Kisah Inspiratif: Penderitaan Itu Harta, atau Justru Sebuah Aib?

EtIndonesia. Dalam sebuah pertemuan, beberapa pengusaha besar dan selebritas yang dianggap sukses sedang bercengkerama. Di antara mereka hadir pula seorang pedagang mobil terkenal, John Ayton.

Ayton sambil berbincang dengan temannya — yang kelak menjadi Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill — mengenang masa lalunya. Dia bercerita bahwa dia lahir di sebuah kota terpencil. Kedua orangtuanya meninggal ketika dia masih kecil, dan kakak perempuannya yang bekerja mencuci pakaian serta mengerjakan pekerjaan rumah orang lainlah yang menafkahinya hingga dewasa. Namun setelah sang kakak menikah, suaminya tidak mau menanggung Ayton dan mengusirnya ke rumah paman. Di sana, bibinya memperlakukannya dengan sangat keras: ketika dia bersekolah, dia hanya diizinkan makan sekali sehari, dan tetap harus membersihkan kandang kuda serta memotong rumput halaman.

Saat mulai bekerja sebagai karyawan magang, dia bahkan tidak mampu menyewa kamar. Hampir setahun penuh dia tidur diam-diam di sebuah gudang tua kosong di pinggir kota…

Churchill terkejut dan bertanya: “Kenapa sebelumnya aku tak pernah mendengar cerita seperti ini?”

Ayton tertawa kecil:  “Untuk apa diceritakan? Orang yang sedang menderita, atau sedang berusaha keluar dari penderitaan, tidak punya hak untuk mengeluh.”

Pedagang mobil yang pernah tersungkur begitu lama dalam hidupnya itu melanjutkan:  “Penderitaan hanya bisa berubah menjadi kekayaan bila ada satu syarat: kamu berhasil menaklukkan penderitaan itu dan menjauh darinya. Hanya pada saat itulah penderitaan menjadi harta berharga yang layak kamu banggakan.”

“Ketika orang lain mendengar ceritamu setelah kamu keluar dari masa gelap itu, mereka tak akan menganggapmu sedang meratap. Mereka justru melihat keteguhanmu, dan menghormatimu. Tapi kalau kamu masih berada di dalam penderitaan, atau belum benar-benar lepas darinya… apa yang bisa kamu katakan? Di telinga orang lain, itu tak lebih dari sebuah permintaan belas kasihan — bahkan seperti mengemis simpati.”

“Dalam kondisi itu, bisakah kamu bilang bahwa kamu ‘menikmati penderitaan’, atau bahwa penderitaan itu ‘membentuk karakter bajamu’? Tidak. Orang lain hanya akan menganggapmu sedang mencari pelarian, membohongi diri dengan kemenangan semu.”

Kata-kata Ayton membuat Churchill meninjau ulang keyakinannya tentang “mencintai penderitaan”. Dalam autobiografinya, Churchill kemudian menulis:

“Penderitaan itu harta atau penghinaan? Bila kamu menaklukkan penderitaan, dia menjadi harta kekayaanmu. Tetapi bila penderitaanlah yang menaklukkanmu — maka dia berubah menjadi penghinaanmu.” (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine