EtIndonesia. Dunia saat ini sedang kacau. Bahkan tanah yang dulu dikenal sebagai pulau yang indah, kini seolah kehilangan batas antara benar dan salah; moral dan etika pun terasa merosot. Untungnya, masih banyak orang berhati baik dan berbagai agama yang terus berusaha meluruskan hati manusia.
Mengandalkan pendidikan sekolah saja tidak cukup, apalagi ketika sejumlah politisi justru menyesatkan kebijakan dan menciptakan kekacauan baru.
Ketika dulu saya tinggal di Eropa dan berbincang dengan beberapa orang Prancis, mereka mengatakan bahwa meskipun di sana banyak gereja, tidak banyak orang yang benar-benar memiliki iman yang mendalam.
Alasannya — mereka ragu: benarkah surga dan neraka itu ada?
Jika seseorang tidak takut pada kemungkinan “neraka setelah mati”, maka dia tentu cenderung semakin berani melakukan kejahatan.
Dalam kitab suci agama Timur dan Barat, semuanya menyebutkan bahwa manusia akan dihakimi setelah meninggal. Tetapi tetap saja, banyak yang tidak percaya.
Kesaksian Ilmuwan Besar: Surga dan Neraka Memang Ada
Ada seorang ilmuwan kelas dunia dari Swedia — Emanuel Swedenborg — yang sejajar reputasinya dengan Newton.
Pada usia 57 tahun, dia tiba-tiba memiliki kemampuan berkomunikasi dengan dunia roh. Selama 27 tahun berikutnya, dia bisa “keluar masuk” alam spiritual, melihat surga dan neraka secara langsung, lalu menuliskannya dalam banyak buku.
Dengan kedudukan ilmiahnya yang begitu tinggi, dia sama sekali tidak perlu berbohong.
Dia mengatakan: Dunia manusia boleh saja kotor, tapi inti dari perjalanan spiritual tetap berada di dalam hati. Setiap orang sedang membangun surga atau nerakanya sendiri melalui perilaku dan pikirannya.”
Seperti bunga teratai yang tumbuh dari lumpur namun tidak ternoda, demikianlah hati manusia seharusnya.
Dalam salah satu bukunya, dia menuliskan 14 pertanyaan, agar manusia bisa mengukur sendiri: apakah setelah meninggal dia akan naik ke surga atau jatuh ke neraka?
Karena sesungguhnya — segala sesuatu berasal dari hati; tubuh hanyalah alat, dan jiwa adalah pengendalinya. Baik buruknya pikiran dan perbuatan seseorang, hanya hatinya sendiri yang paling tahu.
Tujuh Pertanyaan untuk Menguji Jalan Menuju Surga
Jika jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini adalah ya, maka seseorang sedang membangun jalan menuju surga:
- Apakah saya mampu bersyukur dalam segala hal dan menjaga ketenangan hati?
- Bila diperlukan, apakah saya mau mengorbankan diri demi orang yang saya cintai atau demi masyarakat?
- Di rumah, apakah saya memperlakukan keluarga dan kerabat dengan cinta?
- Apakah saya mampu melebarkan hati dan memaafkan musuh?
- Apakah saya hidup mengikuti suara hati nurani?
- Apakah kebahagiaan orang lain bisa membuat saya ikut bahagia — dan saya mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri?
- Apakah saya mengakui keberadaan Tuhan dan menjadikan ajaran agama yang lurus sebagai pedoman hidup?
Jika semuanya “ya”, maka seseorang sedang membangun jalan rohani yang bersesuaian dengan energi positif alam surgawi. Karena seluruh alam semesta adalah energi — dan energi sejenis akan saling menarik.
Tujuh Pertanyaan untuk Melihat Jalan Menuju Neraka
Jika seseorang menjawab ya pada pertanyaan berikut, ini berarti ia sedang membangun neraka di dalam hatinya:
- Apakah hati saya penuh keluhan dan ketidakpuasan, serta menyalahkan orang lain atas kesialan saya?
- Apakah saya enggan terlibat dalam hal-hal yang tidak menguntungkan diri saya?
- Apakah perbuatan tidak bermoral dan menyakiti orang lain saya anggap bukan dosa?
- Apakah saya menyimpan dendam, kutukan, atau keinginan membalas seseorang?
- Selama tidak tertangkap hukum, apakah saya mau melakukan apa pun demi keuntungan pribadi?
- Apakah saya mudah iri pada keberhasilan orang lain dan hidup dengan pola egois?
- Apakah saya menolak keberadaan Tuhan, dan menjadikan kekuasaan, uang, ketenaran, atau ilmu sebagai “Tuhan” saya?
Jika jawabannya “ya”, maka seseorang sedang menciptakan neraka dalam batinnya. Namun masih ada kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri selagi hidup.
Hati Menciptakan Surga dan Neraka
Ajaran Buddha menekankan: “Segala sesuatu tercipta oleh pikiran; dunia yang muncul adalah hasil kesadaran kita.”
Satu niat bisa membawa ke surga, satu niat bisa menjatuhkan ke neraka.
Benar atau tidaknya hidup seseorang — sebelum dan sesudah mati — ditentukan oleh kualitas hatinya.
Saya sendiri seorang Kristen yang menerima baptisan, namun saya sangat percaya akan hukum sebab-akibat dalam ajaran Buddha.
Tidak ada satu agama pun yang perlu saling menolak.
Esensinya sama: Memiliki hati yang baik, berbicara baik, dan melakukan hal-hal baik — itulah bentuk spiritualitas yang paling nyata.
Karena dunia terlalu rumit, terlalu keras.
Setiap orang punya tugas spiritual masing-masing: “Setiap orang makan untuk dirinya sendiri; setiap orang melakukan perjalanan spiritual untuk dirinya sendiri.”
Melalui waktu, seseorang akan merasakan sendiri: berbuat baik dan menjauhi kejahatan membuat batin lebih tenang, lebih lapang, dan hidup lebih terang.
Kita tinggal di dunia yang penuh kebaikan dan kejahatan. Setiap orang membawa karakter, kebiasaan, dan karma dari masa lalu.
Namun walaupun sulit, perjalanan spiritual tetap layak ditempuh.
Cinta dan rasa syukur — keduanya adalah kekuatan yang mampu membersihkan jiwa.
Konon, banyak jiwa suci turun ke dunia untuk mengajarkan manusia kebenaran. Para dewa hanya membimbing, namun yang menentukan ke mana jiwa pergi setelah mati adalah pilihan moral manusia itu sendiri.
Yang jernih akan naik, yang keruh akan tenggelam. Semua ditentukan oleh perbuatan manusia selama hidup.
Saya pribadi mengakui bahwa dulu pernah melakukan banyak hal buruk — dan saya merasakan balasan langsungnya dalam kehidupan sekarang.
Namun setelah memahami hukum sebab-akibat, saya berusaha lebih banyak berbuat baik dan memperbaiki diri. Dan benar saja — hidup menjadi lebih baik.
Karena saya percaya, apa pun yang kita lakukan, langit melihat semuanya.
Baik dan buruk pasti ada balasannya. Karena itu, selama masih hidup, bertobatlah, luruskan niat, dan perbanyak berbuat baik.
Itulah jalan yang benar. (jhn/yn)


