EtIndonesia. Dalam dua hari terakhir, dunia diguncang oleh dua isu internasional besar yang sama-sama berpusat pada Amerika Serikat. Satu terkait perang yang sedang menuju babak akhir, dan satu lagi menyangkut konflik yang selama ini ditahan tetapi kini tampaknya akan meledak dalam waktu dekat.
Telepon Rahasia Trump–Maduro: Diakui, Tapi Tak Diungkap
Media AS memberitakan bahwa Presiden Donald Trump telah melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.
Pada 28 November 2025, saat Trump berada di pesawat kepresidenan Air Force One dalam perjalanan dari Florida menuju Washington D.C., para wartawan menanyakan langsung kebenaran kabar tersebut.
Setelah didesak, Trump mengaku percakapan itu memang terjadi—namun dia menolak menyebutkan isi pembicaraan.
Dengan gaya khasnya, dia hanya berkata: “Tunggu saja kelanjutannya.”
Saat ditanya apakah pembicaraan itu berlangsung baik, Trump menjawab: “Saya bisa bilang baik atau tidak baik… itu hanya sebuah percakapan telepon.”
Teguran Trump kepada Kanada
Seorang wartawan Kanada bertanya mengapa Trump menganggap Kanada tidak bersahabat. Trump menjawab bahwa terlalu banyak warga Kanada memasuki AS, termasuk mantan napi, geng kriminal, dan pengedar narkoba.
Ketika ditanya apakah itu berarti akan ada tindakan keras, Trump menjawab: “Kita tidak boleh menganggap hal itu tidak mungkin.”
Bocoran Isi Telepon: Ultimatum untuk Mundur
Menurut sumber internal Gedung Putih, pembicaraan Trump–Maduro bukan negosiasi. Menteri Luar Negeri Marco Rubio bahkan berada di samping Trump saat telepon berlangsung.
Trump disebut memberikan satu pilihan: Maduro harus segera mundur.
Sebagai imbalan:
- AS menjamin keselamatan Maduro beserta keluarga inti,
- memberi jalur evakuasi aman keluar Venezuela.
Namun Maduro justru menawar:
- dia bersedia mundur 18 bulan lagi,
- kekuasaan politik akan diserahkan ke oposisi,
- militer tetap di bawah kendalinya,
- serta menuntut Trump menghapus seluruh tuntutan terhadap dirinya.
Trump menolak mentah-mentah.
Rumor Pelarian Maduro ke Brasil
Pada malam 29 November, beredar laporan bahwa Maduro naik pesawat pribadinya menuju Brasil.
CNN melaporkan:
- Pesawat kepresidenan Venezuela YV2984 benar-benar terbang ke wilayah perbatasan Brasil, sekitar 15 km dari garis batas.
- 40 menit kemudian, pesawat itu kembali ke Caracas.
Pada saat yang sama, intelijen Brasil mengonfirmasi pesawat tersebut memang singgah di perbatasan, meski pemerintah Brasil membantah Maduro berada di dalamnya.
Bersamaan itu, sejumlah jenderal Venezuela diketahui mulai mengirim anggota keluarga mereka ke Brasil, memperkuat dugaan adanya kekhawatiran internal.
Pendukung Maduro Mulai Menghilang
Selama bertahun-tahun, Maduro ditopang oleh empat negara utama: Tiongkok, Rusia, Kuba, dan Iran. Kini, hampir semuanya tersisih:
- Rusia terjebak dalam perang Ukraina—mustahil turun tangan.
- Tiongkok terpukul krisis ekonomi, hanya mampu mengeluarkan pernyataan umum: “Jangan mengancam negara dengan investasi penting bagi Tiongkok.”
- Iran sibuk menghadapi serangan AS dan Israel.
- Kuba terlalu lemah secara ekonomi dan militer.
Sebuah rekaman TV Venezuela bahkan menunjukkan perwira Tiongkok di pangkalan udara Maracay—menimbulkan spekulasi bantuan rahasia.
Dua Rencana Perlawanan Besar Maduro
Menurut laporan intelijen Venezuela yang bocor pada 30 November 2025, Maduro dan para petinggi militer menyiapkan dua strategi ekstrem:
1. Perang Gerilya Nasional
Penyebaran pasukan ke lebih dari 280 lokasi rahasia (hutan, pegunungan, pinggiran kota) untuk melancarkan perang berkepanjangan jika AS menyerang.
2. Operasi “Anarkisasi”
Mobilisasi agen rahasia dan milisi untuk menciptakan kekacauan masif di Caracas—membuat Venezuela menjadi negara tak teratur sehingga operasi militer AS menjadi rumit.
Survei Dukungan 80%: Dikritik Sebagai “Fantasi Politik”
Maduro mengklaim memiliki 80% dukungan rakyat—angka yang langsung menjadi bahan olok-olok.
Pengamat politik menyindir:
- propaganda ala Tiongkok bisa membuatnya 98%,
- propaganda Korea Utara bisa mencapai 108%.
Di media sosial, warga Venezuela terang-terangan menunjukkan kemarahan mereka terhadap rezim.
AS Unjuk Kekuatan: B-52H Terbang di Atas Pulau Margarita
Ketegangan memuncak ketika sebuah pembom strategis B-52H, dikawal dua F-18 Super Hornet dari kapal induk USS Gerald R. Ford, terbang langsung di atas Pulau Margarita, wilayah Venezuela.
Venezuela memprotes:“Mengapa Amerika boleh terbang, sementara kami dilarang?”
Para analis militer menilai aksi ini sebagai:
- demonstrasi kekuatan AS,
- pengujian reaksi Venezuela,
- penegasan bahwa AS adalah “penguasa langit” di benua Amerika.
Operasi Internasional Anti-Narkoba
Perdagangan narkoba Venezuela menuju Afrika dan Eropa ikut mendapat tekanan.
Polisi Spanyol baru-baru ini menangkap 13 anggota jaringan penyelundup narkoba Venezuela.
Pekan Thanksgiving Tanpa Istirahat: Diplomasi AS–Ukraina Memanas
Di tengah krisis Venezuela, AS juga menggelar perundingan panjang terkait perang Ukraina.
Pada 29 November 2025, pertemuan berlangsung di Miami, Florida, antara:
- Delegasi AS (dipimpin Menlu Marco Rubio),
- Delegasi Ukraina (dipimpin Rustem Umerov).
Pembahasan berlangsung lebih dari 6 jam dan digambarkan sebagai: “Sangat produktif.”
Tujuan AS:
- menghentikan perang,
- memastikan Ukraina aman selamanya dari ancaman invasi ulang Rusia.
Umerov langsung menelpon Zelenskyy begitu keluar dari ruangan—tanda ada kemajuan signifikan menuju kesepakatan final.
Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dijadwalkan terbang ke Moskow minggu ini untuk melanjutkan pembicaraan dengan Rusia berdasarkan kerangka yang sudah disetujui AS dan Ukraina.
Trump mengatakan dia baru akan bertemu Zelenskyy dan Putin jika kedua pihak telah sepakat pada kerangka perdamaian akhir.
Penggerebekan Kantor Andriy Yermak
Media Ukraina melaporkan bahwa Pada 28 November 2025, penyidik antikorupsi menggerebek kantor mantan Kepala Kantor Presiden, Andriy Yermak, menyita:
- komputer,
- ponsel,
- perangkat elektronik.
Sejumlah pejabat meminta Zelenskyy memecat Yermak atas tuduhan menghambat kerja pemerintahan.
Beredar foto Yermak di “garis depan”, namun tentara Ukraina mencurigai foto itu diambil di area belakang, bukan di zona pertempuran.
Kapal Tanker Rusia Diserang — Teriakan Kru dalam Bahasa Mandarin
Sebelumnya, Ukraina menghantam dua kapal tanker “armada bayangan” Rusia. Dalam video terbaru yang dirilis 30 November 2025, salah satu tanker terlihat terbakar hebat setelah diserang drone laut Ukraina.
Yang mengejutkan:
- kru kapal tampak melompat ke laut,
- namun suara teriakan latar belakang terdengar dalam bahasa Mandarin,
memicu spekulasi mengenai keterlibatan awak asal Tiongkok dalam jalur penyelundupan minyak Rusia.


