Sejak 4 Desember 2025, aksi perlawanan bersama-sama berskala besar pecah di Shenzhen Yilisheng Technology Co., Ltd. Sekitar 3.000 buruh garis depan melakukan mogok kerja massal, menentang kebijakan perusahaan yang memaksakan sistem kerja “5 hari 8 jam” tanpa lembur dalam jangka panjang. Kebijakan ini menyebabkan pendapatan buruh turun drastis hingga tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup. Aksi protes telah berlangsung dua hari dan menarik perhatian luas.
EtIndonesia. Video yang beredar di media sosial Tiongkok memperlihatkan bahwa pada 4 Desember 2025 pagi, ribuan buruh mengenakan seragam kerja biru berkumpul di sekitar gerbang pabrik Yilisheng untuk mogok kerja. Para buruh menghalangi truk pengangkut, sambil meneriakkan slogan seperti “Bayar ganti rugi!” dan “Bertahan!”.
Tuntutan buruh sangat jelas: memulihkan lembur normal demi menjamin pendapatan dasar, atau memberikan kompensasi yang sah sesuai masa kerja.
Selama aksi protes, terjadi bentrokan antara seorang buruh dan satpam pabrik. Ketika polisi mencoba menangkap buruh tersebut, mereka sempat dikepung oleh para buruh. Hingga 5 Desember pagi, aksi perlawanan masih berlanjut dan pihak berwenang mengerahkan banyak polisi antihuru-hara untuk menjaga stabilitas di lokasi.
Menurut informasi daring, pengumuman perusahaan pada 3 Desember menjadi pemicu langsung mogok besar ini. Dalam pengumuman tersebut disebutkan bahwa akibat melemahnya permintaan luar negeri, pesanan klien turun sekitar 20%, sehingga perusahaan memutuskan untuk tetap memberlakukan sistem kerja 5 hari 8 jam tanpa lembur dalam beberapa bulan ke depan.
12月5日,广东深圳,易力升科技员工的罢工维权仍在持续。 pic.twitter.com/I1vDZSKpxO
— ying tang (@yingtan04410735) December 6, 2025
12月5日,广东深圳,易力升科技员工的罢工维权仍在持续。當局派出大批特警在現場維穩。 pic.twitter.com/gdcRCtd4yt
— ying tang (@yingtan04410735) December 6, 2025
Sebagai kompensasi, perusahaan hanya menjanjikan tunjangan hidup sekali bayar sebesar 200–300 yuan bagi karyawan yang tidak mendapatkan lembur pada Desember.
Mengapa buruh menolak sistem “5 hari 8 jam”? Apakah buruh tidak ingin beristirahat? Tentu tidak. Menurut sejumlah buruh, sejak Oktober Yilisheng menghapus lembur, sehingga gaji bulanan karyawan kurang dari 2.000 yuan. Setelah dipotong iuran jaminan sosial dan dana perumahan, sisa gaji hanya sekitar 1.000 yuan, bahkan lebih rendah dari upah minimum Shenzhen sebesar 2.520 yuan.
12月5日,广东深圳,易力升科技员工的罢工维权仍在持续。 pic.twitter.com/3HHsDgkLTD
— ying tang (@yingtan04410735) December 6, 2025
12月5日,广东深圳,易力升科技员工的罢工维权仍在持续。 pic.twitter.com/fUnUtmSJkU
— ying tang (@yingtan04410735) December 6, 2025
“Di Shenzhen, dengan 2.000 yuan sebulan, menghidupi diri sendiri saja tidak cukup, apalagi keluarga,” ujar seorang buruh. Bagi mereka, upah lembur adalah kebutuhan pokok untuk bertahan hidup.
Para buruh meyakini, dalih “penurunan pesanan” sebenarnya karena perusahaan memindahkan pesanan ke pabrik di Vietnam. Penerapan jangka panjang sistem 5 hari 8 jam dinilai sebagai cara menekan buruh dengan upah rendah agar mengundurkan diri sendiri, sehingga perusahaan dapat menghindari pembayaran pesangon N+1 sesuai hukum.
12月5日,广东深圳,易力升科技员工的罢工维权仍在持续。 pic.twitter.com/m1YXuDZBgi
— ying tang (@yingtan04410735) December 6, 2025
Banyak buruh meluapkan kemarahan mereka secara daring, di antaranya: “Bukan tidak ada pesanan. Saya bekerja di pabrik ini. Kami punya pabrik di Jiangxi, Huizhou, dan Vietnam. Sekarang perusahaan diakuisisi perusahaan bernama Huayin. Mereka tidak ingin banyak karyawan, tapi juga tidak mau bayar pesangon. Produksi 8 jam sekarang bahkan lebih tinggi dari dulu 10 jam. Mereka mengulur waktu agar kami tak tahan dan pergi sendiri.”
“Bukan tidak ada kerja. Dulu 11 jam menghasilkan 2.000 lebih unit, sekarang 8 jam dipaksa 5.000 lebih unit—ini untuk memaksa orang pergi.”
“Mereka pakai sistem 5 hari 8 jam untuk menguras kami, supaya kami pergi sendiri tanpa dibayar.”
Di bawah tekanan mogok massal, pada 4 Desember sore, Yilisheng mengeluarkan pemberitahuan baru, menyatakan telah berdiskusi dengan ‘sebagian perwakilan karyawan’ dan berjanji menaikkan subsidi menjadi 400–500 yuan dalam beberapa bulan ke depan. Perusahaan juga berjanji sedikit menambah lembur di akhir pekan pada Desember dan Januari mendatang, namun secara keras mewajibkan karyawan kembali bekerja sebelum pukul 08.00 pada 5 Desember, jika tidak akan dianggap mangkir.
Usulan baru ini ditolak bulat oleh para buruh, yang menilai beberapa ratus yuan ibarat setetes air di lautan, serta tidak mempercayai janji lembur perusahaan.
Para buruh juga menegaskan bahwa “perwakilan karyawan” tidak dipilih oleh buruh, melainkan ditunjuk sepihak oleh perusahaan. Mereka tetap bersikukuh pada tuntutan awal: kembalikan lembur normal atau beri kompensasi sah sesuai masa kerja.
Aksi mogok 3.000 buruh Yilisheng memicu perhatian warganet. Banyak komentar bermunculan, antara lain:
“Beginilah upah asli orang biasa di Tiongkok. Klaim ekonomi nomor sekian di dunia itu ilusi.”
“Upah minimum dua ribuan, dasar iuran jaminan sosial tujuh ribuan—negara yang aneh.”
“Buruh hitungannya jelas: mau lembur = dapat tambahan 3.000 yuan; naikkan gaji pokok = PHK massal.”
“Itulah sebabnya mereka berani teriak ‘Saya mau lembur!’ tapi tak berani teriak ‘Saya mau gaji pokok naik!’ Ini bukan buruh bodoh, ini desain struktur gaji pabrik Tiongkok yang ‘jahat secara sempurna’.”
“Daratan akan kacau! Semua orang sebaiknya bersiap-siap.”
Peristiwa mogok ini juga mencerminkan dilema umum buruh manufaktur di Tiongkok: gaji pokok yang rendah membuat kelangsungan hidup sangat bergantung pada kerja lembur. Demi memperoleh penghasilan lebih tinggi, buruh terpaksa menerima jam kerja yang sangat panjang. (Hui)
Luo Tingting /Wen Hui


