AI Berdaulat Diproyeksikan Tambah PDB Indonesia USD140 Miliar pada 2030

Jakarta, 28 November 2025 – Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 8% dan status negara berpenghasilan tinggi pada 2038 melalui visi Asta Cita. Salah satu pendorong utamanya adalah penerapan kecerdasan artifisial (AI) yang berdaulat. Hal ini diungkap dalam Empowering Indonesia Report 2025 yang diluncurkan oleh Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) bersama Twimbit, dengan tema “Building Bridges of Tomorrow”.

Laporan tersebut menyoroti lima pilar utama menuju kedaulatan AI, yaitu: infrastruktur digital andal, tenaga kerja AI berkelanjutan, industri AI yang tumbuh, riset dan pengembangan yang mumpuni, serta regulasi dan etika yang kokoh. Jika dijalankan secara strategis, AI berdaulat diproyeksikan dapat menambah USD140 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2030, meningkatkan pertumbuhan ekonomi tahunan hingga 6,8%, serta mempercepat capaian status negara berpenghasilan tinggi menjadi 2041, atau bahkan 2038 dalam skenario terbaik.

“AI bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang kemandirian bangsa. Kedaulatan AI berarti kita membangun teknologi yang merefleksikan nilai-nilai Pancasila, menjamin etika dan keamanan, serta memastikan manfaatnya dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat,” ujar Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika RI.

Dari sisi infrastruktur, Indonesia membutuhkan investasi sebesar USD3,2 miliar hingga 2030 untuk memenuhi kebutuhan komputasi nasional. Saat ini, pusat data AI di Indonesia baru mencakup kurang dari 1% dari pasar global, sehingga diperlukan percepatan pembangunan pusat data berbasis energi terbarukan dan perluasan jaringan 5G.

Selain itu, laporan ini juga menyoroti pentingnya pengembangan 400 ribu talenta AI pada 2030, dengan investasi sebesar USD968 juta untuk pendidikan, pelatihan, dan reskilling. Saat ini, Indonesia telah memiliki 364 startup AI dengan total pendanaan mencapai USD1,08 miliar, serta inisiatif riset nasional seperti Sahabat-AI V2 – model bahasa besar yang mendukung bahasa Indonesia dan beberapa bahasa daerah.

Vikram Sinha, Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, menegaskan komitmen perusahaan sebagai mitra bangsa dalam mempercepat kedaulatan digital. “Kedaulatan AI bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang membangun masa depan yang dimiliki dan dikendalikan oleh Indonesia sendiri,” katanya.

Laporan ini ditutup dengan seruan aksi kolaboratif lintas sektor untuk mewujudkan ekosistem AI yang berdaulat, menguatkan fondasi infrastruktur, serta membangun talenta dan tata kelola AI yang beretika.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine