Wabah penyakit di Tiongkok terus meningkat tajam. Berbagai jenis virus menyebar bersamaan, dengan pelajar menjadi kelompok berisiko tinggi. Banyak sekolah terpaksa diliburkan, rumah sakit penuh sesak, dan jumlah kematian melonjak tajam tanpa memandang usia. Situasi terparah terjadi di Beijing, di mana hampir seluruh taman kanak-kanak terdampak.
EtIndonesia. Pemerintah secara resmi mengumumkan bahwa secara nasional Tiongkok telah memasuki tingkat “epidemi flu A (influenza A) yang sangat tinggi”. Namun, masyarakat mempertanyakan klaim tersebut dan mencurigai bahwa sebenarnya terjadi wabah COVID-19, sementara pemerintah diduga menutupi kebenaran.
Seorang blogger daratan Tiongkok mengatakan: “Gelombang flu A kali ini benar-benar datang dengan sangat ganas, dan dari kondisi saat ini, dampaknya jauh lebih parah dari yang kita bayangkan.”
Menurut laporan media daratan, gelombang flu kali ini memiliki gejala awal yang mendadak dan perkembangan penyakit yang sangat cepat, dengan kondisi berat bisa memburuk dalam hitungan jam.
香港人真的怒了:世界越荒诞,你越要坚持。保持愤怒,也保持善良。 pic.twitter.com/3somTi83Tk
— 希望之聲 – 中國時局 (@SoundOfHope_SOH) December 4, 2025
Di Unit Perawatan Intensif Anak Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Zhengzhou, seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang hanya demam selama satu hari tiba-tiba mengalami kejang. Saat diperiksa di rumah sakit, sudah ditemukan kerusakan pada otaknya.
Saat ini, dari wilayah selatan hingga utara, termasuk Zhejiang, Hangzhou, dan Shandong, banyak sekolah menutup kelas-kelas karena munculnya klaster kasus flu.
Menurut laporan media Hong Kong, sejak pekan lalu wabah virus flu di Beijing berkembang sangat serius, dengan banyak taman kanak-kanak yang hampir “lumpuh total”.
Seorang orang tua di Beijing mengatakan: “Flu A di Beijing tahun ini agak parah. Di kelas anak saya ada 38 murid, dua hari lalu yang datang cuma 13 orang.”
🔥156條冤魂顯靈 香港大埔驚現史詩級異象… https://t.co/navgVoBKBm pic.twitter.com/5g3Y4p7cdW
— 中国揭秘 (@speedynews888) December 4, 2025
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Tiongkok dalam pengumuman terbarunya menyebutkan bahwa negara ini telah memasuki musim puncak penyakit infeksi saluran pernapasan, dengan tren wabah secara keseluruhan terus meningkat. Wabah flu berada pada tingkat penyebaran yang sangat tinggi. Selain subtipe influenza A H3N2, subtipe A H1N1 dan influenza tipe B juga beredar bersamaan.
Sejak akhir November, mulai dari Komisi Kesehatan Nasional, CDC Tiongkok, hingga pemerintah daerah dan dinas pendidikan provinsi, secara berturut-turut mengeluarkan peringatan darurat. Mereka mengimbau agar sekolah segera meliburkan kegiatan jika terjadi wabah flu, serta melarang siswa bersekolah dalam kondisi sakit.
Menurut laporan, rumah sakit di banyak provinsi saat ini penuh sesak. Di Zhejiang, jumlah pasien yang ditangani beberapa rumah sakit meningkat hingga tiga kali lipat per hari. Di sejumlah daerah bahkan beredar kabar adanya siswa dan guru yang meninggal akibat terinfeksi. Pelaku usaha jasa pemakaman di berbagai wilayah mengatakan kepada New Tang Dynasty bahwa sejak memasuki musim dingin, jumlah kematian meningkat drastis tanpa memandang usia.
Seorang pemilik perusahaan pemakaman di Beijing, bermarga Li, mengatakan: “Begitu masuk musim dingin, industri pemakaman langsung sibuk. Usia korban beragam, tahun ini yang paling muda ada yang masih beberapa tahun, ada juga belasan tahun.”
Seorang pemilik perusahaan pemakaman di Anhui, bermarga Yue, mengatakan: “Di rumah duka, orang meninggal itu sangat banyak. Dari sepuluh orang, sembilan meninggal karena sakit. Banyak yang karena stroke dan pendarahan otak. Penyakit tidak mengenal usia, kematian pun tidak mengenal usia. Ada yang dijemput dari rumah sakit untuk dikremasi, ada juga yang diambil dari rumah mereka. Sekarang kerja di pemakaman itu rasanya seperti jualan sayur di pasar, di mana-mana.”
Pada pertengahan November, seorang anak laki-laki berusia 3 tahun di Henan mengalami demam tinggi. Diagnosis awal rumah sakit menyebutkan “flu biasa”, namun sehari kemudian anak tersebut meninggal dunia. Catatan medis kemudian diperbarui menjadi infeksi “flu A”, dan pihak keluarga mempertanyakan adanya kesalahan diagnosis.
Banyak warga meragukan bahwa virus yang saat ini menyebar di Tiongkok hanyalah flu A. Mereka meyakini bahwa sesungguhnya COVID-19 masih mewabah, dan pemerintah serta rumah sakit bekerja sama menutupi fakta yang sebenarnya.
“Tingkat penularannya sangat cepat. Biasanya begitu terinfeksi, 50% hingga 70% anak-anak di satu taman kanak-kanak bisa tertular. Jadi penutupan sekolah adalah langkah yang masuk akal. Sekarang yang menjadi persoalan adalah apakah di daerah tertentu terjadi wabah EV71, atau apakah masalah ini ada di berbagai wilayah di seluruh negeri. Jika demikian, maka situasinya harus ditanggapi dengan sangat serius,” ujar Mantan Direktur Laboratorium Virus di Institut Riset Angkatan Darat AS, Dr. Lin Xiaoxu. (Hui)
Laporan oleh wartawan New Tang Dynasty Television, Tang Rui dan Xiong Bin.


