Pria Tidak Boleh “Tidak Sukses”?

EtIndonesia. Di zaman sekarang, kita hidup dalam sebuah era yang sangat mengagungkan kata “sukses.” Masyarakat terbiasa membagi orang menjadi dua golongan: mereka yang sukses, dan mereka yang tidak sukses.

Sukses bahkan sudah menjadi semacam nilai universal— orangtua berharap anak-anaknya sukses, anak muda ingin sukses agar bisa mendapat pengakuan, bahkan orangtua yang sudah lanjut usia pun berharap bisa disebut sebagai seseorang yang sukses, atau setidaknya memiliki keturunan yang sukses.

Bahkan pada level kolektif, obsesi terhadap “sukses” juga terlihat jelas:  perusahaan ingin memperluas pangsa pasar, meningkatkan keuntungan, memperbaiki peringkat; negara ingin menaikkan GDP, memperkuat kekuatan nasional, bahkan meningkatkan jumlah medali emas Olimpiade— karena semua itu dianggap bukti bahwa sebuah negara telah “berhasil.”

Namun yang membuat orang bingung adalah: makna sukses yang dipromosikan masyarakat sekarang sangat sarat dengan aroma materialisme dan utilitarianisme.

Dari sudut pandang individu, sukses diberi ukuran yang jelas: rumah mewah, mobil mahal, penghasilan ratusan juta atau miliaran.

Tetapi kita tahu, dalam sebuah masyarakat yang sehat, golongan seperti itu hanya sekitar 1% atau bahkan lebih sedikit. Sisanya—lebih dari 99%—akan digolongkan sebagai orang yang “belum sukses”,  atau sedang berjuang untuk meraihnya.

Ini membuat kita ingin bertanya: Di era yang dikendalikan oleh definisi “sukses” versi masyarakat, bolehkah seseorang tidak sukses?

Ini pertanyaan yang menarik. Mengatakan seseorang “tidak mengejar sukses” dalam pandangan umum mungkin tidak terlihat heroik, malah sering dianggap tidak punya ambisi.

Namun, apakah kebanyakan orang benar-benar mengerti apa itu “sukses”? Apakah hanya rumah mewah, mobil mahal, dan penghasilan tinggi yang bisa disebut sukses?

Diogenes tinggal di sebuah tong kayu sambil menangkap kutu, tapi bahkan Raja Aleksander Agung pun berdiri hormat di hadapannya meminta nasihat.

Pertanyaan Pertama: Apa Itu Sukses?

Menurut kamus, kata sukses memiliki beberapa makna:

  1. Mencapai prestasi atau karya besar;
  2. Prestasi atau karya itu sendiri;
  3. Mendapat hasil yang diharapkan atau lebih baik;
  4. Keberhasilan menyelesaikan sesuatu;
  5. Efektivitas atau hasil nyata.

Jadi, sukses dalam kacamata masyarakat modern hanyalah sebagian kecil dari makna sebenarnya.

Sukses seharusnya lebih luas: Sukses adalah perasaan positif ketika seseorang mencapai tujuan pribadinya— sebuah kondisi percaya diri dan kepuasan batin.

Artinya:  setiap orang memiliki definisi sukses yang berbeda.

Contoh:
Ada seseorang yang seumur hidup berpindah-pindah negara Eropa, hidup miskin, dan setelah meninggal dimakamkan di pemakaman rakyat biasa di Wina. Menurut standar masyarakat sekarang, dia tentu dianggap “gagal.”

Namun orang itu bernama Wolfgang Amadeus Mozart, dan musiknya kini menjadi harta tak ternilai dalam peradaban manusia.

Jika demikian, siapa yang berani mengatakan dia tidak sukses?

Dari sini terlihat bahwa definisi sukses masyarakat masa kini adalah definisi yang sempit, bahkan menyimpang. Sukses disamakan dengan uang, kekuasaan, dan status. Dalam arti tertentu—makna sukses sudah merosot.

Pertanyaan Kedua: “Sukses” yang Menyimpang

Sukses yang dipuja masyarakat kini telah berubah bentuk: sukses = materi.

Namun jika seseorang hanya mengejar sukses material, itu berbahaya.

Dari sisi gelap manusia (ketamakan):

Untuk meraih “sukses”, seseorang bisa:

  • Menghalalkan segala cara
  • Mengabaikan moral
  • Menginjak orang lain
  • Mempercayai prinsip “yang menang adalah raja, yang kalah adalah sampah”

Akhirnya, dia bisa mengorbankan segalanya — bahkan hati nurani.

Dari sisi baik manusia (ketekunan):

Untuk meraih “sukses”, seseorang bisa:

  • Bekerja sangat keras
  • Tidak menyerah meski berkali-kali gagal
  • Terus mengejar tujuan material

Namun dalam proses itu, dia bisa kehilangan:

  • kebebasan,
  • diri sendiri,
  • kebahagiaan.

Dua arah ini sama-sama berbahaya— sama-sama menakutkan.

Pertanyaan Ketiga: Jangan Kejar “Kesuksesan Itu”, Kejarlah Sukses yang Sebenarnya

Agama-agama besar mengandung filosofi kehidupan manusia. Dalam iman Kristen, tiga kata penting adalah:

Iman, Harapan, dan Kasih.

  • Iman bisa dimaknai sebagai keteguhan pada nilai kebenaran;
  • Harapan adalah pencarian terhadap kebenaran dan makna;
  • Kasih berarti cinta yang luas, kebaikan bagi semua.

Tiga hal ini justru mencerminkan jalan personal menuju kesuksesan sejati: pemahaman diri, pencarian makna, dan ketenangan batin.

Dalam banyak tradisi spiritual, hal-hal sederhana juga disebut sebagai sukses: tiga menit berdoa, mengikuti misa dengan tenang, atau menyanyikan lagu pujian.

Bagi manusia modern, sukses bisa lebih beragam: menyelesaikan pekerjaan hari ini, meluangkan waktu untuk konser, menyeduh teh, atau berjalan setengah jam di taman.

Setiap tindakan itu adalah sebuah keberhasilan kecil, dan setiap keberhasilan membawa rasa puas.

Sementara “sukses” versi masyarakat— yang dipadankan dengan harta dan status— tidak perlu dikejar mati-matian. Itu hanyalah satu bagian kecil dari sukses.

Sukses yang sebenarnya ada dalam setiap tarikan napas kehidupan: melakukan hal kecil dengan baik, memiliki sikap yang benar, dan menikmati prosesnya.

Dan anehnya— ketika seseorang mampu meraih banyak “kesuksesan kecil” dalam hidupnya, suatu hari dia mungkin mendapati bahwa sukses besar yang dikejar banyak orang sebenarnya sudah dekat, bahkan mungkin sudah berada di genggamannya.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine