Sejumlah praktisi Falun Gong mengalami baju robek, perlengkapan dirusak dan dipukuli oleh kelompok pro-Partai Komunis Tiongkok (PKT)
EtIndonesia. Para praktisi Falun Gong yang menggelar aksi dalam rangka menentang kunjungan pejabat tinggi PKT, Zhao Leji selama dua hari menghadapi pelecehan yang dilancarkan oleh kelompok pro-Partai Komunis Tiongkok.
Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah suatu praktik spiritual yang berpusat pada prinsip Sejati, Baik, Sabar. Diperkenalkan ke publik di Tiongkok pada awal 1990-an, praktik ini menjadi sangat populer, dengan perkiraan jumlah praktisi mencapai antara 70 juta hingga 100 juta orang pada akhir dekade tersebut, menurut data resmi pemerintah.
Pada Juli 1999, Partai Komunis Tiongkok (PKT), karena khawatir popularitas Falun Gong mengancam kekuasaan rezim komunis, memulai kampanye brutal untuk memberantas praktik ini. Sejak saat itu, banyak praktisi mengalami penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, penyiksaan, dan bahkan kematian akibat pengambilan organ paksa.
Selama 24–25 November 2025, komunitas Falun Gong Australia melakukan aksi protes terhadap penganiayaan yang telah berlangsung selama 25 tahun serta praktik pengambilan organ dari praktisi yang ditahan.
Cao Zhuxing dari Sydney, bajunya menjadi sobek yang dilakukan oleh anggota Asosiasi Fuqing yang pro-PKT. Massa ini menghabiskan sebagian besar hari mereka mencoba menutupi spanduk yang menyerukan pertanggungjawaban PKT atas pelanggaran HAM.
Cao berada dekat Hyatt Hotel Canberra — tempat pejabat PKT Zhao menginap — ketika dia dihadang oleh kelompok Fuqing.

“Mereka mulai merekam, jadi saya juga merekam. Salah satu dari mereka menuntut saya menghapusnya. Saya tidak melakukan apa-apa, jadi mereka mencoba merampas ponsel saya, tapi saya berhasil lolos,” kata Cao kepada The Epoch Times.
“Mereka mengejar saya dan merobek baju saya. Ada orang lain yang jatuh ke jalanan, tapi saya tidak peduli dan terus berlari.”
Pengunjuk rasa komunitas Falun Gong lainnya, Layla Gu, mengalami hal serupa.
“Kami sedang memasang spanduk hari ini, saya dan saudara perempuan saya melakukannya bersama. Kemudian, orang-orang dari Asosiasi Fuqing mulai mengganggu dan menghalangi kami. Saat kami memasang spanduk, mereka memblokir dengan spanduk mereka sendiri,” kata Gu kepada The Epoch Times dalam bahasa Mandarin.
Masalah semakin memanas ketika seorang demonstran tandingan meraih tiang bendera miliknya.
“Melihat agresivitas mereka terhadap praktisi Falun Gong, saya menghentikannya dan berkata, ‘Jangan sentuh barang saya,’” ujar Gu, sambil memperingatkan bahwa dia akan memanggil polisi.
Meski orang tersebut melepaskan tiang setelah mendengar peringatan, tiang bendera sudah rusak.
“Kami memasang spanduk untuk mempromosikan ‘Falun Dafa itu baik,’ dan ‘Sejati, Baik, Sabar itu baik,’” kata Gu.
“Ini adalah tujuan yang benar, tapi mereka datang untuk mengganggu dan merusaknya.”

Kunjungan Zhao juga memicu kontroversi di gedung Parlemen Federal Australia.
Dalam langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, anggota parlemen dan penasihat Australia diperingatkan mengenai potensi risiko keamanan siber saat berada dekat delegasi PKT.
Sebelum kunjungan, Departemen Layanan Parlemen (DPS) mengedarkan panduan agar orang mematikan perangkat mereka, bahkan menyertakan rute delegasi di gedung Parlemen.
Zhao secara resmi berada di bawah pemimpin PKT Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Qiang dalam hierarki partai. Dia memainkan peran utama dalam penganiayaan Falun Gong. Bahkan, pada bulan lalu menjadi sasaran dorongan sanksi di Amerika Serikat.

Staf Kedutaan PKT Menyaksikan Agresi
Sunny Wang, yang melakukan protes di kedutaan PKT diusir oleh anggota Fuqing.
“Karena takut mereka akan bertindak kekerasan, saya merekam video sebagai bukti. Seorang pemimpin dari Asosiasi Fuqing menjerit dengan marah dan sangat agresif,” kata Wang.
“Kemudian, beberapa orang berpakaian jas dengan emblem bintang lima PKT di dada, yang tampak sebagai staf kedutaan, datang untuk memantau situasi, dan individu pro-PKT menjadi lebih agresif dan kasar. Salah satu bahkan menggunakan tiang bendera untuk memukul kepala saya dan mendorong saya sehingga hampir jatuh. Orang itu juga mencoba merampas ponsel saya. Belakangan, salah satu staf kedutaan mendekat dan mengancam, mengatakan jika saya terus merekam, dia akan membuang ponsel saya.”

Asosiasi Fuqing mengklaim mewakili 10.000 warga Tionghoa-Australia di Sydney dan aktif mencoba menutup kegiatan Falun Gong, termasuk mengirimkan pengajuan ke pertemuan dewan untuk menentang peringatan resmi Hari Falun Dafa Sedunia.
“Di masyarakat demokratis dan bebas Australia, PKT mengirimkan pendukungnya untuk melakukan tindakan diktatorial dan otoriter guna menganiaya organisasi dan pembangkang lintas batas,” ujar Wang.
Aktivitas Fuqing berlangsung di tengah peringatan berkelanjutan mengenai represi transnasional oleh aktor asing — bagi G7 disebut sebagai bentuk ‘campur tangan asing’ yang agresif untuk membungkam kritik di luar negeri.
Kasus Cao dan Gu sedang dilaporkan ke Kepolisian Australian Capital Territory (ACT). The Epoch Times juga mencoba menghubungi Asosiasi Fuqing, tetapi tidak mendapat konfirmasi atau jawaban.

Dr. Lucy Zhao, presiden Asosiasi Falun Dafa Australia, menyatakan perlunya pengawasan lebih terhadap campur tangan asing secara lokal.
“Organisasi ini tidak terdaftar sebagai agen asing sesuai ketentuan [Foreign Influence Transparency Scheme]. Jadi kami menilai kegiatan mereka tidak pantas, bahkan melanggar hukum,” katanya kepada The Epoch Times. (***)


