Israel Lancarkan Serangan Baru di Lebanon Setelah Peringatan

EtIndonesia. Serangan Israel menghantam Lebanon selatan pada hari Kamis (4/12) ketika militernya mengatakan sedang menyerang fasilitas penyimpanan senjata Hizbullah, sehari setelah perwakilan sipil Lebanon dan Israel mengadakan perundingan langsung pertama mereka dalam beberapa dekade.

Meskipun gencatan senjata November 2024 yang seharusnya mengakhiri lebih dari setahun permusuhan antara Israel dan kelompok militan yang didukung Iran tersebut, Israel terus melancarkan serangan terhadap Lebanon dan juga mempertahankan pasukan di lima wilayah Lebanon selatan yang dianggapnya strategis.

Kunjungan Paus Leo XIV dari hari Minggu hingga Selasa telah memberi Lebanon waktu jeda dari serangan udara Israel, yang telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dan Paus mendesak diakhirinya permusuhan selama kunjungannya.

Namun pada hari Kamis, tentara Israel mengatakan “mulai melancarkan serangan terhadap target-target teror Hizbullah di Lebanon selatan”, setelah memperingatkan akan menyerang gedung-gedung di Mahrouna dan Jbaa, Lebanon selatan.

Israel kemudian mengeluarkan peringatan bahwa mereka akan menyerang lebih banyak “infrastruktur militer” Hizbullah di Majadal dan Baraasheet, juga di selatan.

Kantor Berita Nasional resmi Lebanon mengatakan “pesawat tempur Israel melancarkan serangan di Kota Mahrouna” sementara serangan lainnya menargetkan bangunan-bangunan di Jbaa, Majadal, dan Baraasheet.

Seorang fotografer AFP melihat asap mengepul dari lokasi serangan di kota Jbaa.

Hidup dalam keterkejutan

“Ini sepenuhnya wilayah sipil. Kami terbiasa dengan ancaman Israel dari waktu ke waktu,” kata pejabat setempat Yassir Madi kepada para wartawan, termasuk AFP.

“Mengenai kerusakannya, tidak ada jendela dalam radius 300 meter yang tidak pecah. Semua orang hidup dalam keterkejutan,” tambahnya.

Sementara itu, militer Israel mengatakan mereka menyerang “fasilitas penyimpanan senjata milik Hizbullah” yang terletak di “jantung penduduk sipil”.

“Ini adalah contoh lain dari penggunaan sinis Hizbullah terhadap warga sipil Lebanon sebagai tameng manusia, dan operasi berkelanjutan dari dalam wilayah sipil,” katanya.

Pemerintah Lebanon telah berkomitmen untuk melucuti senjata Hizbullah, tetapi kelompok tersebut telah menolak gagasan tersebut dan banyak orang di negara itu khawatir akan kembalinya perluasan operasi militer Israel.

Perwakilan sipil Lebanon dan Israel mengadakan pembicaraan mendadak pada hari Rabu di bawah naungan mekanisme pemantauan gencatan senjata di markas pasukan penjaga perdamaian PBB di Naqura, Lebanon, dekat perbatasan dengan Israel.

Perwakilan komite pemantauan gencatan senjata — Amerika Serikat, Prancis, Lebanon, Israel, dan pasukan PBB — secara teratur bertemu di Naqura.

Pada hari Kamis, Presiden Lebanon, Joseph Aoun mengatakan putaran pembicaraan berikutnya dengan Israel akan dimulai pada 19 Desember.

Menteri Informasi Paul Morcos mengutip Aoun yang menyebut negosiasi awal “positif” dan menekankan “perlunya bahasa negosiasi — bukan bahasa perang — untuk menang”.

Lebanon dan Israel secara teknis telah berperang sejak 1948, dan Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam memperingatkan bahwa kontak diplomatik baru ini tidak mengarah pada diskusi perdamaian yang lebih luas.

Amerika Serikat telah meningkatkan tekanan pada Lebanon untuk segera melucuti senjata Hizbullah, dan telah mendorong perundingan langsung antara kedua negara tetangga tersebut.

Diskusi Terbatas

Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa suasana perundingan tersebut “positif”, dan telah dicapai kesepakatan “untuk mengembangkan gagasan-gagasan guna mendorong potensi kerja sama ekonomi antara Israel dan Lebanon”.

Israel juga menegaskan bahwa “penting” bagi kelompok militan Lebanon, Hizbullah, untuk melucuti senjatanya terlepas dari kemajuan apa pun dalam kerja sama ekonomi, tambah kantor perdana menteri.

Salam mengatakan bahwa diskusi baru ini hanya terbatas pada implementasi penuh gencatan senjata tahun lalu.

“Kita belum memasuki perundingan damai,” ujarnya kepada para wartawan, termasuk AFP, pada hari Rabu.

Dia mengatakan perundingan tersebut hanya mengupayakan “penghentian permusuhan”, “pembebasan sandera Lebanon”, dan “penarikan penuh Israel” dari Lebanon.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis, sementara itu, mengatakan Prancis “menyambut baik penyelenggaraan diskusi ini” yang memungkinkan “semua pihak untuk berunding”.

“Kami berkomitmen penuh untuk memastikan bahwa mekanisme ini tetap menjadi kerangka kerja untuk mendorong de-eskalasi dan memungkinkan pemulihan stabilitas yang berkelanjutan di kawasan,” ujarnya.

Hingga saat ini, Israel dan Lebanon, yang tidak memiliki hubungan diplomatik formal, bersikeras membatasi partisipasi dalam mekanisme gencatan senjata hanya untuk perwira militer.

Kedutaan Besar AS di Beirut mengatakan utusan AS, Morgan Ortagus juga hadir.

Ortagus berada di Yerusalem sehari sebelumnya dan bertemu dengan Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar.(yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine