Berjalan kaki adalah olahraga aerobik yang paling sederhana dan paling umum, serta memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Namun, tak sedikit orang beranggapan bahwa berjalan kaki kurang efektif. Seseorang juga harus melakukan latihan beban agar benar-benar bermanfaat. Menanggapi hal ini, pakar nutrisi dan kedokteran fungsional asal Taiwan, Liu Boren, membagikan kisah ayahnya yang wafat pada usia 96 tahun. Sepanjang hidupnya, sang ayah tidak pernah melakukan latihan beban, tetapi setiap hari selalu berjalan kaki—sebuah ritme paling sederhana, sekaligus yang paling mendukung umur panjang
EtIndonesia. Pada 1 Desember 2025, pakar nutrisi dan kedokteran fungsional asal Taiwan Liu Boren menulis di Facebook bahwa dalam praktik kliniknya minggu lalu, ada pasien yang bertanya kepadanya: ia berjalan kaki 6.000 langkah setiap hari, tetapi kini semua orang melakukan latihan beban. Apakah ia juga harus mengikutinya? Jika tidak, apakah itu berarti ia “kalah”?
Pertanyaan ini mengingatkannya pada kehidupan sang ayah: tidak ada gym, tidak ada barbel, tidak ada pelatih. Olahraga hariannya hanyalah berjalan kaki, dilakukan hari demi hari, perlahan tanpa tergesa-gesa, hingga mencapai usia 96 tahun. Sebagai seorang dokter, baru kemudian ia memahami bahwa langkah kaki harian itulah investasi kesehatan paling stabil yang diberikan ayahnya untuk dirinya sendiri.
Liu Boren menjelaskan bahwa berjalan kaki adalah “tombol pengaktif seluruh tubuh” yang paling tua dan paling praktis bagi manusia. Saat berjalan, yang aktif bukan hanya kaki, tetapi juga sistem saraf yang mulai berkoordinasi, elastisitas pembuluh darah terbangun, bagian otak seperti korteks prefrontal dan hipokampus terstimulasi, sirkulasi darah membaik, penanda peradangan menurun, hormon stres perlahan turun, dan emosi pun menjadi lebih tenang.
Menurut Liu Boren, mekanisme inilah yang menjadi kekuatan dasar yang memungkinkan ayahnya menjalani hidup hingga 96 tahun dengan stabil. “Kita sering mengira bahwa kesehatan harus dicapai dengan cara yang keras dan berintensitas tinggi, padahal sebenarnya berjalan kaki secara teratur adalah ritme paling sederhana, sekaligus paling mendukung umur panjang.”
Lalu, apakah latihan beban tetap diperlukan? Liu Boren mengatakan, jika memiliki waktu dan kemampuan, tentu saja itu baik. Latihan kekuatan dapat mempertahankan massa otot, melindungi sendi, dan menjaga metabolisme, yang sangat penting untuk masa depan.
Namun, ia sering menasehati pasiennya: “Jika tidak punya waktu atau merasa terlalu tertekan, tidak perlu memaksakan diri. Selama bisa berjalan kaki secara konsisten, itu sudah merupakan awal dan fondasi yang sangat baik. Tidak semua gaya hidup bisa ‘memasukkan’ latihan beban, tetapi hampir setiap orang bisa ‘memasukkan’ berjalan kaki.”
Liu Boren menekankan bahwa mengejar kesehatan bukanlah mengikuti tren, melainkan mampu berjalan jauh dan hidup dengan baik. Sepuluh tahun terakhir kehidupan ayahnya mengalir seperti sungai kecil yang tenang. Dampak berjalan kaki bagi sang ayah adalah kestabilan, sirkulasi yang baik, kelancaran energi dan darah, serta daya tahan.
Ia mengingatkan di akhir: bila bisa latihan beban, itu nilai tambah; bila bisa berjalan kaki, itu pondasi; dan bila bisa melakukannya secara konsisten, itulah resep umur panjang yang paling kuat. Berjalan kaki adalah ritme dialog antara tubuh dan kehidupan.
Sebenarnya, berjalan kaki merupakan olahraga berintensitas rendah dan berdampak kecil, cocok untuk semua kelompok usia—terutama lansia, orang dengan berat badan berlebih, penderita penyakit kronis, serta pemula dalam olahraga.
Ribuan tahun lalu, berjalan kaki sudah disebut oleh Hippokrates, bapak kedokteran, sebagai “obat terbaik bagi manusia”. Dalam era modern, banyak penelitian telah membuktikan bahwa program berjalan kaki secara teratur dapat meningkatkan kesehatan seluruh bagian tubuh.
Dokter keluarga asal Taiwan, An Xinyu, pernah mengutip sebuah survei yang menemukan bahwa penduduk di lima wilayah paling panjang umur di dunia semuanya memiliki kebiasaan “banyak berjalan kaki”. Ia juga menyebutkan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus menekankan pentingnya menghindari duduk terlalu lama, karena hal ini telah terbukti berkaitan dengan berbagai penyakit kronis dan sindrom metabolik. WHO menganjurkan untuk bangun dan bergerak setiap 30 menit, yang secara signifikan dapat meningkatkan kesehatan.
Banyak orang menjadikan lari sebagai olahraga kebugaran jangka panjang. Namun sebenarnya, lari dan berjalan kaki adalah dua pola gerak yang sama sekali berbeda. Lari melibatkan gerakan melompat, di mana kedua kaki berada di udara secara bersamaan, sedangkan berjalan kaki memiliki pembagian beban yang lebih merata. Beban tekanan antara keduanya bisa berbeda lebih dari tiga kali lipat. Jika Anda khawatir lari akan memberi beban berlebihan pada sendi, maka berjalan kaki adalah pilihan terbaik.
Beberapa tahun lalu, jurnal internasional Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology menerbitkan studi perbandingan antara berjalan kaki dan lari. Hasilnya menunjukkan bahwa ketika berjalan kaki dan lari menghabiskan energi yang sama, berjalan kaki lebih efektif daripada lari dalam menurunkan risiko tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


