EtIndonesia. Di masyarakat Tiongkok, ada sebuah kisah lama yang terkenal. Suatu hari, seorang pria masuk ke sebuah rumah makan. Dia memesan makanan dan arak. Setelah makan, dia merogoh sakunya dan baru sadar bahwa dia lupa membawa uang.
Maka dia berkata kepada pemilik rumah makan: “Bos, hari ini saya lupa membawa uang. Besok saya pasti datang membayarnya.”
Pemilik rumah makan tersenyum ramah dan berkata berulang kali: “Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” lalu dengan penuh hormat mengantarnya keluar.
Semua itu kebetulan dilihat oleh seorang pengacau. Dia pun masuk ke rumah makan, memesan makanan dan minuman, dan setelah kenyang dia juga meraba sakunya lalu berkata: “Bos, hari ini saya lupa membawa uang. Besok saya akan membayarnya.”
Siapa sangka, wajah pemilik rumah makan langsung berubah. Dia segera mencengkeram si pengacau dan bersikeras menanggalkan bajunya sebagai ganti pembayaran.
Si pengacau protes keras: “Kenapa orang tadi boleh berutang, tapi saya tidak boleh?!”
Pemilik rumah makan menjawab tegas: “Orang itu makan dengan sopan. Saat mengambil sumpit, dia mencari dengan tertib di atas meja. Minum pun dia menuang secawan demi secawan, penuh tata krama. Selesai makan, dia menggunakan sapu tangan untuk membersihkan mulut. Dari gerak-geriknya saja sudah tampak bahwa dia adalah orang yang berpendidikan dan berbudi — mana mungkin dia berniat menipu saya?
Sedangkan kamu? Sumpit kamu ambil sambil mencomot dari dada, makanmu lahap seperti serigala kelaparan. Ketika ketagihan minum, kaki naik ke bangku dan teko kau tenggak langsung ke mulut. Selesai makan, kau lap mulut dengan lengan baju. Jelas sekali kamu hidup sembarangan dan tidak punya etika makan. Orang seperti ini lebih mungkin kabur daripada membayar!”
Beberapa kalimat itu langsung membuat si pengacau terdiam. Tidak bisa membantah, dia pun meninggalkan bajunya sebagai ganti biaya makan dan pergi dengan wajah memerah.
Hikmah yang Bisa Kita Petik
1. Gerak tubuh mencerminkan karakter seseorang.
Sikap, gestur, dan cara kita membawa diri merupakan cerminan pendidikan batin dan budaya yang kita miliki. Orang yang berkarakter baik biasanya memiliki sikap yang rapi dan sopan. Sebaliknya, seseorang dengan karakter buruk sulit memalsukan kesan itu melalui perilaku.
2. Dalam pergaulan, jaga citra diri melalui sikap dan tindakan.
Cara kita duduk, makan, berbicara, atau berinteraksi adalah kaca yang membuat orang lain memahami seperti apa kita sebenarnya. Sikap adalah bahasa yang tak bisa berbohong.
3. Kita juga dapat memahami karakter orang lain dari gerak-geriknya.
Gestur, nada bicara, dan tatakrama seseorang bisa menjadi ukuran untuk menilai apakah ia jujur, dapat dipercaya, atau justru perlu diwaspadai. (jhn/yn)


