EtIndonesia. Ketika air bah tiba-tiba datang dan menghantam permukiman di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Andre Fernandez hanya punya waktu sepersekian detik untuk memilih: lari menyelamatkan diri atau mempertaruhkan nyawa demi keluarga.
Andre, yang saat itu berada di rumah, langsung berlari keluar menyelamatkan diri. Namun, melihat istri dan anaknya yang masih berusia 1 tahun terperangkap di dalam rumah, naluri seorang ayah mengalahkan rasa takut. Meskipun kakinya sudah terluka parah dan ia harus berjuang di tengah derasnya arus yang menjepit, Andre kembali lagi ke rumah.
Ia berhasil membawa istri dan anaknya keluar menuju tempat aman.
Kini, perjuangan itu menyisakan duka fisik: Andre berjalan hanya dengan bantuan kursi sebagai penopang. Sementara ia berupaya memulihkan diri, kedua orang tuanya masih dirawat di Rumah Sakit Lubuk Basung.
Misteri 300 Jiwa yang Hilang
Kisah Andre hanyalah satu fragmen dari tragedi yang jauh lebih besar. Pasca banjir bandang, parahnya kondisi Kabupaten Agam membuat jumlah korban jiwa terus meningkat. Hingga kini, telah ditemukan 130 jenazah.
Namun, jumlah itu dikhawatirkan jauh dari angka sebenarnya. Bupati Agam, Beni Warlis, menyebut bahwa diperkirakan masih ada sekitar 300-an warga yang hilang akibat bencana. Perkiraan mengerikan ini muncul karena ada satu perkampungan yang hampir semua rumahnya hanyut disapu banjir bandang dan longsor.
Kampung-kampung yang kini hampir lenyap termasuk Kayu Pasak (diperkirakan 200 rumah), Kampung Tanjung (100 rumah), dan Sebarang Ay (50 rumah).
“Kami yakin bahwa yang belum ditemukan lebih dari itu (74 orang yang dilaporkan hilang) Karena seperti saya sampaikan tadi kiri kanan jalannya itu hanyut dan semua itu rumahnya di sana sangat banyak sekali,” ujar Bupati Agam.
Jembatan Batang Kelapa dan Isolasi 5.000 Warga
Kabupaten Agam menjadi cerminan bagaimana bencana mampu memutus kehidupan. Saat ini, sebanyak 11 kecamatan terdampak. Yang paling mendesak, 10 jorong (mirip dusun atau RT/RW) masih terisolasi. Diperkirakan, 5.000 warga terperangkap di 10 titik isolasi tersebut. Titik-titik isolasi itu tersebar di Kecamatan Malalak (4 jorong), Tanjung Raya (3 titik), dan Palembayan (3 titik).
Untuk warga yang terisolasi, penyaluran bantuan diupayakan melalui udara (airdrop) yang diajukan ke Basarnas dan provinsi. Namun, upaya ini terkendala cuaca.
Upaya pembukaan akses darat dilakukan dengan mengerahkan alat berat. Selain menyingkirkan longsor, tim berupaya membuat jembatan darurat menggunakan batang kelapa. Solusi darurat ini harus dilakukan agar akses segera terbuka, sehingga bantuan sembako dan pakaian dapat disalurkan ke 20 titik pengungsian yang menampung 15.307 jiwa.
Sumatera dan Luka Korporasi
Tragedi di Agam ini bukan peristiwa tunggal. Bencana ini adalah bagian dari rentetan malapetaka yang melanda Sumatera, yang secara total merenggut 174 korban jiwa [histori percakapan].
Bencana di Sumatera, termasuk di Tapanuli Selatan (Tapsel) yang sebelumnya juga diterjang banjir yang menghancurkan 140 rumah , diperburuk oleh kerusakan ekologis masif [histori percakapan]. Para pegiat lingkungan menduga bencana ini terjadi karena adanya deforestasi yang sangat masif, didorong oleh korporasi di tiga sektor utama: perkebunan (sawit), HTI, dan pertambangan [histori percakapan].
Iqbal Damanik dari Greenpeace bahkan menilai tragedi ini sebagai akumulasi kegagalan kebijakan dan buruknya pengawasan, mendesak setidaknya tiga menteri (Menteri ATR/BPN, Menteri ESDM, dan Hanif Faisal dari KLHK) untuk bertanggung jawab atas pembiaran yang terjadi [histori percakapan].
Di Agam, meski fokus utama adalah pencarian jenazah, tantangan logistik dan trauma mendalam menjadi pekerjaan rumah besar. Warga seperti Andre, yang kini harus tertatih dengan bantuan kursi, adalah simbol perjuangan fisik yang menghadapi konsekuensi dari kegagalan struktura.(wj)


