Istri yang Cerdas

EtIndonesia. Dahulu kala, ada seorang buruh tani yang bekerja di rumah seorang tuan tanah kaya. Menjelang akhir tahun, buruh itu pun datang meminta upah setahun kerjanya. 

Tuan tanah berkata: “Uang bisa saja kuberikan, tapi ada tiga hal yang harus kamu lakukan dulu. Jika kamu berhasil, aku akan membayar dua kali lipat upahmu. Tapi kalau tidak bisa, sehari pun aku tidak akan membayarmu.”

Buruh itu bertanya: “Tiga hal apa itu?”

Tuan tanah menjawab : “Pertama, kamu harus membelikan aku seekor sapi yang beratnya sebesar gunung. Kedua, kamu harus membelikan kain yang bisa menutupi seluruh langit. Ketiga, kamu harus membawakan arak sebanyak air di sungai.”

Mendengar itu, si buruh hanya bisa menghela napas panjang dan pulang dengan lesu.

Istri Mulai Curiga

Sampai di rumah, sepanjang hari buruh itu tak berkata apa-apa. Dipanggil makan istrinya pun dia tak mau.

Istrinya heran dan bertanya lembut :  “Kamu seharian diam saja, bahkan tidak mau makan. Ada apa? Katakan, biar kita pikirkan bersama.”

Buruh itu pun menceritakan semuanya: tiga syarat mustahil yang diminta tuan tanah.

Istrinya mendengarkan dengan tenang, lalu tersenyum tipis:  “Itu sebetulnya mudah. Sekarang makan dulu. Besok, kamu bawa tiga benda ini: satu timbangan, satu penggaris, dan satu kendi arak.”

Dia melanjutkan: “Kau bilang pada tuan tanah: sebelum kamu membeli sapi seberat gunung, minta dia menimbang dulu berapa berat gunung itu.  Kalau dia ingin kain selebar langit, minta dia ukur dulu dengan penggarismu seberapa luas langit itu. Dan kalau dia ingin arak sebanyak air di sungai, minta dia tuangkan dulu air sungai dengan kendi itu untuk tahu berapa banyak yang harus dibeli.”

Buruh itu langsung cerah wajahnya. Benarlah, istrinya jauh lebih cerdik daripada dirinya.

Tuan Tanah Tak Berkutik

Keesokan harinya, si buruh membawa timbangan, penggaris, dan kendi arak ke rumah tuan tanah.

Dia berkata: “Soal sapi seberat gunung, saya bisa belikan. Tapi tolong, tuan timbang dulu gunung itu menggunakan timbangan ini, supaya saya tahu berapa berat sapi yang harus saya beli.”

Tuan tanah langsung melongo, matanya membesar. Lama dia terdiam, lalu akhirnya menyerah: “Baik… yang satu itu tak usah.”

Buruh itu kemudian mengeluarkan penggaris dan kendi.

Dia berkata: “Tuan ingin kain selebar langit, maka tolong ukur dulu besar langit dengan penggaris ini.  Dan kalau tuan ingin arak sebanyak air sungai, tolong ukur dulu berapa kendi air di sungai dengan kendi ini, supaya saya tahu harus membeli sebanyak apa.”

Tuan tanah terdiam. Wajahnya merah padam, mulutnya terbuka tapi tak ada kata keluar.

Akhirnya, dia pun menyerah total. Dia mengambil dua tahun upah dan memberikannya kepada si buruh, sambil menahan malu yang amat sangat.

Akhir Cerita

Orang-orang pun berkata:  “Buruh itu tidak kaya, tapi ia memiliki istri yang sangat cerdik. Dan itu lebih berharga daripada harta.”

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine