Menjadi Orang yang Mau Berusaha

EtIndonesia. Banyak orang menetapkan target hidup yang terlalu tinggi dan terlalu berorientasi pada hasil. Ketika gagal mencapainya, mereka pun merasa terpuruk, kehilangan semangat, lalu akhirnya menyerah. Penyebabnya sederhana: mereka terlalu fokus pada memiliki, dan mengabaikan satu hal yang jauh lebih penting — menjadi seorang yang mau berusaha.

Untuk anak-anak zaman sekarang, jika orang dewasa hanya menekankan “kelak kamu harus menjadi orang hebat,” tetapi tidak menanamkan pentingnya karakter dan keteguhan hati, maka akhirnya kita hanya akan membesarkan pribadi yang sempit, egois, rapuh, dan berhenti berkembang. Sayangnya, hal ini masih sangat kurang diperhatikan dalam pendidikan modern.

Saya Pernah Melihatnya Sendiri

Suatu kali, dalam sebuah acara, pembawa acara bertanya kepada seorang anak laki-laki kecil: “Kalau sudah besar, kamu mau jadi apa?”

Anak itu melirik kami — para pengusaha — lalu menjawab lantang: “Mau jadi pengusaha!”

Semua orang langsung tertawa senang dan bertepuk tangan. Saya ikut tersenyum, tapi hati saya justru merasa tidak nyaman.

Anak itu sebenarnya tahu apa tentang “pengusaha”?  Atau dia hanya mengatakan itu karena kami ada di depan matanya? Atau karena dia terpengaruh orang dewasa yang mengagungkan nama besar dan kekayaan? Tidak ada yang tahu. Tapi satu hal pasti: dalam menentukan arah hidup, yang terpenting bukan mau jadi apa — melainkan mau menjadi orang yang mau berusaha.

Ketika Saya Masih Kecil

Dulu saya juga pernah ditanya hal yang sama. Jawaban saya berkisar antara: guru, tentara, atau ilmuwan.

Tetapi setelah lebih dari dua puluh tahun berlalu, tidak satu pun dari cita-cita masa kecil itu yang menjadi kenyataan. Begitu pula dengan banyak orang di sekitar saya.

Ada yang dulu bercita-cita menjadi guru, tetapi akhirnya membuka usaha sendiri. Ada yang ingin jadi tentara, tetapi malah menjadi tahanan.

Dua sahabat kuliah saya — kini keduanya adalah tokoh besar di industri elektronik Tiongkok: satu menjadi pimpinan Konka Group, satu lagi menjadi pemimpin TCL Group.

Kami bertiga tak pernah membayangkan bahwa nasib akan membawa kami ke posisi seperti sekarang. Semua itu bukan karena kami punya impian besar sejak awal, melainkan karena satu hal — kami selalu berusaha keras di setiap langkah.

Dengan kata lain, mungkin kami bukan orang yang “penuh mimpi,” tetapi kami adalah orang-orang yang tidak pernah berhenti berusaha.

Impian Itu Mudah, Usaha Itu Sulit

Bukan berarti impian tidak penting. Tapi sejak zaman dahulu, semua orang tahu: bermimpi itu mudah, berusaha itu sulit.

Siapa yang menyangka, sepuluh tahun sebelum hari ini, saya pernah menjadi seorang pengangguran yang kebingungan di jalanan?  Saat itu saya tidak punya apa-apa. Masa depan terasa sangat gelap.

Namun satu hal menyelamatkan saya: kemauan untuk bangkit setiap kali jatuh.

Ketika banyak orang mengira saya sudah selesai, saya terus mencoba berdiri lagi. Saya percaya hidup itu seperti permainan bola oleh Maradona: sering kali gol tercipta justru ketika seseorang sudah hampir jatuh.

Dan benar saja — ketika saya merasa jalan sudah benar-benar buntu, sebuah perusahaan di Hong Kong bangkrut dan membuka peluang bagi saya untuk bangkit kembali. Dari situlah saya bisa bekerja sama dengan para ahli teknologi Inggris dan mengembangkan televisi berwarna yang canggih. Sejak saat itu, hidup saya berubah.

Usaha & Kepemilikan — Dua Pemandangan Hidup

Ada yang mengatakan, “berusaha” dan “memiliki” adalah dua pemandangan hidup yang tak bisa dipisahkan.

Namun menurut saya, pemandangan terbaik dalam hidup bukanlah “memiliki,” melainkan berusaha.

  • Berusaha adalah kondisi jiwa yang indah.
  • Berusaha adalah penghormatan kita pada hidup.
  • Berusaha adalah ibu dari semua kepemilikan.

Jika seseorang hanya ingin mendapatkan, hidupnya akan sempit. Tetapi jika seseorang memilih untuk berusaha, jalan hidupnya akan terbuka lebar.

Daripada memaksakan diri harus jadi “orang besar”, atau harus mendapatkan sesuatu, lebih baik melatih diri menjadi seseorang yang tidak pernah berhenti berusaha.

Sebab:

  • Cita-cita setinggi apa pun tak akan bertahan tanpa usaha.
  • Tanpa tujuan besar pun, usaha akan membimbing kita menemukan arah.
  • Menjadi seseorang yang mau berusaha adalah tujuan hidup yang paling realistis sekaligus yang paling bermakna. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine