Sebuah Cerita Rakyat : Memilih Berkah atau Harta

EtIndonesia. Dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri yang lama tidak dikaruniai anak. Mereka berdoa siang dan malam, memohon kepada Tuhan agar diberi keturunan. Doa mereka akhirnya terkabul—mereka memiliki seorang putra, dan tidak lama kemudian lahirlah seorang putri.

Waktu berlalu, anak-anak itu tumbuh besar. Suatu hari sang ayah jatuh sakit parah. 

Menjelang akhir hidupnya, ia memanggil kedua anaknya dan bertanya: “Kalian ingin apa dariku? Berkahku, atau hartaku?”

Putranya menjawab tanpa ragu: “Aku ingin harta.”

Sedangkan putrinya berkata lembut: “Aku ingin berkah Ayah.”

Sang ayah kemudian meletakkan tangan di kepala putrinya, memberinya doa dan restu. Tak lama kemudian, dia meninggal dunia.

Beberapa waktu setelah pemakaman ayahnya, ibu juga jatuh sakit dan tahu hidupnya tak lama lagi. Dia memanggil anak-anaknya dan bertanya hal yang sama: “Kalian ingin berkatku, atau hartaku?”

Putranya kembali menjawab: “Harta! Itu saja yang aku mau.”

Putrinya menjawab: “Ibu, berkahilah aku.”

Sang ibu memberikan restu kepada putrinya, lalu menutup mata untuk selamanya.

Sang Kakak Menyapu Bersih Segala Warisan

Setelah kedua orangtua mereka dimakamkan, sang kakak masuk ke kamar adiknya dan mengambil semua peninggalan orangtua—emas, barang-barang, perabot, bahkan pakaian.

Orang-orang di sekitar bertanya: “Kenapa kamu tidak memberikan sedikit pun untuk adikmu?”

Dan dia menjawab dengan angkuh: “Dia sudah memilih berkah. Aku memilih harta. Maka akulah yang layak memilikinya.”

Yang tersisa hanyalah sebuah lesung kecil dan sebuah panci tua, karena menurutnya itu tak berharga. Tetangga-tetangga yang butuh meminjam lesung atau panci itu memberi sang adik sedikit makanan, sehingga dia tetap bisa hidup.

Suatu hari, dia menyusuri seluruh rumah peninggalan orangtuanya, dia hanya menemukan beberapa biji benih labu. Dia menanam biji itu di pinggir sumur. Waktu berlalu, tanaman labu tumbuh dengan subur dan menghasilkan banyak buah besar.

Labu Ajaib yang Membawa Rezeki

Sang kakak akhirnya penasaran dan bertanya kepada orang-orang:“Dari mana adikku mendapatkan makanan?”

Tetangga menjelaskan: “Dia meminjamkan lesung dan panci, orang-orang memberi sedikit makanan sebagai balasan.”

Mendengar itu, kakaknya kembali datang ke rumah sang adik dan merampas lesung dan pancinya. Kini sang adik benar-benar tidak punya apa-apa.

Pagi berikutnya, lapar dan putus asa, dia pergi ke sumur. Betapa terkejutnya saat dia melihat labu-labu besar telah tumbuh. Dia memanen beberapa dan menjualnya. 

Orang-orang yang memakannya berkata: “Labu ini manis sekali! Belum pernah kami makan yang semanis ini!”

Kabar menyebar; banyak orang membawa makanan untuk ditukarkan dengan labu. Sang adik pun perlahan menjadi sejahtera.

Keserakahan Sang Kakak

Istri kakaknya mendengar kabar itu. Dia memanggil seorang budak dan berkata: “Bawa ini—beras dan makanan. Tukarkan dengan labu dari adik suamiku.”

Budak itu pergi. Ketika sang adik tahu budak itu datang dari keluarga kakaknya, dia memberikan satu-satunya labu yang tersisa, tanpa meminta balasan apa pun.

Setelah mencicipinya, istri kakaknya semakin tamak dan mengirim budak itu lagi untuk mengambil labu yang lain. 

Tetapi kali ini sang adik berkata: “Labu yang lain belum tumbuh. Sudah habis.”

Budak itu pulang dan menyampaikan berita itu. 

Istri kakaknya merasa sangat marah: “Bagaimana mungkin dia bilang tidak ada, padahal orang lain bisa membeli darinya?”

Ketika suaminya pulang, dia melampiaskan kemarahannya.

Sang kakak pun menggeram: “Besok aku akan pergi dan memetik semua labunya!”

Tragedi yang Menyayat Hati

Keesokan paginya, kakaknya datang dan menghardik: “Istriku mengirim makanan untukmu. Kenapa kamu tidak memberinya labu?”

Sang adik menjawab tenang: “Karena memang sudah tidak ada, Kak.”

“Kenapa kamu menjual kepada orang lain?”

“Aku tidak menjual apa pun. Labu-labu itu sudah habis dipetik.”

Sang kakak tidak percaya. Dia menuju kebun labu dan berkata: “Aku akan memetik satu sendiri!”

Sang adik menahan dengan panik dan berkata: “Kalau kakak tetap ingin mengambilnya… potong dulu tanganku!”

Yang mengejutkan—kakaknya benar-benar tega melakukannya. Dia menebas tangan kanan adiknya, memetik semua labu yang masih kecil, lalu mengambil seluruh barang-barang sang adik dan mengusirnya dari rumah.

Dia bahkan menjual rumah itu dan mengambil seluruh uangnya.

Sementara sang adik, yang terluka dan kehilangan segala-galanya, hanya dapat berjalan terseret memasuki hutan seorang diri.(yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine