EtIndonesia. Suatu hari, ketika Cui Yongyuan sedang melakukan syuting program di Amerika, dia melihat sebuah truk besar terparkir di pinggir jalan. Truk itu tampak indah dan gagah, penuh muatan namun tetap sangat bersih. Di dalam kabinnya tergantung berbagai hiasan kecil, menunjukkan betapa pemiliknya sangat menyayangi kendaraannya.
Sopir truk itu berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh kekar, mengenakan topi baseball, memakai setelan jas, dan janggutnya dicukur rapi sehingga kulit wajahnya tampak bersih kebiruan. Penampilannya sama sekali tidak membuat orang menyangka bahwa dia adalah seorang pengemudi truk besar. Mendengar bahwa Cui ingin mewawancarainya, dia dengan ramah menggandeng tangan Cui dan mengajaknya naik ke truk.
Di belakang kursi kemudi terdapat sebuah meja kecil, lengkap dengan laptop dan beberapa buku. Di dinding kabin terdapat rak buku, televisi LCD, kulkas, sofa, bahkan kamar mandi dan ruang untuk mandi. Cui tak kuasa menahan kekagumannya, dia berkata bahwa truk itu seperti rumah berjalan.
Sang sopir tersenyum dan berkata: “Betul. Ke mana pun saya pergi, rumah saya ikut bersama saya. Saya hampir sudah menjelajahi seluruh Amerika.”
Wajahnya penuh kebanggaan dan kegembiraan.
Cui kemudian bertanya: “Kapan pertama kali Anda memiliki cita-cita untuk menjadi sopir truk?”
Sopir itu menjawab: “Saat saya berusia enam tahun. Waktu itu saya sudah bermimpi ingin mengemudikan truk besar ketika dewasa. Saya sering membayangkan betapa bahagianya berkeliling ke berbagai daerah dengan truk besar.”
Jawaban itu membuat Cui tertegun. Dalam hatinya dia bertanya-tanya: Mengapa cita-citanya bukan menjadi ilmuwan, pengacara, dokter, atau guru? Mengapa justru “hanya” menjadi sopir truk?@
Melihat ekspresi heran Cui, sopir itu tersenyum sambil melanjutkan ceritanya: “Saat saya berusia enam tahun, ayah membelikan saya mobil truk mainan. Truk itu sangat keren. Ketika tombolnya dinyalakan, truk itu bergerak lincah di lantai—bisa memanjat, bisa berbelok. Saya begitu gembira. Lalu saya berkata kepada ayah: ‘Ayah, nanti kalau aku besar, aku mau mengemudikan truk dan keliling ke berbagai tempat!’ Ayah menepuk bahu saya dan berkata: ‘Anak hebat! Asal kamu berusaha, suatu hari kamu pasti bisa mengemudikan truk besar.’”
Sejak itu, ayahnya sering membelikan mobil truk mainan. Sopir itu kecil suka membongkar dan memasang kembali kendaraannya. Kerabat dan teman sering memuji kecerdasannya, dan menyuruh anak-anak mereka mencontoh dirinya.
Setelah lulus SMP, dia masuk sekolah kejuruan otomotif, lalu bekerja di perusahaan transportasi. Akhirnya, dia benar-benar berhasil mengemudikan truk besar yang selama ini dia impikan. Ketika pertama kali mengemudi, ayah dan ibunya menangis haru.
Saat bercerita tentang perjalanan kariernya, sopir itu tampak tenggelam dalam kebahagiaan yang mendalam.
Cui pun berkata dengan penuh rasa hormat: “Tidak ada cita-cita yang lebih tinggi atau lebih rendah. Orang yang bisa mengirim satelit ke angkasa layak dihormati; begitu pula orang yang mampu menjadikan truknya sebagai ‘rumah berjalan’ yang indah dan penuh kenyamanan. Keduanya sama-sama menunjukkan tingkat peradaban dan kemajuan masyarakat.”
Cita-cita
Seorang anak laki-laki kecil selalu mengatakan bahwa dia ingin berdagang di pasar (berjualan di lapak jalanan) ketika besar nanti.
Ibunya menegurnya: “Jangan bilang mau berjualan di pasar! Tidak ada masa depannya! Kalau ada yang bertanya, bilang kamu mau kuliah di luar negeri—masuk Harvard!”
Setelah itu, setiap ada yang bertanya : “Kalau besar nanti kamu mau jadi apa?”
Dia pun menjawab: “Kuliah di luar negeri, masuk Harvard.”
Orang itu lalu bertanya lagi : “Setelah lulus dari Harvard, lalu kamu mau jadi apa?”
Anak itu melirik dan menjawab dengan polos: “Ya berdagang di pasar dong!”(jhn/yn)


