EtIndonesia. Kawasan Asia Tenggara kembali bergolak. Pada 8 Desember 2025, bentrokan bersenjata besar kembali pecah di perbatasan Thailand–Kamboja, menjadikan ekskalasi ini yang paling serius sejak konflik perbatasan era 2008–2011.
Serangan Udara Thailand: F-16 Lepaskan Bom Presisi
Menurut laporan resmi militer Thailand dan konfirmasi Kamboja, Angkatan Udara Thailand (RTAF) mengerahkan jet tempur F-16 Fighting Falcon untuk melakukan beberapa serangan udara terkoordinasi. Jet-jet tersebut menjatuhkan bom presisi seberat 82 kg ke sejumlah titik strategis di wilayah Kamboja, termasuk:
- Provinsi Banteay Meanchey
- Provinsi Oddar Meanchey
- Kompleks kasino di wilayah perbatasan, yang dituduh menjadi basis logistik milisi Kamboja
- Posisi artileri Kamboja yang sebelumnya melancarkan tembakan lintas batas
Serangan ini berlangsung selama beberapa jam dan disertai operasi serangan darat oleh Tentara Kerajaan Thailand (RTA) yang menargetkan posisi artileri serta titik pertahanan Kamboja di garis depan.
Respons Kamboja: Konfirmasi Serangan, Seruan Menahan Diri
Pemerintah Kamboja pada malam 8 Desember mengonfirmasi bahwa wilayahnya memang diserang oleh pesawat tempur Thailand.
Mantan Perdana Menteri sekaligus figur dominan politik Kamboja, Hun Sen, meminta pasukan Kamboja menahan diri dan menghindari langkah-langkah yang dapat memperluas perang. Meski demikian, dia menyebut bahwa Kamboja “akan mempertahankan kedaulatan jika serangan berlanjut.”
Situasi di lapangan menunjukkan ketegangan meningkat tajam, dengan kedua pihak memindahkan unit tambahan menuju garis perbatasan.
Akar Konflik: Dari Sengketa Wilayah ke Ledakan Baru 8 Desember
Konflik Thailand–Kamboja bukan peristiwa tiba-tiba. Ketegangan telah berlangsung berbulan-bulan dan meningkat secara bertahap. Kronologi faktualnya sebagai berikut:
• Juli 2025 — Bentrokan Besar Meletus
Pertempuran intens terjadi di wilayah sengketa dekat perbatasan Banteay Meanchey–Sa Kaeo. Thailand dilaporkan sempat mengibarkan bendera nasional di area yang sama-sama diklaim kedua negara.
• Intervensi Internasional — Trump Turun Tangan
Pada Agustus 2025, Presiden AS, Donald Trump melakukan mediasi cepat, menghasilkan perjanjian gencatan senjata yang meredakan situasi sementara.
• 10 November 2025 — Insiden Ranjau
Dua tentara Thailand terluka akibat ranjau darat di wilayah sengketa. Bangkok menuduh ranjau itu dipasang oleh pasukan Kamboja, meski Phnom Penh menolak tuduhan tersebut.
• Thailand Cabut Perjanjian Damai
Merespons insiden ranjau, Thailand menyatakan perjanjian gencatan senjata tidak lagi berlaku, membuka jalan menuju konfrontasi langsung.
• 8 Desember 2025 — Konflik Pecah Kembali
Serangan udara dan darat Thailand menjadi titik eskalasi besar pertama setelah Juli, memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas menjadi perang regional.
Dampak Langsung: 641 Sekolah Ditutup, Ribuan Warga Mengungsi
Akibat meningkatnya risiko serangan balasan, pemerintah Thailand menutup 641 sekolah di lima provinsi selatan:
- Sa Kaeo
- Surin
- Buriram
- Sisaket
- Ubon Ratchathani
Langkah ini menyusul laporan bahwa Kamboja meningkatkan penempatan artileri serta UAV pengintai di dekat area perbatasan.
Ribuan warga Thailand yang tinggal di zona merah telah mulai mengungsi, sementara pos medis darurat didirikan oleh pemerintah provinsi.
Pernyataan Panglima Angkatan Darat Thailand
Jenderal Songwit Noonpakdee, Panglima Angkatan Darat Thailand, memberikan pernyataan tegas pada malam 8 Desember: “Tujuan kami adalah menghancurkan kemampuan militer Kamboja agar mereka tidak dapat mengancam Thailand dalam jangka panjang.”
Pernyataan ini dianggap pengamat sebagai sinyal bahwa Thailand tidak hanya melakukan serangan balasan, tetapi juga mengincar keunggulan strategis jangka panjang.
Potensi Dampak Regional
Konflik ini memicu kekhawatiran serius di ASEAN, mengingat:
- Lokasi pertempuran berada dekat jalur perdagangan darat Thailand–Kamboja–Vietnam.
- Kedua negara adalah anggota penuh ASEAN, sehingga eskalasi dapat memengaruhi mekanisme keamanan regional.
- Kamboja memiliki hubungan strategis erat dengan Tiongkok, menambah dinamika geopolitik yang lebih luas.
- Thailand memiliki hubungan pertahanan dekat dengan AS.
Beberapa pengamat memperingatkan bahwa konflik perbatasan ini dapat menyeret kekuatan eksternal jika tidak segera ditangani.
Kesimpulan
Konflik Thailand–Kamboja kembali memasuki fase yang sangat berbahaya. Serangan udara menggunakan F-16 pada 8 Desember 2025 menandai titik eskalasi terbesar tahun ini, dengan kondisi di perbatasan makin tidak stabil.
ASEAN kini menghadapi tantangan besar: apakah dapat mencegah konflik dua anggotanya berkembang menjadi perang terbuka?


