EtIndonesia. Kita sering menempatkan hidup kita dalam berbagai “koordinat”—sumbu vertikal adalah status, sumbu horizontal adalah kekayaan—lalu menghabiskan seumur hidup membandingkan diri dengan orang lain di dalam koordinat itu.
Sejak SD, setiap kali ujian selesai, guru akan mengumumkan nilai dan peringkat. Para murid yang nilainya rendah akan merasa malu di depan seluruh kelas.
Dari sistem seperti itu, terbentuklah dua jenis orang:
- Mereka yang dipacu untuk bersaing, berusaha mengejar yang terbaik, dan akhirnya benar-benar berhasil.
- Mereka yang kehilangan percaya diri, tenggelam dalam rasa tidak berharga, dan akhirnya menjalani hidup dalam bayang-bayang rendah diri.
Padahal, setiap orang di dunia memiliki “posisi”-nya sendiri. Tidak ada posisi yang lebih rendah atau lebih tinggi—yang penting adalah, ketika kita berdiri di tempat yang tepat untuk diri sendiri, hati kita akan puas, dan itu sudah merupakan hidup yang membahagiakan.
Mereka yang tidak sibuk membandingkan diri dengan orang lain, dan hanya fokus pada hidupnya sendiri—adalah mereka yang merasakan kebahagiaan sejati.
Kita semua pernah mengalaminya: membeli ponsel baru membuat kita senang beberapa hari, membeli rumah membuat kita senang beberapa bulan, lalu semuanya kembali terasa biasa. Bahkan miliarder sekalipun — yang bisa membeli hampir semua hal di dunia — tingkat kebahagiaannya tidak selalu lebih tinggi daripada masyarakat biasa.
Kesalahan lain yang sering kita lakukan: berharap orang lain memperlakukan kita sama baiknya seperti kita memperlakukan mereka.
- Kita tersenyum pada orang lain, lalu berharap mereka tersenyum balik.
– Kita membantu orang lain, lalu berharap mereka selalu berterima kasih.
– Kita memberi seseorang apel, lalu berharap dibalas jeruk.
Dan dari sinilah hidup penuh perhitungan mulai lahir.
- Ketika bekerja, kita berpikir: “Perlu tidak sih saya kerja keras? Toh bos mungkin tidak akan memberi saya lebih.”
– Saat makan dengan teman, kita menghitung: “Terakhir aku yang bayar. Kali ini kalau aku bayar lagi, rugi dong.”
– Bahkan ketika jatuh cinta, kita pun menghitung untung-rugi: “Apakah keluarga pasangan punya sesuatu yang menguntungkan masa depan saya?”
Dengan pemikiran seperti ini, bagaimana hati bisa lapang? Hidup yang penuh perhitungan dan kalkulasi adalah hidup yang sempit. Hati yang tertutup tidak akan pernah melihat keindahan dunia.
Pengalaman di Taiwan: senyum yang lahir dari hati yang damai
Saat saya dinas ke Taiwan, saya perhatikan hampir semua orang tersenyum dengan begitu tulus.
Di imigrasi, petugas tersenyum ramah dan berbicara lembut. Di dalam taksi, sopir bersikap sopan dan hangat. Saat bertanya arah, orang yang ditanya menjelaskan dengan detail, bahkan bersedia berjalan menemani beberapa langkah.
Kebaikan dan keramahan itu jelas bukan karena aturan, tetapi lahir dari ketenangan dan kepuasan batin.
Mereka bahagia dengan pekerjaan mereka, tidak merasa rendah diri, karena tidak membandingkan diri dengan orang lain. Mereka tersenyum pada setiap orang, karena sadar—even if the other person doesn’t smile back—setidaknya mereka telah memberikan kehangatan.
Ini sangat berbeda dengan pengalaman saya di beberapa kota di Tiongkok daratan. Saat berjalan di jalanan, saya melihat banyak orang memendam kebingungan, kecemasan, ketidakpuasan, dan rasa lelah di wajah mereka.
Saat kita berhenti membandingkan dan berhenti menghitung untung-rugi, barulah hidup terasa “hidup”.
Hidup hanya satu kali, dan kita tidak tahu kapan akan berakhir. Mengapa tidak menjadikan setiap hari bernilai seperti seumur hidup?
Selama kita bisa menemukan posisi kita sendiri, menjaga hati tetap lapang, dan menjalani hari dengan rasa cukup—hidup ini akan menjadi jauh lebih ringan, indah, dan damai. (jhn/yn)


