EtIndonesia. Seorang ibu bertanya kepada putranya yang berusia lima tahun: “Kalau Mama dan kamu jalan-jalan, lalu kita haus tetapi tidak membawa minum, dan di tas kecilmu kebetulan ada dua apel, apa yang akan kamu lakukan?”
Anak itu miringkan kepala, berpikir sejenak, lalu menjawab: “Aku akan menggigit kedua apel itu.”
Ibu itu langsung kecewa. Dia sempat ingin memarahi anaknya seperti kebanyakan orangtua, lalu mengajarkan bagaimana bersikap. Namun ketika kata-kata itu hampir keluar, dia menahan diri.
Dia mengusap pipi anaknya, lalu bertanya lembut: “Boleh Mama tahu… kenapa kamu menggigit dua-duanya?”
Anak itu berkedip, tersenyum polos: “Soalnya… aku mau pilih yang paling manis buat Mama.”
Sekejap itu juga, mata sang ibu berkaca-kaca.
Renungan: Mendengarkan sebelum menghakimi adalah sebuah kemampuan.
Seorang ayah sedang mencuci mobil. Anaknya mengambil batu kecil dan menggores pintu mobil itu.
Ayah yang marah besar langsung memukul tangan si anak dengan kunci inggris. Anaknya dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan jari-jari kecilnya patah.
Saat ayah menunduk penuh penyesalan, anak itu berkata pelan: “Papa, jangan sedih… jariku nanti sembuh kok.”
Ayah itu semakin hancur hatinya. Dia berlari pulang, berniat merusak mobilnya sendiri. Namun ketika dia melihat bekas goresan anaknya, tulisan itu berbunyi: “Papa, aku sayang Papa.”
Renungan: Betapa banyak hal yang seharusnya kita lihat dulu, pahami dulu… baru memutuskan sesuatu.
Di padang rumput, seekor anak singa bertanya kepada induknya: “Ibu, di mana sih letaknya kebahagiaan?”
Induk singa menjawab: “Kebahagiaan ada di ujung ekormu.”
Mendengar itu, anak singa pun terus berputar mengejar ekornya. Namun dia tak pernah berhasil menggigitnya.
Induknya tertawa dan berkata: “Bodoh kecil… kebahagiaan bukan didapat dengan mengejarnya. Kalau kamu berjalan ke depan dengan tegap, kebahagiaan akan selalu mengikuti di belakangmu.”
Renungan: Kadang yang kita cari mati-matian justru akan datang ketika kita berani maju.
Ada seorang gadis buta yang tidak punya apa-apa selain pacarnya yang setia.
Pacarnya bertanya: “Kalau nanti matamu sembuh, kamu mau menikah denganku?”
Gadis itu mengangguk. Tak lama kemudian dia menerima donor kornea dan kembali bisa melihat.
Namun dia terkejut ketika tahu bahwa pacarnya… juga seorang tuna netra. Saat sang pria melamarnya, gadis itu menolak.
Pria itu pergi. Dia hanya meninggalkan satu kalimat: “Jaga baik-baik mataku.”
Renungan: Jaga mataku—karena yang membuatmu melihat adalah pengorbananku.
Ketika dia melamarnya, dia hanya berkata: “Tolong percaya padaku.”
Saat istrinya melahirkan putri pertama mereka, dia berkata: “Kamu hebat, terima kasih sudah berjuang.”
Ketika putri mereka menikah, dia memeluk bahu istrinya dan berkata: “Masih ada aku di sini.”
Pada hari dia menerima kabar bahwa istrinya kritis, dia berulang-ulang mengatakan: “Aku sudah datang… aku di sini.”
Ketika istrinya hendak pergi untuk selamanya, dia mencium dahi wanita itu dan berbisik: “Tunggulah aku.”
Seumur hidupnya, dia tidak pernah mengucapkan “Aku mencintaimu”. Namun cintanya tidak pernah pergi sedetik pun.
Renungan: Ada orang yang tak pandai berkata-kata, tetapi cintanya bekerja tanpa henti.
Seorang anak lelaki sudah tidak sanggup menanggung biaya hidup ibunya yang sudah tua. Dia memutuskan membawa ibunya ke gunung untuk ditinggalkan di sana.
Sore itu, dia berkata pada ibunya bahwa dia ingin mengajaknya berjalan-jalan. Ibu tua itu dengan susah payah naik ke punggung putranya.
Sepanjang jalan, anak itu hanya berpikir: “Harus naik lebih tinggi… lebih jauh… agar Ibu tidak bisa pulang.”
Tiba-tiba dia melihat ibunya mengeluarkan kacang-kacang kecil dan menebarkannya di sepanjang jalan.
Dengan marah dia bertanya: “Ibu buang kacang untuk apa?!”
Ibu itu menatapnya lembut dan berkata: “Anakku… Ibu takut kamu nanti tersesat saat pulang sendirian.”
Renungan: Cinta orang tua mengikuti kita seumur hidup — meskipun mereka sudah senja. (jhn/yn)


