EtIndonesia. Suatu hari, singa — yang dikenal sebagai raja hutan — datang menghadap dewa langit.
Singa berkata dengan hormat: “Terima kasih karena telah memberiku tubuh yang kuat dan gagah, juga kekuatan luar biasa yang membuatku mampu memimpin seluruh hutan ini.”
Dewa tersenyum dan menjawab: “Tapi sepertinya itu bukan alasanmu datang hari ini. Wajahmu terlihat sedang memikirkan sesuatu.”
Singa mengeluarkan geraman kecil, malu-malu, lalu berkata:“Benar, Dewa. Saya memang ada permintaan…”
Keluhan Sang Raja Hutan
“Walaupun saya kuat dan tidak ada yang bisa melawanku, setiap kali ayam berkokok di pagi hari, saya selalu terbangun karena terkejut. Dewa… saya mohon beri saya kekuatan tambahan agar saya tidak lagi takut pada suara ayam berkokok!”
Dewa tertawa lembut : “Pergilah temui gajah. Dia akan memberimu jawaban.”
Pelajaran dari Gajah
Singa pun berlari dengan semangat menuju danau. Sebelum melihat gajah, dia sudah mendengar suara “DUM! DUM!” dari tanah yang bergetar.
Saat mendekat, dia melihat gajah sedang marah besar, menghentakkan kaki tanpa henti.
Singa bertanya: “Mengapa kamu marah sekali?”
Gajah sambil menggoyang-goyangkan telinganya berkata dengan kesal: “Ada nyamuk kecil yang ingin masuk ke telingaku! Gatal sekali sampai aku hampir gila!”
Singa tercengang. Dia tak menyangka binatang besar seperti gajah bisa dibuat kacau oleh seekor nyamuk kecil.
Singa pun pergi sambil berpikir: “Jika makhluk sebesar gajah saja bisa diganggu oleh serangga sekecil itu, apa lagi yang perlu aku keluhkan?
Aku hanya terganggu sekali sehari — saat ayam berkokok. Gajah? Dia diganggu nyamuk setiap waktu!”
Semakin dipikir, semakin dia merasa dirinya beruntung.
Jawaban yang Dewa Inginkan
Singa menoleh ke arah gajah yang masih menghentakkan kaki, dan tiba-tiba dia mengerti: “Dewa ingin aku melihat ini… bahwa setiap makhluk di dunia pasti punya masalahnya sendiri. Dan tidak seorang pun — bahkan Dewa — bisa menghilangkan semua masalah dari kehidupan kita. Kalau begitu, aku harus mengandalkan diriku sendiri!”
Dia tersenyum dan berkata dalam hati: “Mulai sekarang, kalau ayam berkokok, aku anggap itu sebagai alarm bangun pagi saja. Kalau kupikir begitu, bukankah suara ayam itu justru berguna untukku?”
Ada sebuah kalimat yang sering kita dengar: “Tidak ada masalah yang tak bisa dilewati, yang ada hanyalah hati yang tak mau melewatinya.”
Semakin dewasa, semakin kita mengerti makna kalimat ini.
Alasan kita bisa berkata: ‘sudah, lupakan saja’ bukan karena kita sudah sempurna atau bijak,
melainkan karena kita sadar: hidup terlalu singkat untuk terus terjebak dalam kekesalan dan kekhawatiran yang sama.
Semakin kita belajar melihat dari sudut pandang berbeda, semakin cepat hati menjadi ringan.
Yang Bisa Diubah Hanya Diri Sendiri
Dalam perjalanan hidup, kita akhirnya mengerti:
- Kita tidak mungkin mengubah orang lain.
- Kita tidak bisa mengulang masa lalu, namun kita bisa lebih menghargai hari ini.
- Kita tidak perlu menyalahkan orang lain hanya karena cara pandangnya berbeda dari kita.
Terkadang, ketika kesialan menimpa, yang kita butuhkan bukan kekuatan super, tetapi perspektif yang baru — seperti singa yang akhirnya tidak lagi takut pada suara ayam. (yn)


