Di Balik 3 Meter Air Bah Besitang : Kisah Janda-Janda Tangguh dan Perjuangan Melawan Isolasi

EtIndonesia. Bagi Mawaddah Hasibuan, seorang guru TK sekaligus janda di Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, malam itu adalah pertarungan melawan insting. Saat hujan deras turun, ia dan anaknya tidak tidur. Awalnya, ia berpikir air hanya akan datang setinggi mata kaki. Ia sempat mengira banjir tidak mungkin terjadi karena bukan air pasang, melainkan hanya hujan.

 Namun, sekitar jam 3 malam, air yang datang bukan air biasa. Ia terkejut melihat air dari sungai di belakang rumahnya telah mengalir deras.

“Ya Allah dosa apa yang kami buat ni ya Allah,” kenangnya sambil berdiri di pintu.

 Mawaddah menyaksikan horor yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya: batu-batu besar terangkat oleh kekuatan air, sesuatu yang tidak pernah terjadi di jalanan di belakang rumahnya. Dalam sekejap, barang-barang di rumahnya hancur semua.

Tiga Hari Terjebak di Tengah “Lautan”

 Banjir bandang yang melanda Besitang, menurut Lurah setempat, mulai terjadi pada hari Rabu. Ketinggian air yang mengejutkan mencapai tiga meter. Dampak bencana ini sangat luas, menjangkau seluruh kelurahan dengan estimasi 1000 hingga 1300 Kepala Keluarga (KK) terdampak.

Fokus awal tim penolong memang adalah menyelamatkan jiwa. Namun, kondisi segera memburuk. Hanya dalam waktu satu hari, semua komunikasi terputus dan bantuan terputus.

Kondisi isolasi ini memaksa pemangku jabatan mengambil risiko yang luar biasa. Pak Lurah Besitang harus mempertaruhkan nyawanya untuk menembus isolasi. Ia harus “mengkorbankan… korban jiwa saya” demi menjemput bantuan.

Sungai yang meluap, dengan ketinggian 3 meter, berubah menjadi seperti lautan. Pak Lurah menyeberangi arus deras itu menggunakan perahu nelayan untuk mengambil sedikit bantuan dari Bupati Langkat yang menunggu di seberang, untuk dibawa ke para pengungsi di Masjid Raya.

Stagnasi Bantuan di Kota Kabupaten

 Perjuangan menjemput bantuan juga dirasakan oleh kelompok masyarakat. Pemuda Besitang yang telah mengumpulkan donasi, stagnan selama tiga hari di Stabat, kota kabupaten.

Mereka kesulitan menyalurkan akomodasi dan suplai makanan ke Besitang karena terhambat di jalan tol, di mana banjir masih tinggi. Jalan satu-satunya yang mereka temukan adalah mencari mobil tinggi, bahkan sampai harus menyewa mobil yang kondisinya “busuk” hingga tengah malam demi bisa mendistribusikan bantuan.

Mawaddah, sang guru TK, adalah gambaran ketabahan di tengah krisis. Ia yang kini menjanda dan tinggal bersama anaknya, menjadi bagian dari komunitas perempuan yang sangat kuat. Mawaddah menyebutkan, “Kami sini janda semua, Masya Allah, kuat tapi kuat semua perempuan kuat, kuat perempuan kuat apalagi guru”.

Meskipun semua barang hancur, mereka tetap kuat dan bersyukur. “Kami ada makan walaupun ikan asin, kami kuat ya insyaallah kuat pasti kuat insyaallah,” kata Mawaddah.

Lingkungan yang Terkoyak

Meskipun data di Besitang tidak secara eksplisit menyebutkan kayu gelondongan seperti yang terjadi di Garoga, Tapanuli Selatan , amukan air bah di Sumatera Utara ini merupakan cerminan dari “kebijakan pemerintah yang gagal” dan deforestasi yang sangat masif, seperti yang ditekankan oleh Iqbal Damanik dari Greenpeace [histori percakapan].

 Di Besitang, air mampu mengangkat batu besar, menunjukkan kekuatan ekstrem yang dilepaskan oleh alam yang ekologinya telah rusak. Sementara di Tapanuli Selatan, banjir yang sama telah menghancurkan 140 rumah dan menewaskan puluhan orang, didorong oleh ribuan batang kayu hutan dengan bekas gergaji mesin.

Bagi Damanik, tragedi ini, yang merenggut ratusan ini jiwa di Sumatera, adalah akibat akumulasi kegagalan pengawasan tiga menteri—Menteri ATR/BPN, Menteri ESDM, dan Hanif Faisal dari KLHK—yang dianggap melakukan pembiaran terhadap korporasi yang merusak kawasan hutan untuk sawit, HTI, dan pertambangaN.

Peristiwa di Besitang, di mana Mawaddah dan Pak Lurah harus berjuang menembus lautan 3 meter, adalah babak baru dalam drama bencana Sumatera, di mana ketabahan warga harus menambal lubang besar yang ditinggalkan oleh kegagalan kebijakan. (yud)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine