EtIndonesia. Ketinggian banjir di beberapa titik Aceh mencapai 3,5 meter. Evakuasi dramatis memperlihatkan warga berebut naik perahu. Bagi para penyintas, yang tersisa hanyalah secarik harapan untuk besok hari.
Pada Rabu (26/11/2025) itu, air datang bukan sekadar menggenang, melainkan menelan habis. Di posko pengungsian di Aceh Tamiang, para korban menceritakan bagaimana bencana mengubah segalanya dalam hitungan jam. Sebagian besar dari mereka bergerak ke tempat aman setelah air terus naik.
Tersisa Sehelai Pakaian
Don't look away!
— Volcaholic 🌋 (@volcaholic1) December 2, 2025
This is the aftermath of the catastrophic flooding in Aceh Tamiang Regency, Sumatra in Indonesia 🇮🇩
At least 744 dead, 551 missing, 1.1 million displaced across 50 districts and the animals, no figures available 😭pic.twitter.com/dom4HRyO8o
Bagi seorang penyintas, Rabu menjadi hari ketika air bah benar-benar merenggut segalanya. Di rumahnya, ketinggian air mencapai sekitar 3,5 meter. Atap rumah bahkan sudah tidak terlihat lagi.
Kepanikan menyergap. Mereka tidak sempat menyelamatkan barang-barang. “Tidak sempat ngambil-ngambil barang, baju di badan, baju di badan kami ini,” ujar seorang ibu, menggambarkan betapa mendadaknya musibah itu. Pakaian yang mereka kenakan saat ini adalah pemberian orang lain.
Kesadaran akan kehilangan total adalah realita pahit yang harus mereka hadapi. Mereka yakin, jika pulang kelak, tidak akan ada lagi apa-apa di dalam rumah. “Hancur semua yang ada di dalam. Pokoknya kalau pulang kami apappun pun enggak ada lagi,” tuturnya, menyiratkan kehancuran total materiil.
Isi rumah sudah tidak dipedulikan, yang terpenting saat ini adalah bekal untuk hidup ke depan, seperti perlengkapan untuk memasak dan mencuci.
❗️Update kondisi terkini❗️
— Humanies Project (@humaniesproject) December 9, 2025
“Potret Tamiang saat ini: Pemukiman mengalami kerusakan sangat berat, banyak keluarga harus meninggalkan rumah mereka. Upaya penanganan dan distribusi bantuan terus berjalan.”
📌 Kab Aceh Tamiang pic.twitter.com/C7QlvvleIH
Meski kehilangan begitu besar, semangat bersyukur tetap menaungi. Mereka berterima kasih atas bantuan yang berdatangan, baik nasi, maupun bahan bubuk yang dimasak untuk mereka. Mereka juga bersyukur ketika pakaian basah mereka akhirnya kering. “Besok kering Alhamdulillah dua hari ini Bu panas ya kan nah bisa kerik pakai lagi Alhamdulillah,” kata mereka, menemukan keajaiban kecil dalam sengatan matahari.
Evakuasi di Atas Masjid
Tim evakuasi menghadapi pemandangan memilukan, terutama di Kampung Pipa. Sebagian warga ditemukan dalam posisi tertekan, menunggu bantuan sambil jongkok di atas masjid.
Ketika tim evakuasi tiba di lokasi, warga berebut untuk naik ke perahu (bot). Karena keterbatasan perahu, tim harus menerapkan skala prioritas. “Kami prioritaskan dulu yang pertama ibu-ibu sama anak-anak dulu,” jelas anggota tim evakuasi.
Kondisi terparah dialami sejumlah warga yang ditemukan di ladang rambung. Mereka tertahan di sana selama dua hari dan persediaan bahan makanan mereka sudah habis semua. Keadaan ini begitu menyentuh, bahkan anggota tim evakuasi mengaku sempat menangis menyaksikan kondisi tersebut.
Akses menuju ujung kampung menjadi rintangan lain. Air masih sangat deras bercampur lumpur, dan rumah-rumah telah terangkat ke arah sungai. Lalu lintas perahu pun sangat sulit dilalui.
Mimpi Sekolah dan Main Karet
Bencana ini juga merenggut hak anak-anak untuk belajar. Seorang anak perempuan kelas 3 SD mengaku sudah empat hari tidak sekolah. Ia menyampaikan kerinduan yang mendalam: “Mau sekolah ya, pengin sekolah ya,” ujarnya.
Namun, posko pengungsian juga menjadi tempat lahirnya komunitas baru. Anak-anak yang kehilangan rumah menemukan banyak teman baru. Mereka bermain bersama di siang hari. Permainan sederhana seperti lempar selok, main jaga, dan main karet menjadi hiburan di tengah puing-puing trauma.
Dalam keterbatasan itu, harapan tetap menyala terang. Para penyintas percaya bahwa di balik musibah ini, pasti ada hikmat yang luar biasa yang disiapkan Allah untuk mereka. Mereka bersyukur karena masih diberi rezeki dan selamat dari maut.
Ketabahan para pengungsi Aceh—yang nyaris tidak memiliki apa-apa selain pakaian yang melekat di tubuh—mengajarkan bahwa pada akhirnya, yang paling berharga dalam hidup bukanlah isi rumah yang tenggelam, melainkan keselamatan diri dan janji matahari yang akan mengeringkan pakaian mereka di hari esok. Mereka telah menyelamatkan nyawa mereka dan anak-anak mereka.
Hingga 9 Desember 2025, Aceh mencatatkan 391 korban meninggal dunia dan 31 hilang dengan 831.124 pengungsi. Kabupaten dengan angka tertinggi korban meninggal dunia di Aceh Utara dengan 138 jiwa, kemudian Aceh Tamiang 58 jiwa dan Aceh Timur 48 jiwa. (WJ)


