Nak, Saat Kami Sudah Tua… Bisakah Mengandalkanmu?

EtIndonesia. Minggu lalu, di sebuah kedai kopi di Stasiun Kereta Paddington, London, Inggris,  aku bertanya kepada seorang perempuan yang sedang membaca koran apakah aku boleh duduk di meja yang sama. Ketika dia menurunkan korannya, kami saling mengenali— kami pernah bekerja bersama di sebuah organisasi bernama “Nineties Programme”.

Organisasi itu khusus membantu para ibu remaja yang ingin mengejar pendidikan menengah agar tidak tertinggal dari teman-teman sebayanya. Di sana, aku mengajar bahasa Inggris, dan Sally mengajar matematika. Dalam sekejap, ternyata sudah berlalu dua puluh tahun.

Kami pun mulai mengobrol. Dan dari sisi mana pun kita melihatnya, hidup Sally tampak sangat bahagia dan sukses.

Usianya kini 52 tahun, dia adalah seorang pembicara publik yang dihormati, memiliki pernikahan yang harmonis, dua anak yang telah dewasa dan sehat, serta sebuah rumah yang indah.

Aku bertanya tentang putranya:  “Sekarang Sam sibuk apa?”

Seketika wajahnya berubah muram. Air matanya mulai jatuh. Dia berusaha menghapusnya dengan canggung—namun percuma.

Dia menangis bukan karena putra sulungnya meninggal, melainkan karena hubungan antara dia dan putranya terasa seperti sudah mati.

Sam, yang kini berusia 23 tahun, sedang magang di sebuah perusahaan rintisan digital.
Tidak bergaji.  Seperti kebanyakan lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mencari kerja,
Sam tinggal kembali bersama orangtuanya.

Awalnya, Sally, suaminya, dan adik perempuan Sam yang berusia 18 tahun menyambut gembira kepulangan Sam setelah wisuda.  Namun, segera setelah itu, permintaan-permintaan Sam secara perlahan mulai mengambil alih kehidupan keluarga.

Sally bercerita: “Awalnya dia meminta uang saku—£150 per minggu. Kami memberikannya, anggap saja seperti biaya magang. Tapi semakin lama, permintaannya semakin tidak masuk akal— pakaian bermerek, smartphone terbaru, makan-makan di luar. Minggu lalu, dia bahkan meminta £1000 untuk pergi ski dengan teman-teman kuliahnya.”

Suami Sally yang seorang pengacara sebenarnya rela membiayai perjalanan itu, tetapi Sally menolak.  Sam marah besar—dia merusak furnitur kamarnya, memecahkan piring, bahkan menakut-nakuti adik perempuannya.

Sally berkata: “Dia berteriak bahwa kami berutang padanya, bahwa dia tidak pernah meminta untuk lahir ke dunia ini, dan dia berharap kami mati. Dia bilang jika hidupnya kacau, itu salah pemerintah, salah negara, dan salah kami—karena kami punya segalanya dan dia tidak punya apa-apa. Dia menghina aku dengan kata-kata yang sangat kotor.”

Sejak hari itu, situasi semakin buruk. Sally bahkan takut tinggal sendirian bersama Sam di rumah.

Orangtua selalu ingin memberi anak kehidupan yang lebih baik— tetapi sering kali, berakhir dengan memanjakan mereka sampai rusak.

Kisah Sally memang mengerikan, tapi apakah itu jarang terjadi?

Sepertinya tidak.  

Aku melihatnya di mana-mana: anak-anak muda yang egois, manja, dan menuntut— layaknya raja kecil yang ingin semuanya dipenuhi.

Ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan mereka, mereka menyalahkan dunia.

Lalu, siapa yang harus disalahkan?

Sally sendiri tahu—  sebagian besar ini akibat cara dia membesarkan Sam.

Sam tumbuh di rumah besar yang nyaman di Oxfordshire, sekolah di sekolah swasta,
berlibur ke tempat-tempat indah,  dan kedua orangtuanya mengabulkan semua keinginannya.

Cara tumbuhnya Sam benar-benar berbeda dengan masa kecil Sally. Sally dibesarkan oleh ibu tunggal, pakaiannya dan hadiah Natalnya sering berasal dari toko amal.

Sally berkata: “Hidup sangat sulit waktu itu. Aku sering diejek oleh anak-anak kaya di sekolah. Aku ingin memiliki apa yang mereka punya.  Jadi ketika aku punya anak sendiri, aku bekerja keras, siang malam,  agar mereka punya hidup yang tidak pernah aku punya. Aku mencintai anak-anakku…  mungkin aku mencintai mereka dengan cara yang terlalu memanjakan.”

Jika meminta para orangtua jujur bercerita tentang anak-anak mereka yang usia 20-an, kita akan sering mendengar kisah penuh kebingungan dan rasa bersalah. Aku mengenal sepasang suami istri, keduanya pengacara,  yang baru mengetahui bahwa anak mereka bolos kuliah selama satu semester penuh.

Sepasang suami istri lain yang memiliki perusahaan event planner menemukan bahwa putri mereka—yang sedang menganggur dan bekerja sementara di perusahaan itu— telah mencuri uang perusahaan.

Semua orangtua itu mencintai anak mereka.  Semua merasa gagal. Dan mungkin mereka memang gagal.

Banyak orangtua kelas menengah yang mulai memiliki anak di akhir tahun 1970-an sebenarnya sudah menyadari bahaya memberi terlalu banyak.  Memang benar, banyak anak tumbuh dengan baik. Tapi banyak sekali yang tumbuh menjadi anak yang serakah, manja, dan tidak pernah dewasa.

Secara naluriah, setiap orangtua ingin memberi anak kehidupan yang lebih baik— seperti induk burung yang rela kelaparan demi memberi makan anaknya. Itu naluri alamiah.

Namun puluhan tahun budaya materialistis telah memelintir naluri itu. Kita melakukan sesuatu dengan alasan benar— tapi dengan cara yang salah.

Aku adalah anak ketiga dalam keluarga. Rumah kami sering terlilit utang, keadaan ekonomi sangat buruk. Aku lahir di Uganda, lalu pindah ke Inggris bersama keluarga pada tahun 1972. Karena ayahku berpenghasilan sedikit, ibuku harus bekerja siang di sebuah taman kanak-kanak sebagai juru masak, dan malam hari mengerjakan pekerjaan jahit rumahan.

Boneka-bonekaku dan pakaian boneka itu dijahit dari potongan kain sisa—bahkan menggunakan batang korek api bekas sebagai rangkanya. Jika ada kerabat yang memberiku pakaian buatan Inggris, aku akan memakainya selama bertahun-tahun. Ketika benangnya mulai terlepas, ibuku akan diam-diam menjahitkannya kembali saat aku tidur.

Pengalaman masa kecil itu membuatku menjadi pribadi yang kuat dan mudah beradaptasi— namun juga menanamkan satu keinginan besar dalam diriku: memberikan kepada anak-anakku segala hal yang dulu tidak mampu kumiliki.

Bagiku—dan bagi banyak orang dengan latar belakang sepertiku— impian tidak lagi tampak mustahil. Masyarakat berubah, daya beli meningkat, bahkan banyak keluarga memiliki dua penghasilan sehingga bisa memberikan lebih banyak kepada anak-anak mereka.

Ketika anak-anakku masih kecil, setiap kali melihat para ibu berusaha memenuhi permintaan anak-anak mereka, aku pun sering mengikuti— membelikan sepatu olahraga paling modis, atau papan seluncur yang sedang populer.

Kini anakku laki-laki sudah berusia tiga puluhan, dan putriku berusia dua puluh satu tahun.

Namun, banyak orangtua yang tidak menyadari  bahwa terlalu sering mengalah justru berakibat buruk bagi anak.

Ketika kita menjejali mereka dengan barang yang cukup untuk tiga generasi, ketika kita mengantarkan mereka dari satu pesta sosial ke pesta lainnya tanpa meminta mereka berkorban sedikit pun, mereka tumbuh dengan perasaan berhak atas segalanya—  dan keyakinan itu sangat jauh dari kenyataan.

Hari ini, jutaan anak muda yang egois itu sedang menghadapi masalah sesungguhnya: lapangan kerja yang sedikit, kesulitan menemukan rumah, dan tekanan hidup di era globalisasi yang semakin cepat. Dalam kesulitan itu, reaksi alamiah mereka adalah menyalahkan orang lain— terutama orangtua mereka.

Yang menyedihkan, kebanyakan orangtua justru semakin memanjakan mereka. Jika keadaan ini terus berlanjut, generasi anak-anak yang egois akan terus bertambah.

Kita harus membantu anak-anak kita— tetapi pada saat yang diperlukan, kita juga harus berani berkata tidak.

Untungnya, kedua anakku tumbuh menjadi pribadi yang baik, tidak pernah memanfaatkan kami. Untuk itu, aku sangat berterima kasih kepada ibuku. Tanpa pengaruhnya sepanjang hidupku, mungkin aku sudah lama menuruti keinginanku dan memanjakan anak-anak tanpa batas.

Ya, anak-anakku memiliki lebih banyak dari yang pernah kumiliki— mereka bersekolah di sekolah swasta, sering makan di luar, memiliki ponsel mahal, bahkan bisa pergi liburan ke tempat-tempat eksotis. Namun mereka tahu batas. Mereka tahu bersyukur.

Bahkan sampai hari ini, aku masih mendengar suara ibuku berkata: “Ajari mereka merasa cukup.”

Dulu, ibuku tinggal di sebuah kamar kecil bantuan pemerintah. Kedua anakku sangat suka mengunjunginya. Ibuku mengajarkan kepada kami tentang kerendahan hati, kebaikan, dan integritas.

Dia selalu berkata: “Jangan meminta terlalu banyak. Jika kalian meminta berlebihan, bahkan Tuhan pun akan lelah mendengarnya.”

Mendengar kisah Sally dan para orangtua lain yang bernasib sama, aku semakin memahami bahwa nasihat ibuku-lah  yang mencegahku merusak anak-anakku dengan kasih sayang yang salah arah.

Kisah seperti Sally sebenarnya sangat banyak.

Ada seorang kenalan yang putranya berusia 32 tahun, masih tinggal di rumah, menolak mencari pekerjaan,  mengonsumsi ganja, dan setiap hari hanya memakai pakaian olahraga longgar untuk makan–tidur–bangun–makan lagi. Dia kuliah jurusan manajemen bisnis, namun setelah ditolak tiga perusahaan, dia menyerah total dan berhenti mencari pekerjaan.

Ibunya berkata dia depresi.

Pacarnya lebih jujur: “Dia hanya anak manja yang rusak.”

Contoh lain: Heather, lulusan kimia, ditawari pekerjaan oleh beberapa perusahaan, tetapi dia menolak semuanya dengan alasan gaji yang diberikan “terlalu rendah”.

Ayahnya—seorang pengusaha yang sukses dari nol—menghela napas panjang: “Bisnis saya sedang sulit, tapi dia tidak punya simpati sedikit pun. Yang ia marahi justru kenyataan bahwa kami tak lagi mampu berlibur tiga kali setahun.”

Aku sendiri adalah profesor jurnalisme.  Beberapa mahasiswa berkata dengan yakin bahwa mereka tidak mau memulai dari bawah; mereka ingin langsung menjadi penulis lepas terkenal atau kolumnis di media besar. Orangtua mereka—karena terbiasa menuruti semua permintaan anak— mendukung keyakinan yang tidak realistis itu.

Di dunia media yang sangat kompetitif, anak-anak muda seperti itu hanya akan semakin frustrasi, semakin mudah mengasihani diri sendiri, dan hanya peduli pada kebutuhan mereka. Itu sebabnya banyak orang dewasa melihat mereka sebagai pecundang atau parasit yang menghabiskan harta orang tua.

Melihat semua itu,  masa depan tampak semakin suram. Dan yang paling menakutkan adalah—
ketika kita sendiri menua, kita akan sangat bergantung pada generasi yang manja, egois, dan serakah ini.

Ya Tuhan… Tolonglah kami. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine