Dengan dorongan Amerika Serikat, pemerintah Israel dan Lebanon baru-baru ini mengadakan pertemuan tingkat tinggi untuk membahas kerja sama di bidang ekonomi dan lainnya. Ini adalah pertama kalinya sejak tahun 1993 kedua pemerintah secara terbuka mengadakan pembicaraan, sebuah langkah penting bagi perkembangan hubungan bertetangga yang lebih bersahabat.
EtIndonesia. Juru bicara pemerintah Israel pada Kamis (4 Desember) menyatakan bahwa pertemuan tingkat tinggi pertama antara Israel dan Lebanon telah mencapai kemajuan bersejarah, namun menegaskan bahwa apa pun bentuk dialog antara kedua negara, Hizbullah di Lebanon harus dilucuti senjatanya.
“Israel akan bersikeras untuk sepenuhnya melaksanakan perjanjian gencatan senjata dengan Lebanon, memastikan bahwa jalur suplai organisasi teroris itu benar-benar terputus. Mereka tidak boleh dipersenjatai kembali dan tidak boleh menimbulkan ancaman apapun terhadap Israel, warga negara kami, maupun pasukan keamanan kami,” ujar Juru bicara pemerintah Israel, Shosh Bedrosian.
Pada hari yang sama, militer Israel dalam sebuah pernyataan mengumumkan bahwa pasukan Israel telah memulai serangan udara terhadap target Hizbullah di Lebanon selatan.
Juru bicara pemerintah Israel mengonfirmasi bahwa pertemuan pada Rabu (3 Desember) berlangsung konstruktif, dan kedua pihak telah sepakat untuk melanjutkan konsultasi berikutnya.
Bedrosian mengatakan: “Suasana pertemuan sangat baik. Kedua pihak sepakat untuk merancang rencana guna mendorong kerja sama ekonomi antara Israel dan Lebanon. Ini merupakan kemajuan bersejarah.”
Pada Rabu, dengan mediasi Amerika Serikat, Israel dan Lebanon mengadakan pertemuan di kota perbatasan Naqoura. Pejabat AS menyatakan bahwa Washington berharap pertemuan ini dapat meredakan ketegangan antara kedua negara dan mencegah pecahnya kembali konflik Israel–Lebanon.
Sebelumnya, kedua pihak mengumumkan telah menunjuk anggota sipil untuk bergabung dalam komite yang sebelumnya hanya diikuti oleh pihak militer, bertugas mengawasi pelaksanaan perjanjian gencatan senjata yang dicapai setahun lalu melalui mediasi Amerika Serikat.
Selain Israel dan Lebanon, komite tersebut juga mencakup perwakilan dari Amerika Serikat, Prancis, dan Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL).
Sejak tahun 1948, Lebanon dan Israel terus berada dalam keadaan perang. Pertemuan kali ini menandai langkah penting dalam membuka dialog bilateral antara kedua negara. (Hui)
Laporan disusun oleh Zhao Fenghua, NTD Television


