutnya sebagai “pencemaran nama baik yang baru dan konyol” karena Kartel de Los Soles dianggap tidak ada.
Label “Kartel de Los Soles” muncul di masyarakat Venezuela pada awal 1990-an untuk menggambarkan korupsi di pemerintahan, khususnya terkait praktik suap di unit militer perbatasan yang memungkinkan aliran kokain dari Kolombia. Kekhawatiran akan korupsi berlanjut di era Presiden Hugo Chávez dan Maduro, sehingga istilah ini meluas merujuk pada banyak pejabat pemerintah Venezuela.
Kasus terkenal terjadi pada November 2015, ketika Departemen Kehakiman AS menangkap Efraín Antonio Campo Flores dan Franqui Francisco Flores de Freitas, yang kemudian diidentifikasi sebagai keponakan Ibu Negara Venezuela, Cilia Flores, atas tuduhan konspirasi impor sekitar satu ton kokain ke AS.
Pada Maret 2020, Departemen Kehakiman AS menuntut Maduro beserta 14 pejabat militer dan pemerintah Venezuela lainnya, serta menawarkan hadiah USD 15 juta bagi informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro. Hadiah ini kemudian dinaikkan menjadi USD 25 juta dan akhirnya USD 50 juta pada Agustus.
Implikasi Penetapan Teroris
Penetapan Kartel de Los Soles sebagai organisasi teroris asing membuka opsi lebih luas bagi pemerintah AS untuk menjatuhkan sanksi dan membekukan aset pejabat Venezuela. Langkah ini juga bisa menjadi sinyal kemungkinan konfrontasi militer yang lebih langsung antara AS dan Venezuela.
Selama dua dekade terakhir, AS telah menerapkan berbagai sanksi terhadap pejabat dan entitas Venezuela, termasuk Maduro, keluarganya, dan pejabat tinggi lainnya seperti Menteri Pertahanan Vladimir Padrino López.
Pada Juli lalu, Departemen Keuangan AS menetapkan Kartel de Los Soles sebagai Entitas Teroris Global yang Ditunjuk Khusus, memperluas tekanan ekonomi dan meningkatkan tanggung jawab sipil dan pidana bagi pihak yang tetap melakukan transaksi dengan kartel ini.
Menurut Menhan AS Pete Hegseth, penetapan teroris ini memberikan “banyak opsi baru” bagi pemerintah AS untuk menindak perdagangan narkoba di kawasan, memastikan bahwa “belahan benua kami tidak akan dikendalikan oleh narco-teroris atau kartel, maupun rezim ilegal yang mencoba memaksakan pengaruh kepada rakyat Amerika.”


