EtIndonesia. Musim panas yang terik. Di bawah sengatan matahari, sekelompok pekerja sedang sibuk memperbaiki jalan raya yang rusak. Asap panas mengepul dari permukaan aspal. Di tengah kesibukan itu, sebuah mobil BMW model terbaru berhenti di pinggir jalan. Jendela mobil turun, lalu terdengar suara hangat memanggil: “Hey, Paul, itu kamu?”
Salah satu pekerja menoleh dan dengan senyum lebar menjawab: “Iya, David! Senang sekali ketemu kamu di sini!”
David turun dari mobil ber-AC itu. Dia dan Paul berbincang dengan riang. Mereka tertawa, bertukar cerita, dan lama kemudian barulah saling berjabat tangan sebelum berpisah.
Begitu BMW itu melaju menjauh, para pekerja langsung mengelilingi Paul dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Mereka sulit percaya bahwa Paul ternyata mengenal David, presiden direktur perusahaan itu.
Paul mengangkat bahunya dan berkata: “Dua puluh tahun lalu, aku dan David bekerja di jalan yang sama, seperti kalian sekarang.”
Seseorang bercanda: “Kalau begitu kenapa dua puluh tahun kemudian kamu masih bekerja di bawah terik matahari, sementara David sudah jadi bos besar?”
Paul memandang jauh ke arah jalan raya, lalu berkata perlahan: “Dua puluh tahun lalu, aku bekerja demi upah 2 dolar per jam… sedangkan David, saat itu sudah bekerja demi seluruh proyek jalan raya ini.”
Mendengar itu, semua orang terdiam.
Ahli sukses Amerika, Anthony Robbins, pernah berkata: “Jika kamu seorang tenaga penjual, mana yang lebih mudah: menghasilkan 10.000 dolar, atau 100.000 dolar?
Jawabannya: 100.000 dolar lebih mudah! Kenapa?
Karena bila targetmu hanya 10.000 dolar, itu cuma untuk bertahan hidup. Kalau alasan kerjamu hanya sekadar mencari nafkah, apakah kamu akan merasa bersemangat? Apakah kamu akan bekerja dengan penuh gairah? Jawabannya jelas: tidak.”
Menghasilkan seratus ribu lebih mudah daripada sepuluh ribu — itulah kekuatan sebuah mimpi. Itulah nilai dari tujuan yang besar.(jhn/yn)


