EtIndonesia. Sebuah video baru-baru ini menjadi viral di kalangan pengguna media sosial Barat. Seorang wanita keturunan Tionghoa menggunakan perhitungan AI dan mendapatkan hasil mengejutkan: jumlah populasi sebenarnya di Tiongkok daratan kemungkinan besar bukan 1,4 miliar seperti yang diklaim rezim Tiongkok selama ini, melainkan hanya sekitar 500–600 juta.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak video dari warganet menunjukkan munculnya desa-desa kosong dan “kota hantu”, serta penurunan populasi yang parah di berbagai wilayah. Pada saat yang sama, banyaknya kasus orang hilang—terutama remaja—kembali memicu kecurigaan publik terkait dugaan perdagangan organ oleh pihak berwenang.
Baru-baru ini, seorang wanita bernama Xi Lei dalam sebuah acara podcast menyampaikan hasil hitungan AI yang memicu perhatian luas. Ia mengatakan bahwa populasi sebenarnya di Tiongkok kemungkinan hanya 5–6 ratus juta, jauh dari angka resmi 1,4 miliar.
Xi Lei mengatakan: “Ya, saya memprediksi populasi itu lebih rendah—sekitar 400–500 juta, di bawah 500 juta.”
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak netizen Tiongkok mengunggah video yang menunjukkan bahwa populasi di berbagai kota besar menurun drastis. Banyak pusat keramaian seperti mal, pusat kota, dan stasiun—yang dulu dipadati manusia—kini tampak sepi dan kosong. Di provinsi Jiangxi, Guangxi, Guangzhou, Fujian, Anhui, Hubei, Hunan, bahkan sampai Mongolia Dalam dan Liaoning, bermunculan desa-desa kosong, kota kecil kosong, dan kota hantu.
Dalam video disebutkan: “Beijing semakin sepi. Di kota-kota besar pun, orang terasa semakin sedikit. Dulu daerah ini sangat ramai, tapi sekarang semakin sunyi. Ada yang bilang desa-desa sepi, kota kecil juga sepi, jadi pertanyaan lucunya adalah: ke mana semua orang pergi?”
Dalam video lain disebutkan: “Satu kota kecil ini lengkap—ada rumah sakit, sekolah, bank, kantor polisi—tapi semuanya terbengkalai.”
Video lain menunjukkan: “Desa-desa di timur laut sekarang betul-betul tidak ada orang!”
Seiring dengan beredarnya isu-isu yang menghebohkan seperti “artis kembali muda”, “transfusi darah anak muda untuk memperpanjang hidup”, hingga kabar bahwa pimpinan PKT ingin hidup sampai 150 tahun, perhatian publik kembali tertuju pada banjirnya pengumuman orang hilang di platform media sosial Tiongkok.
Menurut data tidak lengkap, hanya dalam 9 hari antara 11–19 November, terdapat setidaknya 79 orang hilang, yang termuda berusia 2 tahun.
Sebelumnya, sebuah “daftar orang hilang” untuk periode 1–10 November menunjukkan lebih dari 100 orang hilang, banyak diantaranya remaja belasan tahun, serta orang dewasa usia 30–40 tahun.
Seorang pria dalam video berkata: “Akhir-akhir ini kasus hilangnya orang dewasa semakin banyak, bukan hanya anak-anak. Ini membuat orang ketakutan.”
Pada 2017, media resmi PKT melaporkan bahwa setiap tahun ada 1 juta orang hilang, dan jumlahnya terus meningkat. Namun, banyak pihak meyakini bahwa angka sebenarnya jauh lebih tinggi.
Media Minzhong Guancha melaporkan bahwa Tiongkok adalah negara dengan jumlah orang hilang terbesar di dunia, menandakan bahwa keselamatan pribadi di negara tersebut nyaris tidak terjamin. Terutama hilangnya banyak siswa sekolah dasar dan menengah secara misterius membuat publik mencurigai kaitannya dengan industri transplantasi organ.
Rezim Tiongkok telah menghabiskan dana pajak yang sangat besar untuk membangun sistem pengawasan “Skynet” dengan hampir 700 juta kamera, namun tetap gagal menghentikan gelombang kasus orang hilang—yang semakin menguatkan dugaan adanya keterlibatan pihak berkuasa dalam jaringan gelap tersebut.
“Sekarang, perampasan dan pencurian organ sudah menjadi hal yang umum di Tiongkok. Kita sering melihat video dan gambar di internet, anak-anak dan remaja diculik bahkan di depan rumah mereka. Kenyataan bahwa hal ini bisa terjadi selama puluhan tahun membuktikan bahwa rezim tersebut sendiri terlibat dalam kebiadaban ini. Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa rezim Tiongkok adalah pelaku utama dalam kejahatan besar ini,” kata Wakil Ketua Front Demokrasi Tiongkok, Sheng Xue.
Tahun lalu, Laporan Perdagangan Manusia 2024 yang dirilis Departemen Luar Negeri AS kembali menempatkan Tiongkok di kategori terburuk Tier 3. Laporan tersebut secara khusus menyebut bahwa rezim PKT dituduh melakukan “pengambilan organ hidup secara sistematis” terhadap kelompok tertentu. (Hui/asr)
Laporan oleh Tang Rui, New Tang Dynasty Television


