EtIndonesia. Asia Tenggara kembali diguncang perang. Setelah sempat mereda pada Juli 2025 lewat perjanjian gencatan senjata yang dimediasi Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, konflik Thailand–Kamboja kembali meledak — kali ini jauh lebih brutal dan berpotensi memicu ketidakstabilan regional.
Api Perang Kembali Menyala: Ledakan dan Serangan Udara Mengguncang Perbatasan
Pada 8 Desember, pukul 03: 00 waktu setempat, baku tembak pecah di berbagai titik perbatasan. Meski pertempuran berlangsung hanya dua hari, imbasnya luar biasa: lebih dari 500.000 warga sipil mengungsi, menjadikan konflik ini salah satu yang paling berat dalam sejarah kedua negara.
Kedua pihak langsung mengerahkan kekuatan besar:
- Pesawat tempur F-16 Thailand melakukan lebih dari 20 sortie serangan udara.
- Kamboja membalas dengan roket BM-21, drone tempur, dan artileri.
- Di darat, tank, kendaraan lapis baja, dan meriam mulai dikerahkan.
Suara ledakan dan asap pekat menyelimuti perbatasan Thailand–Kamboja sejak pagi 8 Desember, mengingatkan dunia akan rapuhnya perdamaian di kawasan tersebut.
Saling Tuduh: Siapa yang Menyalakan Api Perang?
Versi Thailand:
- Pukul 03.00 dini hari, 8 Desember, Kamboja disebut menembakkan senjata ringan, roket, dan drone ke pos-pos Thailand.
- Seorang tentara Thailand tewas, tujuh lainnya terluka.
Versi Kamboja:
- Thailand diduga memulai perang lewat serangan udara.
- Empat warga sipil Kamboja tewas dan sembilan terluka akibat bom F-16.
Kedua pihak merilis video sebagai “bukti” masing-masing — membuat dunia luar semakin sulit mengetahui siapa pemicu sebenarnya.
Rekaman yang Menegangkan: Roket, Bom, dan Warga Berlarian
Video Kamboja menunjukkan:
- Peluncur roket BM-21 menyalakan salvo ke arah Thailand.
- Ledakan besar di wilayah Thailand, meski akurasinya tidak dapat dipastikan.
Video yang dirilis Thailand memperlihatkan:
- Rumah-rumah di Kamboja dihantam bom, asap hitam membubung, kawanan burung tercerai-berai.
- Warga sipil berlari panik menghindari serangan udara F-16.
Perang informasi berjalan berdampingan dengan perang senjata.
Akar Masalah: Sengketa Kuno yang Tak Pernah Usai
Sumber konflik kembali bermuara pada:
Kuil Preah Vihear dan sengketa lahan 4,6 km²
- Pada 1962, Mahkamah Internasional (ICJ) memutuskan kuil berada di wilayah Kamboja.
- Namun garis batas tanah di sekitarnya tidak ditentukan secara jelas.
- Celah hukum inilah yang menjadi “bom waktu” geopolitik selama puluhan tahun.
Tahun 2025 saja, konflik ini sudah pecah dua kali.
Gencatan Senjata Juli Gagal Total
Pada Juli 2025, Trump dan Anwar Ibrahim menengahi kesepakatan:
- Kedua pihak setuju menarik pasukan.
- Sengketa diserahkan ke ICJ.
Namun sebelum ada keputusan, situasi kembali memanas:
- Thailand menuduh Kamboja memasang ranjau dan menahan 18 tentaranya.
- Kamboja menuduh Thailand menolak investigasi independen.
Hubungan kedua negara kembali memburuk dengan cepat.
Perang Warisan Budaya: Tuduh-Menuduh Soal Kerusakan Situs Suci
Kementerian Kebudayaan Kamboja merilis video yang menuduh Thailand:
- Merusak situs suci Ta Krabei, bagian dari warisan budaya Khmer.
Thailand menjawab dengan menunjukkan foto Ta Krabei (versi Thailand):
- Kondisinya hancur, diduga akibat serangan Kamboja.
- “Kalau begitu, apakah kerusakan ini bukan penghancuran warisan budaya kalian?” balas Thailand.
Sengketa sejarah berubah menjadi perang simbol peradaban.
Serangan Kasino dan Tuduhan Pelanggaran Hukum Perang
Kamboja menuduh Thailand mengebom kasino besar—fasilitas sipil—yang dianggap pelanggaran berat hukum internasional.
Thailand membalas:
- Kasino itu digunakan untuk meluncurkan drone dan menyimpan roket BM-21.
- Thailand juga menuduh Kamboja memasang alat pengacau sinyal drone di atap kasino lain.
“Masih bisa disebut fasilitas sipil?” ujar juru bicara Thailand.
Ketika bangunan sipil berubah fungsi menjadi sarang militer, batas antara target legal dan ilegal semakin kabur.
Video Kontroversial: Warga Sipil Dirumorkan Dipaksa Merakit Amunisi
Sebuah video yang menunjukkan perempuan dan anak-anak Kamboja merakit mortir memicu kecaman internasional.
Belum ada verifikasi independen, namun gambarnya menyulut kemarahan dan memperburuk citra Kamboja di mata dunia.
Eskalasi di Darat: Tank, Meriam, dan Kendaraan Lapis Baja Dikerahkan
Pertempuran meluas ke:
- Chong Anma
- Ta Krabei
- Sanlong
- Preah Vihear
Peralatan tempur yang terlihat:
Di pihak Thailand:
- Tank ringan 105 mm buatan AS tahun 1980-an
- Kendaraan lapis baja M113 menerobos desa Preah Vihear
- Drone pengintai dan drone FPV skala kecil
Di pihak Kamboja:
- Howitzer PL-96 buatan Tiongkok
- Roket BM-21
- Serangan artileri jarak jauh
Sebuah momen menarik terjadi pada 8 Desember:
Seorang prajurit Thailand dari Batalion Infanteri 142 berhasil menembak jatuh drone Kamboja hanya dengan senapan standar — gambaran bahwa kedua negara masih dalam tahap awal adopsi teknologi perang modern.
Ke Mana Arah Konflik Ini?
Banyak analis regional menilai:
- Thailand memiliki keunggulan persenjataan dan kapabilitas tempur.
- Operasi militer ini dilihat sebagai upaya Thailand untuk “menyelesaikan pekerjaan yang tertunda” sejak Juli: menduduki wilayah sengketa dan menggeser posisi strategis Kamboja.
Dalam jangka pendek, konflik ini masih bersifat lokal.
Namun jika:
- ASEAN gagal meredakan situasi, atau
- kekuatan luar seperti Tiongkok atau Vietnam ikut campur,
maka perang ini dapat berkembang menjadi konflik besar yang mengubah peta politik Asia Tenggara.
Situasi mulai memasuki titik kritis.
Pernyataan Mengejutkan dari Bangkok
Pada Selasa, 9 Desember 2025, militer Thailand menyampaikan secara terbuka: “Kami telah kehilangan kesabaran. Jika perang besar tidak dapat dihindari, kami siap menghadapinya.”
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa eskalasi masih jauh dari selesai.


