EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengguncang politik imigrasi AS dengan pernyataan paling radikal sejak dia kembali menjabat. Dalam unggahan di Truth Social pada Jumat, 28 November 2025, Trump mengumumkan bahwa AS akan menghentikan secara permanen seluruh imigrasi yang berasal dari negara-negara Dunia Ketiga, sebuah langkah yang langsung memicu perdebatan global.
Deklarasi yang Mengejutkan Amerika dan Dunia
Trump menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil menyusul insiden penembakan pada 27 November 2025 di dekat Gedung Putih, yang menewaskan seorang anggota Garda Nasional AS. Pelaku disebut sebagai imigran asal Afghanistan — salah satu dari puluhan ribu warga Afghanistan yang dievakuasi pada masa pemerintahan Joe Biden tahun 2021–2022.
Trump menuduh bahwa proses pemeriksaan imigrasi di era Biden “amat longgar” sehingga “membuka celah keamanan yang fatal”.
Dalam pernyataan resminya, Trump menulis:
- AS akan “permanently pause” (menghentikan secara permanen) imigrasi dari negara-negara Dunia Ketiga.
- Semua persetujuan imigrasi yang dikeluarkan sejak pemerintahan Biden akan ditinjau ulang atau dicabut.
- AS akan mengusir seluruh warga asing yang dianggap tidak memberikan manfaat bagi negara.
- Pemerintah akan menghapus seluruh tunjangan federal bagi non-warga negara.
- Dan ia “mempertimbangkan pencabutan kewarganegaraan” bagi imigran yang menimbulkan ancaman ketertiban.
Namun, Trump tidak menyebut negara mana saja yang tergolong “Dunia Ketiga”. Pengamat menilai bahwa kategorinya bisa sangat luas dan bersifat politis—berpotensi mencakup sebagian besar Asia, Afrika, Amerika Latin, hingga negara berkembang di Eropa.
Makna “Permanen”: Kontroversi dan Interpretasi Politik
Pernyataan Trump langsung memicu perdebatan di komunitas internasional—termasuk komunitas berbahasa Mandarin di Amerika.
Banyak yang bertanya:
Apakah “permanen” berarti selamanya, atau hanya selama Trump memimpin?
Setelah ditelaah, jurnalis menemukan bahwa teks asli Trump memang menggunakan istilah “permanent pause”, bukan “temporary suspension”. Namun sejumlah analis menilai bahwa “permanent” kemungkinan bersifat politis dan akan berlaku sepanjang masa jabatan Trump, kecuali Kongres mengesahkan kebijakan tersebut menjadi undang-undang.
Hingga kini, Gedung Putih belum mengeluarkan dokumen resmi yang merinci implementasi kebijakan itu.
Semua Proses Imigrasi Afghanistan Dihentikan
Pada 27 November 2025, USCIS (Layanan Imigrasi dan Kewarganegaraan AS) mengumumkan penghentian penuh proses imigrasi bagi seluruh warga Afghanistan. Tidak ada batas waktu yang ditentukan.
Sementara itu, Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) mengonfirmasi bahwa Trump telah memerintahkan peninjauan ulang semua kasus suaka dan green card dari 19 negara yang disetujui pada era Biden.
Langkah-langkah itu menandai perubahan drastis kebijakan imigrasi AS yang belum pernah terjadi sejak pasca-Perang Dunia II.
Tiongkok Gerah: Washington Perketat Visa bagi Pendukung PKT
Ketegangan AS–Tiongkok makin meningkat setelah Washington memberlakukan kebijakan visa baru yang menyasar individu yang dinilai mendukung kepentingan Partai Komunis Tiongkok (PKT), terutama yang terlibat dalam pengaruh politik di kawasan Amerika Tengah.
Rubio Umumkan Aturan Visa Baru
Pada 25 November 2025, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menyatakan bahwa:
“Siapa pun — termasuk keluarga dekat — yang terbukti mendukung kegiatan PKT, atau berkontribusi pada instabilitas politik di wilayah Amerika Tengah, akan diblokir masuk ke Amerika Serikat.”
Kebijakan ini merupakan perluasan dari aturan “global malign influence”, yang sebelumnya menyasar pejabat PKT, pengusaha tertentu, serta individu yang terlibat dalam operasi intelijen Beijing.
Tiongkok Protes Keras, Lalu Menghapus Postingannya Sendiri
Pada 26 November 2025, Kedutaan Besar Tiongkok di Washington memprotes keras melalui akun resmi X (Twitter), menuduh AS:
Menggunakan visa sebagai “alat politik”, melanggar prinsip Piagam PBB, dan melakukan “intervensi terhadap urusan internal negara lain”.
Namun komentar warga AS dan internasional justru balik menyerang. Salah satu komentar paling banyak dibagikan berbunyi: “Visa Amerika adalah urusan internal Amerika. Yang menentukan siapa boleh masuk, ya Amerika sendiri.”
Sebagian warganet juga menyinggung sejarah panjang keterlibatan Beijing dalam bisnis, investasi, dan politik negara-negara Amerika Tengah — mulai dari Panama, Honduras, hingga Suriname.
Tak lama setelah kritik membludak, akun Kedutaan Tiongkok menghapus pernyataan tersebut, memicu gelombang olok-olok: “Baru beberapa jam protes, langsung dihapus. Bahkan mereka sendiri malu.”
Kesimpulan
Deklarasi Trump tentang penghentian permanen imigrasi dari negara Dunia Ketiga—ditambah kebijakan visa baru Washington yang menyudutkan PKT—membuat hubungan geopolitik dan diplomasi global semakin memanas di akhir November 2025.
Dengan insiden keamanan, revisi kebijakan imigrasi besar-besaran, serta respons keras dari Beijing, AS kini memasuki fase baru yang dianggap banyak analis sebagai periode paling tegang dalam kebijakan imigrasi dan persaingan strategis AS–Tiongkok sejak 2017.


