Kelemahan Manusia

EtIndonesia. Jika kamu benar-benar tulus tertarik pada orang lain, hanya dalam dua bulan kamu bisa mendapatkan lebih banyak teman dibandingkan seseorang yang dua tahun penuh hanya sibuk mengharapkan orang lain tertarik padanya.

Bayangkan saat kamu berjalan di jalanan, tiba-tiba seekor anjing yang tidak kamu kenal mendekat—mengibas ekor dengan penuh kegembiraan. Ketika kamu menepuknya, dia bahkan hampir meloncat karena terlalu senang, seolah-olah dia benar-benar menyukaimu.

Dan kamu tahu dengan pasti, dia tidak mengincar hartamu, tidak ingin pinjaman uang, dan tidak mau “menikah” denganmu. Dia hanya menunjukkan rasa suka—tanpa syarat.

Pernahkah kamu berpikir: anjing adalah satu-satunya hewan yang tidak perlu bekerja demi makanannya?

Ayam harus bertelur. Sapi harus memberi susu. Burung kakaktua harus bisa “bernyanyi”.  Namun anjing—cukup memberikan kesetiaan dan kasih sayang, dan itu sudah cukup untuk mendapatkan makanannya.

Pelajaran dari Seekor Anak Anjing

Waktu aku berusia lima tahun, ayah membelikan seekor anak anjing berwarna kuning bernama Tibi. Dia menjadikan masa kecilku luar biasa bahagia.

Setiap sore pukul setengah lima, dia duduk di lorong rumah, matanya menatap ke arah pintu. Begitu mendengar langkah kakiku, dia langsung berlari, menyalak riang, dan melompat seakan dunia ini milik kami berdua.

Tibi tentu saja tidak pernah membaca buku psikologi— tapi secara naluri dia tahu: Membuat orang tertarik padamu dimulai dari kamu yang terlebih dulu tulus tertarik pada mereka.

Itulah sebabnya, jika kamu benar-benar tulus peduli pada orang lain, hanya dalam dua bulan kamu bisa memiliki lebih banyak teman daripada orang yang dua tahun mencoba membuat orang lain peduli padanya.

Sayangnya, banyak sekali orang yang seumur hidupnya terjebak pada pola pikir yang salah:  selalu ingin orang lain tertarik pada dirinya, bukan sebaliknya.

“Saya” adalah Kata yang Paling Sering Muncul

Perusahaan telepon New York pernah melakukan survei menarik: kata apa yang paling sering diucapkan dalam percakapan telepon?

Hasilnya mengejutkan— dari 500 percakapan, kata “saya” muncul 3.950 kali.

Betapa kuatnya keinginan manusia untuk menjadikan dirinya pusat percakapan.

Rahasia Kesuksesan Pesulap Legendaris Waterson

Waterson, pesulap yang menaklukkan lebih dari 60 juta penonton selama 40 tahun kariernya, sebenarnya tidak pernah sekolah satu hari pun.  Dia belajar membaca dari papan tanda kereta api.

Ketika aku bertanya apa rahasia suksesnya, dia berkata:

  1. Dia bisa menunjukkan kepribadiannya dengan sangat kuat di panggung.
  2. Dia sangat paham sifat manusia: setiap orang ingin merasa dirinya penting dan diperhatikan.

Dia berkata: “Banyak pesulap melihat penonton dan berkata dalam hati: ‘Lihat mereka, mudah sekali ditipu.’ Tapi sebelum naik panggung, aku selalu berkata pada diriku sendiri: ‘Aku berterima kasih pada semua orang yang datang. Mereka memberiku hidup dan pekerjaanku. Karena itu aku harus memberikan yang terbaik untuk mereka.’”

Percaya atau tidak, itulah alasan ia menjadi pesulap paling dicintai sepanjang sejarah.

Harvard: Seorang Rektor yang Mau Duduk dan Mendengarkan

Dr. Charles Eliot, rektor Harvard yang terkenal itu, juga memiliki sifat yang sama—  dia tulus tertarik pada orang lain.

Suatu hari seorang mahasiswa bernama Cranton datang memohon pinjaman pendidikan.

Permohonannya disetujui, dan ketika Cranton hendak pergi, sang rektor berkata: “Punya waktu sebentar? Duduk dulu.”

Lalu Cranton mendengar hal yang sama sekali tidak dia sangka: “Aku dengar kamu memasak sendiri di kamar asrama?  Aku juga begitu waktu kuliah. Aku sering membuat bakso sapi ala Cina. Kamu pernah coba? Kalau dimasak pelan-pelan, itu makanan paling enak di dunia.”

Kemudian dia membahas cara memilih daging, cara memotong, cara menyimpan, bahkan apa yang harus dimakan agar tubuh kuat.

Siapa yang tidak akan menyukai orang seperti ini?

Kisah “Perangko Kecil” yang Mengubah Segalanya

Charles, seorang pegawai bank, ditugaskan mengumpulkan data rahasia tentang satu perusahaan. Dia hanya tahu ketua direkturnya yang memegang kunci informasi.

Dia datang, tapi ketua direktur itu menolak memberinya data.

Sebelum pergi, Charles mendengar sekretaris berkata: “Tidak ada perangko untuk hari ini.”

Ketua direktur menjawab :  “Ah, saya mengumpulkan perangko untuk anak saya.”

Keesokan harinya, Charles kembali—membawa sekotak perangko untuk anak bos.

Ketua direktur langsung berseri-seri:  “Wah! Bahkan calon anggota kongres pun tidak seantusias ini!”

Selama satu jam mereka membahas perangko. Tanpa diminta, ketua direktur memberikan seluruh data, laporan, dokumen, dan bahkan membantu menelpon orang lain untuk melengkapi informasi!

Charles pulang dengan membawa data lengkap.

Seperti kata pepatah wartawan:  “Ini baru namanya panen besar.”

Apa yang dia lakukan bukanlah trik baru. 

Dua ribu tahun sebelumnya, penyair Romawi Silas sudah berkata: “Jika kamu tertarik pada orang lain, di saat itulah mereka tertarik padamu.”

Jika kamu ingin orang lain menyukaimu, maka ingatlah satu prinsip emas dalam hidup: Tunjukkan ketertarikan yang tulus pada orang lain.

Itu adalah kunci dari semua hubungan.

Ingatlah Nama Orang Lain

Mengapa Mengingat Nama Orang Lain Begitu Penting?

Mengingat nama seseorang—dan mampu memanggilnya dengan mudah— adalah bentuk pujian paling halus dan paling efektif yang bisa diberikan kepada siapa pun.

Jim Farley tidak pernah mengenyam pendidikan menengah. Namun sebelum berusia 46 tahun, empat perguruan tinggi telah memberinya gelar kehormatan, dan dia menjadi Ketua Komite Nasional Partai Demokrat serta menjabat sebagai Kepala Dinas Pos Amerika Serikat.

Apa rahasia kesuksesannya?

Ternyata dia memiliki kemampuan luar biasa dalam mengingat nama orang.

Ketika aku mewawancarainya, aku bertanya: “Benarkah Anda bisa mengingat sepuluh ribu nama?”

Dia tersenyum dan menjawab: “Tidak, kamu salah. Aku bisa mengingat lima puluh ribu nama.”

Dia belajar kemampuan itu saat bekerja menjual gipsum.

Metodenya sangat sederhana:

  • setiap kali bertemu seseorang, dia menanyakan nama lengkapnya,
  • berapa anggota keluarganya,
  • apa pekerjaannya,
  • dan di mana dia tinggal.

Semua itu dia hafal dengan sungguh-sungguh. 

Satu tahun kemudian, dia masih bisa menepuk bahu orang itu dan bertanya: “Bagaimana istrimu? Anaknya sehat?”

Tak heran begitu banyak orang menjadi pendukungnya.

Seni “Memanggil Nama” yang Memenangkan Pemilu

Saat Roosevelt mencalonkan diri sebagai presiden, Farley setiap hari menulis ratusan surat kepada orang-orang yang dia kenal di negara bagian barat dan barat laut.

Lalu dia naik kereta, berkeliling 19 hari, menempuh lebih dari 12.000 mil. Di setiap kota, dia makan bersama kenalan-kenalannya, mendengarkan mereka, masuk ke dalam kehidupan mereka. Setelah itu, dia pindah ke kota berikutnya.

Hasilnya?

Roosevelt menang telak dan masuk ke Gedung Putih.

Farley kemudian berkata: “Mengingat nama orang lalu memanggilnya dengan cara yang hangat adalah pujian paling manis yang bisa diterima seseorang. Aku sejak lama sadar bahwa nama adalah hal yang paling berharga bagi setiap manusia.”

Itulah rahasia kenapa dia begitu disukai, sehingga akhirnya menjadi Kepala Dinas Pos.

Manusia Sangat Menghargai Namanya

Banyak orang berusaha—dengan segala cara—membuat nama mereka abadi. Dua ratus tahun lalu, orang kaya membayar penulis untuk membuat biografi mereka supaya nama mereka dikenang.

Kini, hampir semua gereja menggunakan kaca patri indah untuk mengabadikan nama para donatur.

Tidak diragukan lagi, seseorang akan selalu lebih peduli pada namanya sendiri, jauh lebih besar dibanding semua nama lain di dunia.

Carnegie dan “Nama Anak Kelinci”

Andrew Carnegie sudah memahami hal ini sejak kecil. 

Ketika dia menangkap satu induk kelinci tapi tidak punya makanan untuknya, dia menemukan ide cemerlang: “Siapa pun yang membawa makanan untuk kelinci ini,  akan aku jadikan nama kalian sebagai nama kelincinya.”

Anak-anak sekitar pun berbondong-bondong datang membawa makanan. Strategi itu sangat berhasil, dan Carnegie tidak pernah melupakannya.

Bertahun kemudian, saat Carnegie bersaing dengan George Pullman dalam bisnis kereta tidur, dia kembali menggunakan prinsip yang sama—menjunjung tinggi nama orang lain.

Dua Perusahaan Besar dan Satu Nama yang Menentukan Sejarah

Perusahaan Carnegie dan Pullman bersaing keras hingga membuat bisnis mereka sama-sama rugi.

Suatu malam di New York, mereka bertemu di hotel.

Carnegie berkata: “Sudahlah, Tuan Pullman, kalau kita terus bersaing begini, bukankah justru mempermalukan diri sendiri?”

Pullman bertanya apa maksudnya, dan Carnegie mengusulkan solusi besar: menggabungkan perusahaan.

Pullman mendengarkan dengan saksama namun masih ragu.

Sampai akhirnya dia bertanya: “Kalau digabung, perusahaan baru ini akan bernama apa?”

Tanpa ragu Carnegie menjawab: “Tentu saja: Pullman Palace Car Company.”

Wajah Pullman langsung berubah cerah: “Silakan ke kamar saya, kita bahas lebih lanjut.”

Dan malam itu, sejarah industri kereta Amerika berubah selamanya.

Jika Kita Tak Menghargai Nama Orang Lain, Siapa Akan Menghargai Nama Kita?

Jika suatu hari kamu melupakan semua nama orang, maka orang pun akan cepat melupakanmu.

Nama adalah suara paling manis, paling penting,  di seluruh dunia bagi seseorang.

Menjadi Pendengar yang Baik

Seseorang yang berbicara denganmu selalu lebih tertarik pada:

  • kebutuhannya sendiri,
  • masalahnya sendiri, dibandingkan kebutuhan dan masalahmu.

Baru-baru ini aku menghadiri sebuah acara bermain bridge. Seorang wanita pirang mendengar bahwa aku pernah lama tinggal di Eropa.

Saat istirahat, ia mendekat dan bertanya: “Pak Carnegie, ceritakan tentang Eropa dong. Pasti banyak tempat indah dan pemandangan menakjubkan di sana.”

Ketika kami duduk, fia mulai bercerita bahwa dia baru kembali dari Afrika bersama suaminya.

Aku berseru: “Wah, Afrika! Tempat itu sangat menarik. Aku selalu ingin pergi, tapi belum pernah kesampaian. Kamu pasti beruntung sekali! Bisa ceritakan padaku seperti apa di sana?”

Lalu 45 menit berlalu.

Dia tidak lagi bertanya apa pun tentang perjalananku. Dia tidak peduli tentang Eropa. Yang dia inginkan hanyalah seseorang yang benar-benar mendengarkan, seseorang yang membuatnya merasa penting.

Dan itu sudah cukup untuk membuatnya merasa puas.

Selesaikan Dengan Menjadi Pendengar yang Baik

Apakah perempuan itu istimewa? Tidak. Banyak orang sama seperti dia.

Saat perpisahan, dia berkata kepada tuan rumah bahwa aku adalah “orang paling menarik” dan  “teman bicara yang luar biasa menarik”.

Lucu, kan?

“Teman bicara paling menarik”?

Padahal aku hampir tidak berbicara apa-apa.

Bagaimana mungkin? Karena aku memang tidak tahu apa-apa tentang Afrika— sama seperti aku tidak tahu bagaimana membedah seekor penguin. Yang kulakukan hanyalah mendengarkan dengan sepenuh hati.

Aku benar-benar tertarik pada hal-hal yang tidak kuketahui. Dan ketulusan itu dapat dirasakan oleh lawan bicara. Itulah sebabnya ia begitu senang.

Mendengarkan dengan sungguh-sungguh adalah pujian paling tinggi yang bisa kita berikan kepada seseorang.

Dan hebatnya, kemampuan ini tidak membutuhkan gelar Harvard empat tahun.  Alasan banyak orang gagal menemukannya adalah karena “pujian tak langsung” seperti ini adalah obat yang tepat untuk salah satu kelemahan terbesar dalam diri manusia: keinginan untuk merasa penting.

Kisah Pengguna Telepon yang Mengamuk

Beberapa tahun lalu, Perusahaan Telepon New York menghadapi seorang pelanggan yang sangat marah. Dia menuduh biaya telepon terlalu mahal, seperti pemerasan. Dia mengancam akan mencabut teleponnya dan melaporkan perusahaan ke mana-mana.

Akhirnya perusahaan mengirim mediator terbaiknya untuk menemuinya.

Apa yang dilakukan mediator itu?

Dia hanya mendengarkan. Dia membiarkan pelanggan tersebut mencurahkan semua kekesalannya, sesekali berkata pelan: “Saya mengerti.”

Dia menunjukkan empati atas setiap keluhan yang disampaikan.

Mediator itu bercerita: “Dia berbicara tanpa henti. Aku mendengarkan sepenuhnya. Aku mendengarkan… selama tiga jam.”

Dia mengunjungi pelanggan tersebut empat kali. Setiap kali, dia hanya menunjukkan pemahaman dan kesabaran.

Pada kunjungan keempat, pelanggan itu berkata ingin membentuk  ‘Asosiasi Perlindungan Pengguna Telepon’.

Mediator langsung berkata :  “Ide yang hebat! Kalau asosiasi itu terbentuk, saya pasti bergabung.”

Pelanggan itu belum pernah bertemu pegawai perusahaan telepon yang berbicara dengannya dengan sikap sehangat itu.  Sedikit demi sedikit, dia menjadi lunak dan bersahabat.

Pada pertemuan keempat itulah masalah benar-benar diselesaikan:

  • Dia membayar semua tagihan tanpa keberatan.
  • Dia mencabut semua laporan yang sebelumnya dia layangkan.

Padahal, selama tiga pertemuan pertama, mediator bahkan tidak membahas inti masalahnya.

Semuanya berubah hanya karena satu hal: dia merasa dirinya penting dan dihargai.

Pelajaran Besarnya: Orang Lebih Tertarik pada Diri Mereka Sendiri

Pelanggan itu merasa bahwa dia sedang membela keadilan dan memperjuangkan hak publik. Namun sebenarnya, ia hanya membutuhkan rasa dihargai. Begitu perasaan itu terpenuhi, kemarahannya lenyap begitu saja.

Dan semua itu dimulai saat mediator mendengarkan—dengan tulus dan tanpa menghakimi.

Ingatlah satu kenyataan penting: Orang yang berbicara denganmu selalu lebih peduli pada dirinya sendiri  dibandingkan pada dirimu.

Mereka lebih tertarik pada:

  • kebutuhan mereka,
  • masalah mereka,
  • pengalaman mereka,
  • dan cerita mereka sendiri.

Jika kamu ingin disukai orang lain, jika kamu ingin diterima, dihormati, dan diingat— jadilah pendengar yang baik.

Dorong orang lain untuk berbicara tentang diri mereka.

Karena bagi kebanyakan manusia, tidak ada musik yang lebih indah dibandingkan suara dirinya sendiri.

Biarkan Orang Lain Tetap Menjaga Mukanya (Harga Diri)

Kamu mungkin sudah lupa siapa saja yang pernah kamu sakiti. Tetapi orang yang pernah kamu lukai tidak akan pernah melupakanmu. Ia tak akan ingat kebaikanmu—justru yang tersimpan kuat adalah rasa sakitnya.

Beberapa tahun lalu, General Electric menghadapi masalah besar: mereka harus menghapus jabatan Charles Steinmetz sebagai kepala divisi perhitungan. Dia adalah ahli listrik kelas dunia, tetapi sangat tidak cocok memimpin departemen tersebut.

Lantas apakah mereka bisa langsung mengeluarkan surat pemecatan?
Tidak bisa.

  • Perusahaan sangat membutuhkan keahliannya.
  • Ia juga seseorang yang sensitif dan mudah tersinggung.

Akhirnya GE menemukan solusi elegan:  mereka memberinya jabatan baru sebagai “Konsultan Teknik GE”.  Pekerjaan sehari-harinya tetap sama, tetapi jabatan formalnya diubah. Pada saat yang sama, mereka diam-diam menunjuk orang lain yang lebih cocok untuk memimpin departemen.

Hasilnya? Steinmetz sangat puas.

Mereka memberikan satu hal penting yang sering dilupakan banyak orang:

Mengapa Menjaga Muka Orang Lain Itu Penting?

Kita sering tidak sadar bahwa harga diri adalah bagian paling rapuh dalam diri manusia.
Banyak orang melukai hati orang lain hanya karena:

  • mempermalukan bawahan di depan umum,
  • membentak anak kecil,
  • mencari-cari kesalahan,
  • mengeluarkan ancaman kasar,
  • atau menyindir dengan kata-kata yang menusuk.

Semua itu dilakukan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain, tanpa memikirkan betapa berharganya martabat bagi setiap manusia.

Padahal, cukup dengan berhenti sejenak, berpikir satu–dua menit, lalu mengucapkan satu dua kalimat yang penuh pengertian— maka yang terjadi bisa sangat berbeda.

Contoh dari Sejarah: Sikap Besar Seorang Pemenang Perang

Pada tahun 1922, setelah berabad-abad permusuhan antara Turki dan Yunani, Turki akhirnya memutuskan untuk mengusir pasukan Yunani dari wilayahnya.

Mustafa Kemal (Atatürk) berpidato kepada pasukannya seperti Napoleon:“Terus maju! Tujuan kalian adalah Laut Mediterania!”

Pertempuran besar pun meletus—dan Turki keluar sebagai pemenang. Ketika dua jendera Yunani, Delikopis dan Dionis, datang ke markas Kemal untuk menyerahkan diri, para prajurit Turki berteriak menghina mereka.

Namun Kemal tidak menunjukkan sedikit pun kesombongan kemenangan.

Sebaliknya, dia mengulurkan tangan, mengajak mereka duduk: “Silakan duduk, Tuan-tuan. Kalian pasti kelelahan setelah perjalanan panjang.”

Setelah membicarakan detail penyerahan diri,  Kemal menenangkan kedua jenderal itu dengan mengatakan: “Dalam perang, selalu ada faktor kebetulan. Bahkan prajurit terbaik pun bisa mengalami kekalahan.”

Bayangkan: di tengah euforia kemenangan total, dia masih ingat satu prinsip penting:

Biarkan orang lain tetap menjaga martabatnya.

Kesimpulan

Siapa pun—teman, bawahan, rekan kerja, pasangan, atau bahkan lawan— mempunyai naluri yang sama: ingin merasa dihargai dan tidak dipermalukan.

Jika kita meruntuhkan harga diri seseorang, dia mungkin diam, tetapi luka itu tetap ada. Dan kepercayaan yang rusak jarang bisa kembali seperti semula.

Karena itu: Berikan orang lain jalan untuk tetap menjaga muka. Hormati perasaannya, jaga martabatnya, berikan ruang penghormatan. Itu bukan kelemahan—justru itulah kecerdasan sosial paling tinggi. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine