Kisah Filsafat: Hidup Sebenarnya Tidak Ada Penderitaan

EtIndonesia.  Dalam film dokumenter Prancis “Microcosmos”, ada sebuah adegan yang sangat menarik: Seekor kumbang penggulung kotoran sedang mendorong bola kotorannya di jalan pegunungan yang tidak rata. Di sana penuh batu kerikil dan gumpalan tanah, namun dia tetap mendorongnya dengan kekuatan.

Tidak jauh di depannya, ada sebuah duri tumbuhan yang besar—pangkalnya tebal, ujungnya runcing, dan posisinya miring mencuat dari tanah.

Entah karena kebetulan atau takdir kecil yang mempermainkannya, si kumbang justru mendorong bola kotoran itu tepat ke arah duri tersebut. Dalam sekejap, bola itu tertancap dalam.

Anehnya, kumbang itu tampak sama sekali tidak menyadari bahwa dia sedang menghadapi “bencana kecil”. Dia mendorong ke depan, tetapi bola itu tidak bergerak. Dia kemudian memundurkan badan dan mencoba menekan dari belakang, tetap tidak berhasil. Dia bahkan membersihkan tanah di sekitar bola itu, berusaha mengangkatnya dari sisi lain — semua cara yang bisa dia pikirkan, sudah dia coba. Namun bola itu tetap terpaku, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda untuk lepas.

Melihat itu, aku sempat ingin tertawa. Untuk makhluk sekecil itu, dengan kecerdasan yang sangat sederhana, tentu saja masalah sebesar ini tampak mustahil untuk dipecahkan.

Ketika aku sedang menunggu momen dia putus asa dan meninggalkan bola itu dengan lesu, tiba-tiba saja, dia berjalan ke sisi lain bola tersebut, memberi satu dorongan ringan…

Gluduk— bola yang keras kepala itu pun terlepas seketika dari duri tersebut.

Dia menang. Tidak ada sorak kemenangan, tidak ada hembusan lega setelah keluar dari kesulitan. Setelah menang, si kumbang tidak berhenti, tidak menoleh, tidak merayakan.

Seolah-olah apa yang terjadi barusan bukan masalah besar sama sekali. Dia hanya kembali mendorong bola itu dan bergegas melanjutkan perjalanannya. Dan tinggallah aku—seorang penonton—terdiam terpaku menyaksikan momen itu.

Mungkin di jalan hidupnya, dia sudah terbiasa menghadapi hal-hal seperti itu. Mungkin makhluk kecil ini hidup tanpa perlu memikirkan berbagai “kebijaksanaan” seperti manusia. Mungkin dalam konsep hidupnya, dia bahkan tidak mengenal apa itu “menang” atau “kalah”.

Bisa mendorong bola itu maju — itu hidup. Tidak bisa mendorongnya maju — itu juga hidup.

Renungan Hidup

Mungkin di perjalanan hidup, kumbang itu sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Dia hidup tanpa perlu memikirkan banyak hal seperti manusia, tanpa harus menghitung untung rugi, tanpa harus memikirkan kalah atau menang.

Bisa lewat — itu hidup. Tidak bisa lewat — juga tetap hidup.

Dari sini kita bisa merenung: barangkali hidup sebenarnya tidak pernah membawa rasa sakit.

Yang membuat hidup terasa menyakitkan adalah “kebijaksanaan manusia”:  kebiasaan menghitung kelebihan dan kekurangan, membedakan untung dan rugi, memikirkan kalah dan menang, Kadang, mungkin yang membuat kita menderita adalah cara kita memikirkan hidup — bukan hidup itu sendiri. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine