EtIndonesia. Majalah Forbes pernah menobatkannya sebagai “selebriti seni dan budaya paling berpengaruh di dunia.” Dia bukan hanya seorang presenter televisi terkenal, tetapi juga produser TV, aktris, penerbit, dan aktivis sosial. Bertahun-tahun dia konsisten berada dalam jajaran orang terkaya dunia.
Dialah—Oprah Winfrey, tokoh talkshow paling terkenal di Amerika dan di dunia.
Perjalanan hidup Oprah sendiri sudah seperti kisah motivasi. Kesuksesannya bahkan dikenal sebagai “Fenomena Oprah.” Dia adalah seorang wanita berkulit hitam, berasal dari Selatan Amerika, anak yang lahir di luar pernikahan, dan tumbuh dalam kemiskinan.
Berbagai lapisan identitas yang rumit ini justru menjadikannya panutan bagi banyak orang dari berbagai ras dan latar belakang. Sikapnya terhadap ketenaran, kekayaan, dan kesuksesan menjadi bukti kuat dari pesona pribadinya.
Namun, Oprah juga pernah melalui masa remaja yang kelam.
Oprah Winfrey lahir pada 29 Januari 1954 di kota kecil Kosciusko, Mississippi. Dia begitu tidak dipedulikan hingga namanya—yang seharusnya “Orpah” (dari Alkitab)— dieja salah menjadi “Oprah”.
Orangtuanya tidak menikah dan berpisah sejak dia masih bayi. Oprah dibesarkan oleh neneknya hingga usia enam tahun, kemudian pindah ke Milwaukee untuk tinggal bersama ibunya.
Karena kurang pengawasan dan bimbingan, Oprah berubah menjadi anak yang liar. Dia bergaul dengan remaja bermasalah, belajar minum alkohol, merokok, berkelahi— bahkan menggunakan narkoba.
Usia 13 tahun, dia beberapa kali kabur dari rumah akibat mengalami pelecehan dan pemerkosaan. Dia hampir dikirim ke rumah rehabilitasi remaja— namun tempat itu kebetulan penuh, sehingga dia ditolak masuk.
Pada usia 14 tahun, Oprah melahirkan seorang bayi— namun sang bayi meninggal tidak lama kemudian.
Namun justru dari titik gelap inilah hidupnya berbalik arah.
Di usia 14 tahun, Oprah dikirim untuk tinggal bersama ayahnya. Ayahnya sangat disiplin. Dia mewajibkan Oprah membaca satu buku setiap minggu lalu menuliskan ulasannya.
Ayahnya berkata: “Satu-satunya jalan menuju kesuksesan adalah kerja keras dan disiplin diri.”
Oprah mendengarkan nasihat itu. Dia belajar tekun, masuk universitas, dan sejak itu menapaki langkah demi langkah menuju kesuksesan yang luar biasa.
Pengalaman Oprah memberi satu pelajaran besar: Disiplin diri adalah rahasia utama kesuksesan.
Banyak orang bukan tidak berbakat, bukan tidak punya kesempatan— tetapi kekurangan disiplin.
Di zaman sekarang, godaan ada di mana-mana: game online, hiburan, uang, kekuasaan, pergaulan, kesenangan sesaat. Jika seseorang tidak mampu mengendalikan diri, dia dengan mudah akan terseret dalam kesenangan sesaat dan tenggelam dalam kehancuran.
Kisah Eddie Griffin: Bakat besar yang hancur karena disiplin yang rapuh
Yao Ming pernah memiliki rekan setim berbakat bernama Eddie Griffin. Dia dipandang sebagai calon bintang besar NBA sejak awal kariernya.
Dengan tinggi 2,08 meter, Griffin bisa melakukan blok menakutkan, menembak tiga angka seperti guard, serta bergabung dalam serangan cepat. Dia digadang-gadang menjadi “Clyde Drexler” berikutnya. Bakatnya begitu lengkap sehingga dia menjadi pemain yang sangat difavoritkan dalam pembangunan masa depan Houston Rockets— bahkan sempat membentuk trio yang digadang-gadang akan mendominasi liga: Yao Ming – Francis – Griffin.
Tetapi— di balik itu semua, Griffin memiliki kepribadian yang sulit. Dia tertutup, sulit berkomunikasi, menyimpan banyak masalah dalam dirinya dan menyalurkan semuanya dengan cara yang salah.
Pada dua tahun pertama kariernya, dia berkali-kali mangkir latihan, diskors, dan sering harus menghadiri persidangan. Dia menjalani rehabilitasi alkohol pada 2003–2004. Dia bahkan beberapa kali ditangkap karena penggunaan narkoba.
Pelatih Timberwolves, Casey, pernah berkata: “Dia tidak pernah benar-benar berubah. Ini tragedi bagi seorang anak yang sebenarnya berhati baik.”
Di bangku kuliah, dia pernah memukul rekan setimnya di ruang ganti. Dia pernah menodongkan senjata pada pacarnya. Dia sering melanggar aturan dan menolak latihan.
Biarpun bakatnya begitu besar, tak ada tim yang mau menanggung risiko sedemikian besar.
Pada Desember 2003, Houston Rockets akhirnya menyerah dan memutus kontraknya.
New Jersey Nets kemudian memberi kesempatan, bahkan membawanya ke pusat rehabilitasi. Namun dia tetap bermasalah dan kembali dipecat.
Minnesota Timberwolves memberinya peluang lagi pada 2004. Musim pertamanya cukup baik— namun hanya sebentar. Dia kembali melakukan berbagai pelanggaran disiplin.
Pada Maret 2007, Timberwolves juga memutuskan untuk melepaskannya.
Lima bulan kemudian, kecelakaan tragis itu terjadi.
17 Agustus 2007, pukul 01: 30 dini hari, Griffin menabrakkan SUV-nya ke sebuah kereta barang setelah menembus palang peringatan.
Mobilnya terbakar, tubuhnya hangus hingga sulit dikenali. Dia baru diidentifikasi melalui catatan gigi.
Griffin meninggal di usia 25 tahun.
Seorang jenius basket— hancur bukan karena kurangnya kemampuan, bukan karena kurangnya kesempatan, tetapi karena tidak mampu mendisiplinkan diri sendiri.
Pelajaran Besarnya
Seseorang yang tidak mampu mengendalikan diri akan perlahan menghancurkan dirinya tanpa disadari.
Oprah bangkit karena disiplin. Griffin hancur karena tidak memilikinya.
Bakat bisa membuka pintu. Kesempatan bisa datang kapan saja. Namun hanya disiplin diri yang memungkinkan seseorang masuk dan bertahan. (jhn/yn)


